Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kau mengenalinya?


__ADS_3

"Apa kau bahagia?" tanya Ayaz.


"Entahlah!" Yaren menghembuskan napasnya berat, "Begitu banyak yang tidak aku ketahui, mengapa begini, mengapa begitu, nyatanya seperti ini, lalu ternyata seperti itu, entah aku yang mungkin terlalu lama hanya duduk diam di rumah saja hingga aku tidak tau, bahkan tidak menyadari apapun."


"Setidaknya, apa kau menerimanya?"


"Meski bagaimanapun, dia adalah keluargaku, tidak ada juga alasan untuk aku menyangkalnya, bahkan dia yang berhak marah padaku saja namun nyatanya dia tidak melakukannya."


"Jovan..." Ayaz mengedarkan pandangannya, "Dia... Aku yakin bisa menjagamu dengan baik nantinya."


"Nanti?"


"Yaren, aku punya banyak rahasia dalam hidupku, suatu hari nanti, aku berjanji akan memberitahumu, tapi tidak sekarang. Apa kau bisa menunggu sedikit lebih lama lagi? Aku berjanji, saat waktunya tiba, aku akan menceritakan semua tentang diriku, semuanya." ungkap Ayaz.


Yaren mematung, mengapa begitu? Mengapa Ayaz mengatakan itu padanya?


"Ayaz..." lirih Yaren.


"Ya?"


"Kau mengatakan itu, apa artinya... Kau sudah menerimaku?" tanya Yaren meragu.


Ayaz tersentak dengan apa yang Yaren tanyakan, namun dalam keheningan pria itu mengangguk jua. Ayaz mendekatkan wajahnya pada Yaren, semakin dekat mengikis jarak keduanya, mata mereka bertemu dan terlibat tatap, "Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya?" bisik Ayaz.


Yaren menegang, hembusan napas Ayaz saat berbisik di telinganya, sayang sekali harus membuat jantungnya semakin sulit dikondisikan.


"Cup!" bibir itu bertemu, Ayaz ******* lembut candunya, saat ini, dia menyadari...


Tidak akan aku lepaskan, apa yang sudah menjadi milikku, jika terjadi sesuatu padaku pun, maka sudah seharusnya kau harus menungguku Yaren...


...***...


"Hubungan ini terlalu bertepuk sebelah tangan." gumam Sam, pria itu menatap ruangan Rymi yang sudah terisi oleh orang lain, ia mengingat lagi pertemuan pertamanya dengan gadis itu, dan mulai tersenyum geli.


"Apa kau mau makan denganku? Apa kau punya waktu minggu ini? Kau sedang apa? Bagaimana harimu? Menyenangkan? Apa kau punya perasaan untukku? Aisshh, dari semua kata-kata itu, mengapa selalu aku yang memulainya?"


"Yaahh, memang sudah seharusnya begitu, sebagai pria yang gentle, memang sudah seharusnya aku yang perhatian padanya!" Sam memberengut kesal, "Dasar sialan, dia itu... Berpikir kalau dia yang paling berkesan, yaahhh lupakan, mulai saat ini lupakan saja soal wanita gila itu, untuk apa aku berada di sini, dasar Merve sialan!"


Sam mengalihkan pandangannya, dengan menggerutu gegas ia kembali ke ruangannya.


Tidak ada waktu untuk memikirkan wanita gila itu, tidak untuk saat ini, ataupun selamanya. Aarrrggghhh...


"Pak Rangga, seseorang ingin menemui anda!" ucap sekretaris Sam yang baru. .

__ADS_1


Rangga mendongak, menatap tidak suka pada sekretarisnya itu, tapi dia mencoba bersikap profesional.


"Siapa?" tanyanya.


"Pria itu mengatakan namanya Ayaz, resepsionis di bawah mengatakan pria itu masih menunggu."


"Suruh dia masuk!" pinta Sam langsung.


Ada apa Ayaz ingin menemuinya, apa ini menyangkut tentang Donulai? pikir Sam.


Ayaz memasuki ruangan Presdir DN Company itu, dengan wajah santainya pria itu bahkan langsung duduk di sofa tanpa canggung.


"Ada apa?" tanya Sam.


"Duduklah, ada sesuatu yang harus aku tanyakan padamu?" ucap Ayaz.


Sam meneliti wajah Ayaz yang mulai serius, kemudian duduk sesuai perintah, Sam juga penasaran.


Ayaz memberikan sebuah amplop dan menyuruh Sam untuk membukanya sendiri.


"Apa ini?" tanya Sam.


"Kau tidak tau?" tanya balik Ayaz.


Sam menggeleng pelan, tangannya dengan cepat membuka amplop tersebut. Beberapa foto terisi di sana, Sam mengambil salah satunya, ia mencoba melihat dengan jelas, siapa yang berada di foto tersebut.


"Kau mengenalinya?" tanya Ayaz, saat melihat Sam begitu meneliti.


"Entahlah! Foto ini tidak terlalu jelas, bahkan beberapa ada yang blur, siapapun yang mengambil gambar ini pasti bukan ahlinya." ucap Sam bercanda.


"Atau mungkin sengaja tidak untuk diperjelas!" ucap Ayaz lagi.


"Apa maksudnya?" tanya Sam.


"Kau benar-benar tidak mengetahui tentang foto ini?"


Lagi, Sam menggeleng, yang semakin meyakinkan Ayaz bahwa benar saja, seseorang telah mengunjugi rumahnya dan mengaku sebagai Sam, tapi siapa? Atau, suruhan siapa? Apa mungkin Sian memang sudah bertindak, ini tidak bisa dibiarkan! Batin Ayaz.


"Amati lagi." pinta Ayaz.


Sam mengangguk, dia mulai mengamati foto itu lagi dengan teliti. Namun tidak juga menemukan petunjuk.


"Seseorang, datang ke rumahku menitipkan itu pada istriku, dan orang itu mengaku sebagai kau, menyebutkan namanya adalah Sam." ucap Ayaz lagi sembari Sam masih terus mengamati foto itu.

__ADS_1


Sam mendongak, ia terperangah, mengapa ada kejadian seperti itu?


"Sian!" pekik Sam.


"Aku juga berpikir sama sepertimu."


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sam.


"Berhubung orang itu mengatasnamakan namamu, jika aku benar-benar tidak bisa mengenali siapa orang-orang di foto itu, mungkin saja kau bisa mengungkap siapa itu, karena target Sian hanya aku dan kamu yang terpaksa harus terlibat." sahut Ayaz.


"Ini gila?"


"Ku dengar, kau akan mengadakan kerja sama dengan perusahaannya, aku tidak tau apa rencanamu dengan Donulai, tapi aku tidak tertarik membuatnya bangkrut, aku hanya ingin dia menderita dan diliputi rasa bersalah, meminta ampun serta penyiksaan yang tidak ada habisnya." ucap Ayaz, matanya berkilat menyaratkan kebencian.


"Ayaz, kita harus menanggalkan kekuasaannya, karena selama Sian berkuasa, maka dia akan bisa melakukan apapun, termasuk menyelamatkan dirinya!" ucap Sam.


"Bukankah tiga tahun hidup dengan Donulai, nyatanya telah banyak merubahmu!" sindir Ayaz.


"Ayaz..."


"Kenapa? Kau ingin menyangkalnya?"


"Aku sudah merasakannya, kemiskinan dan tidak berpunya, hanya akan membuat kita yang tidak bersalah pun, menjadi korban dan harus selalu siap untuk ditindas."


"Bukankah, kau juga merasakan itu, menjadi lemah bukan pilihan Ayaz, bagi orang yang berkuasa, menjadikan seseorang yang ingin diinjaknya menjadi tidak berdaya, itu adalah keharusan baginya."


"Aku tidak menyangka, bahkan aku pernah membayangkan ini, Sian, prinsip hidup Sian, kau sudah sedikit lebih mengerti dirinya." ucap Ayaz.


"Jangan samakan aku dengan Bajingan itu!"


"Aku tidak punya kekuasaan, harta, untuk aku menghancurkan Sian, kalau kau benar bisa, silakan hancurkan dia dengan caramu!"


"Ayaz..."


"Aku hanya punya tangan dan kaki, serta mulut untuk memakinya tiada henti, namun entah mengapa, aku merasa aku sudah menjadi lebih kuat darimu, bagiku... setiap kali dia menginjak dada ini, menendang dada ini hingga aku terjatuh berkali-kali, bahkan Sian tidak menggunakan kekuasaannya saat melakukan itu."


"Kalau benar kekuasaan bisa membuat aku dan Ibuku dibebaskan saat itu, lalu mengapa kekuasaan malah membuat Ibuku menderita, kau tau... Saat tiga tahun lalu, aku sudah menyadari, salahku saat itu hanya satu, tidak bisa melawan, aku lemah, tangan ini bisa saja mengepal tapi tidak bisa untuk berbuat lebih, kaki ini bisa menghentak, tapi dia juga tidak bisa berbuat lebih, di seluruh tubuhku hanya ada kelemahan yang tersisa, aku bisa saja melawannya, meski tanpa kekuasaan sedikitpun." ucap Ayaz.


Dia melihat Sam begitu menyedihkan, hidup dalam bayang-bayang Donulai, tidak taukah dirinya bahwa Donulai bahkan tidak ada bedanya dengan Sian.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2