
Benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh Yaren bahwa khilaf yang dimaksudkan Ayaz adalah semacam ini.
Ayaz sedang sangat bergairah, memberikan begitu banyak ciuman di wajah dan lehernya, meski tidak begitu siap namun nyatanya mampu membuat Yaren menegang dan terbuai.
"Ayaz..." lirihnya.
"Hemmm!"
"Aahhhh..." d*sah Yaren.
Keduanya pulang ke rumah Marco, melihat sikap gemas Yaren yang begitu penasaran tadi membuat Ayaz menjadi begitu bersemangat, ia ingin secepatnya menuntaskan rasa ingin yang sudah menguasainya.
"Sayang..." panggil Yaren, Ayaz paling suka saat Yaren memanggilnya begitu, jika tidak melakukan hal di sekitar sprei semacam ini Yaren jarang sekali memanggilnya seperti itu.
"Emmhhh..."
Keduanya sudah sama-sama blingsatan, Ayaz baru saja hendak mengeluarkan si perkasa kebanggaannya dari balik celana kalau saja tidak ada pengganggu yang mengetuk pintu.
Tok tok tok,
Tangan Ayaz terhenti, Yaren juga spontan menoleh ke arah pintu.
"Ayaz... Itu pasti Tuan Marco." ucap Yaren.
"Sialan!" umpat Ayaz, jika itu benar Marco, ia rasa memang benar-benar mau mati Daddynya itu.
Ayaz tidak memedulikan itu, mumpung si perkasanya ia rasa masih bisa diajak bekerja sama, ia lebih memilih untuk melanjutkan kegiatan panas mereka.
Ayaz hendak menciumi Yaren lagi, namun ketukan pintu itu kembali terdengar, dan kali ini semakin keras.
Tok tok tok,
"Aisshhh!" Ayaz begitu frustasi, tidak bisakah orang di rumah ini mengerti, mereka sedang berada di kamar dengan pintu terkunci, apa tidak bisa menghargai orang yang sedang mengadakan ritual. Mengganggu juga tau waktunya kan.
Ayaz, dengan mimik wajah kesal yang tak terelakkan merapikan kembali pakaian bagian bawahnya itu, Yaren pun juga, ia sudah secepat mungkin merapikan diri dan lalu merapikan sprei yang terlihat berantakan.
Ceklek, pintu dibuka oleh Ayaz.
"Ada apa?" tanya Ayaz tidak senang, namun diirnya juga tidak menyangka kala melihat siapa pelaku yang mengganggu ritualnya tadi.
__ADS_1
"Apakah tidak bisa menunda?" tanya Jovan. Yah yang datang kali ini adalah Jovan. Ia pergi ke rumah Marco bersama Rymi, berniat mengunjugi Yaren yang baru saja pulang dari Itali, namun siapa sangka orang yang mereka cari bahkan memendam di kamar tidak keluar-kelauar sedari tadi.
Jadilah ia berniat untuk melakukan penggrebekan.
"Kau pikir aku melanjutkannya? Dasar pengganggu!" gerutu Ayaz, namun ia menoleh ke dalam kamarnya, memberitahu Yaren kalau yang datang adalah Jovan.
Yaren langsung saja ikut keluar, ia juga sudah rindu dengan Kakaknya itu.
"Kakak..." serunya senang.
"Kalian benar-benar tidak punya hati, datang tidak mengabari. Hei kau!" Jovan mendelik tajam pada Ayaz, "Aku masih kakaknya dia ya!" canda Jovan.
Ayaz memiringkan sudut bibirnya, ternyata Jovan sudah tidak marah lagi padanya. Meski dengan kata-kata menyindir begitu tapi Ayaz tau hubungannya dan Jovan sudah kembali membaik.
Ayaz berlalu, pria yang mulai kembali songong itu sama sekali tidak memedulikan protes dari Jovan, walau sebenarnya dalam hatinya cukup lega.
"Lihatlah? Suami macam apa dia?" keluh Jovan.
Yaren melihat Kakaknya yang sudah kembali banyak bicara, menurutnya itu lebih baik ketimbang pada waktu Jovan benar-benar seperti orang kesetanan saat marah terhadap Ayaz.
"Kakak... Kau kan sudah tau Ayaz orangnya seperti apa?" bela Yaren.
Lalu keduanya pergi ke ruang keluarga, di sana sudah ada Marco dan Rymi, mungkin juga ada Ayaz yang Jovan kira tentulah menuju ke sana.
"Kau sudah menemuinya?" tanya Marco berbasa-basi pada Jovan.
"Sudah Tuan!" sahut Jovan.
Ia melepaskan genggaman tangannya pada Yaren saat menyadari mendapatkan tatapan tajam dari singa buas yang siap menerkam di arah pintu masuk dapur sana.
"Tidak usah sungkan begitu, kita ini sekarang adalah besan, bukan begitu?" ucap Marco ramah, sungguh tidak biasa, pria itu biasanya begitu tegas namun kini yang dilihat Jovan benar-benar sangat santai.
"Rym," Marco mengisyaratkan Rymi untuk melayani Jovan layaknya tamu.
Rym hendak bangkit namun tertunda kala mendengar suara Ayaz menghentikannya.
"Tidak usah sungkan, tidak perlu diistimewakan, anggap saja rumah sendiri!" sindir Ayaz. Ia masih kesal karena Jovan yang mengganggunya tadi.
"Aahh?"
__ADS_1
"Ya, benar Jo, anggap saja rumah sendiri!" lanjut Marco menyetujui yang sebenarnya tidak mengetahui apapun.
"Iya Tuan!" sahut Jo, lalu ia menatap tajam Ayaz.
Rymi tidak beranjak dari tempatnya, ia juga jadi serba salah.
"Yaren, duduklah di sini!" ucap Rymi, bermaksud ingin membunuh kecanggungan.
Yaren menurut, meski ia sempat kesal karena Rymi yang dianggapnya terlalu dekat dengan Ayaz tapi ia mengakui bahwa wanita itu benar-benar melakukan yang terbaik untuk suaminya, contohnya saja saat menyelamatkan nyawa Ayaz saat itu. Yang mungkin saja tidak akan pernah mampu dirinya lakukan.
Ayaz mendekat juga, ia duduk tak jauh dari Marco, namun dengan sofa yang terpisah, ia meletakkan satu cangkir latte yang baru saja dirinya buat.
Tidak memedulikan Jovan sebagai seorang tamu.
"Begini, Yaren... Ada sesuatu yang saya ingin katakan, bukan hanya Yaren tapi ini untuk kalian semua juga." ucap Marco memulai perbincangan, ia melihat mungkin inilah saat yang tepat, dirinya mengakui apa yang terjadi sebenarnya, siapa dirinya saat ini bagi Ayaz dan Yaren.
Rymi sudah tau apa yang ingin dikatakan, sementara Jovan masih nenebak-nebak, Yaren terlihat penasaran sedang Ayaz seperti tidak siap.
"Ayaz..." seru Marco. "Apa aku bisa mengatakannya?" tanya Marco terlebih dahulu, ia sangat menghargai putranya itu.
Ayaz mendongak, sebenarnya ia ragu, namun mungkin sudah saatnya juga Yaren mengetahui yang sebenarnya, meski ia rasa Yaren mungkin saja sudah mendengar kebenarannya tanpa ia tahu. Lagi pula, tidak ada yang harus disembunyikan, ia bukan berita duka atau menyakitkan kan?
"Terserah kau saja!" sahut Ayaz.
"Hemmm, baiklah!" tanggap Marco. Ia mencoba tersenyum saat mendengar jawaban Ayaz.
"Baiklah Yaren, aku akan mengatakan sesuatu, semuanya juga harap dengar!" Marco berkata sembari menatap Yaren dan Ayaz bergantian.
Hal itu membuat Yaren menjadi salah tingkah, mungkinkah Marco ingin mengatakan perihal ia dan Ayaz yang tak kunjung membuka pintu tadi. Malu sekali rasanya kalau sampai iya.
"Kau adalah menantuku!" ucap Marco, "Karena Ayaz adalah putra kandungku!" lanjutnya.
Ayaz tampak tenang, meski dalam hatinya begitu terharu saat Marco benar-benar mengakuinya.
Sedang Yaren, ia terkejut, ia pernah melihat interaksi antara Marco dan Ayaz yang seperti lebih dari seorang rekan, ia juga mencurigai hal semacam ini karena dinilainya suaminya itu begitu mirip dengan Marco, namun pikirannya sungguh tidak mungkin sampai benar kan, pikirnya.
Yaren melihat ke arah suaminya, tampak datar, sungguh ekspresi yang sulit dibaca. Lalu melihat lagi ke arah Jovan, kakaknya itu tampak seperti tidak ada keterkejutannya sama sekali, apa di sini hanya dirinya yang tidak mengetahui apapun?
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...