
Jovan cukup terkejut saat mendapati berita pagi ini, seluruh stasiun televisi yang mengulas berita pagi yang sedang trending, Jovan juga mengecek ponselnya, benar saja begitu banyak berita mengenai kasus Ali Yarkan mencuat memenuhi beranda media sosialnya.
“Saksi berbalik menjadi terpidana, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kasus ini akan berakhir. Pihak keluarga yang seolah tak gentar meminta dan terus menekan pihak yang berwajib untuk segera menindaklanjuti kasus pembunuhan anak konglomerat ternama, yang tak lain adalah anak mereka sendiri, ‘Ali Yarkan’ dinyatakan tewas pada awal februari lalu, tuduhan sementara adalah mengakhiri hidupnya sendiri karena depresi.”
“Sempat menyeret nama Dean Aries sebagai orang yang berpotensi menjadi tersangka, namun nyatanya tuduhan itu sayang sekali harus terbantahkan dengan sendirinya karena tidak adanya bukti yang kuat.”
“Dan malah, sebuah bukti yang sudah sampai di kantor polisi pada rabu malam kemarin, menegaskan bahwa kasus yang terjadi pada ‘Ali Yarkan’ adalah pembunuhan berencana dari orang yang paling dekat dengan Ali Yarkan sendiri.”
“Berita selengkapnya, akan kami tayangkan secara live konferensi pers dari pihak kepolisian yang sudah empat bulan ini menangani kasus pembunuhan seorang ‘Ali Yarkan’. Semoga almarhum, bisa beristirahat dengan damai.”
Jovan menghela napasnya, jujur saja sejak detik itu juga ia sangat merasa bersalah. Ia juga andil dalam kasus ini.
Konferensi pers baru saja di mulai, sebuah bukti kini sudah terpampang di meja yang berada di depan para pihak yang berwajib.
Jovan mendes*h kasar, kepalanya menggeleng pelan, ia juga tidak menyangka semua ini nyatanya terjadi begitu cepat.
“Hari ini, Jumat, tanggal tujuh belas bulan juni tahun dua ribu dua puluh dua, saya selaku ketua penyidik dalam kasus pembunuhan saudara Ali Yarkan dengan nomor laporan Polisi No. Pol. : LP / 19 / 121 / 2022 / RES KN, tanggal 2 februari 2022.”
“Dengan ini, ingin menyampaikan dengan sebenar-benarnya, mengungkapkan fakta dan meluruskan kejadian sebenarnya, supaya tidak ada lagi opini publik karena digiring oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, yang bisa menimbulkan persepsi lain terhadap kasus ini.”
“Mengungkapkan, Joshe Yarkan, selaku Ayah dari almarhum Ali Yarkan, telah ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan berencana atas putranya sendiri pada Rabu, 15 juni 2022, dan kami selaku pihak yang berwajib, akan mengungkapkan dan menuntaskan kasus ini dengan sebaik-baiknya, serta memberikan hukuman yang seadil-adilnya pada tersangka yang terbukti bersalah.”
“Mohon dukungannya, dan untuk pernyataan resmi ini, kami sangat berharap publik tidak menambahkan dan melebih-lebihkan atau membuat opini lain yang tidak sesuai fakta.”
Kepala penyidik itu menunduk mohon undur diri. Mata Jovan tidak berkedip menatap layar televisi, hatinya sungguh hancur saat seorang ayah harus dituduh melenyapkan putranya sendiri, dan sayangnya dialah yang membuat semua itu menjadi mungkin.
__ADS_1
Kalau saja jalan terakhir itu tidak ia gunakan sesuai perintah Ayaz, mungkin tidak akan terjadi ketidakadilan semacam ini.
Kalau saja, keluarga Ali Yarkan memilih menyerah dan bisa mengikhlaskan. Menganggap bahwa Ali Yarkan memang mengakhiri hidupnya karena depresi. Dan juga tidak semerta-merta merong-rong Dean Aries sebagai pembunuhnya, orang yang berpotensi menjadi tersangka kasus anaknya, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Mereka masih bisa hidup dalam dan saling mengurus pribadi masing-masing.
Kalau saja! Yah hanya tinggal kalau saja. Meski Jovan merasa bersalah, meski rasanya hatinya tidak menerima ketidak adilan itu, dan air matanya tanpa sadar menetes dengan sendirinya saat melihat seorang Ayah yang selama ini berjuang untuk mendapatkan keadilan atas kematian anaknya, malah harus menjadi terpidana atas hal yang mungkin tidak akan pernah dirinya lakukan meski tanpa kesadaran sedikitpun.
Jovan tau betapa sakitnya saat kita kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi. Papa dan Mamanya yang sudah dulu menghadap yang Kuasa, kalaulah diberikan kesempatan untuk melakukan hal yang tidak mungkin, meski hanya satu kali, percayalah Jovan hanya ingin keluarganya kembali utuh, berkumpul kembali dan saling menyayangi dalam keluarga yang bahagia.
Untuk alasan itulah ia mencari Yaren dan Cemir, meski hanya saudara tiri, namun Jovan merasa sebuah keluarga tetaplah keluarga, setidaknya ada tempat untuk dirinya pulang.
Jovan Dirga, memang bukanlah orang jahat, ia hanya kejam pada orang yang bersalah saja, namun jika orang itu tidaklah bersalah, tentu saja ia tidak akan bersikap buruk.
Jadi, hari itu, kali pertamanya ia melakukan hal yang tidak pernah dirinya lakukan, Jovan tidak pernah menghendaki untuk membuat seorang Ayah harus menanggung dosa yang tidak pernah sang ayah itu lakukan.
“Kau melihatnya?” tanya Ayaz.
“Brengsekkk! Bajingan! Dasar Bajingan!” Jovan memukuli Ayaz membabi buta, dan kali ini Ayaz sama sekali tidak melawan.
“Kau... Seharusnya kau yang bertanggung jawab Ayaz, kau benar-benar bajingan!” geram Jovan.
Ayaz tidak menyahut, pria itu seolah pasrah saja dipukuli Jovan. Mungkin dirinya akan habis hari ini jika saja Yaren tidak berseru, “Hentikan!” teriak Yaren sembari terisak.
“Hentikan aku mohon, Kakak... Jangan lakukan itu meski kau marah, jangan...” mohon Yaren.
Jovan mengangkat tangannya, lalu ia menjambak kasar rambutnya yang memang sudah berantakan.
__ADS_1
“Pergi!” teriak Jovan. Kali ini ia benar-benar kecewa, bukan hanya pada Ayaz, namun pada dirinya sendiri. Ia tidak pernah melakukan hal sehina, semenjijikan ini di seumur hidupnya.
Ayaz dipapah oleh Yaren, saat Yaren membantunya berdiri Ayaz berbisik, “Jaga dia!” pintanya pada Yaren untuk menjaga Jovan.
“Taa tapi...”
“Di sini, Jovanlah yang begitu menderita, dia lebih membutuhkanmu!” ucap Ayaz.
Yaren menangis, pelan tangan itu melepaskan dekapannya, Ayaz menciumnya keningnya lembut, “Aku akan kembali, ini tidak akan lama!” ucap Ayaz lagi.
Yaren mengangguk pelan, semalam ia juga sudah diceritakan oleh Ayaz bahwa Jovanlah yang bisa menyelamatkannya dari kasus ini, namun kemungkinan Jovan jualah yang akan begitu merasa bersalah.
Yaren mendekat pada Jovan, setelah menatap punggung Ayaz yang semakin menjauh dan tubuh itu hilang dibalik pintu, Yaren segera memeluk erat tubuh Jovan. “Maafkan aku kak... Kau melakukan ini karena aku, maafkan aku!” ucapnya terisak. Sakit sungguh sakit, kalau saja ia bukanlah istri dari seorang pembunuh itu mungkin Jovan tidak akan berpikir dua kali untuk menyeret Ayaz ke kantor polisi, kalau saja ia tidak mencintai Ayaz, mungkin Jovan akan dengan sangat senang hati menegakkan keadilan.
Dada Jovan sesak, sungguh demi apapun, ia sungguh tidak bisa berbuat apapun, menyesal karena telah melakukan itu, namun juga lega karena semuanya sudah terselesaikan.
Jovan membawa tangan Yaren pada dadanya yang sesak, berharap kasih sayang Yaren bisa sedikit menenangkan hatinya yang sudah hancur itu.
“Yaren... Papaku pasti tidak akan senang melihat aku melakukan ini.” Jovan merenungi perbuatannya.
“Kau tau! Hal yang paling sakit bukanlah karena aku yang melakukan itu demi dirimu, tapi... Yang paling menyakitkan dari ini adalah karena aku sudah mengkhianati apa yang selalu Papa ajarkan padaku semasa dia hidup dulu.”
“Kemarin... Aku sudah mengkhianatinya!”
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...