Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Dia... Saudaraku!


__ADS_3

"Kau bilang apa?" Marco mencengkram erat kemeja Mike, tangannya sudah gemetar ingin sekali melayangkan tinju di wajah itu.


"Maafkan saya Tuan, tapi kondisi kesehatan anda memang sangat tidak memungkinkan!"


"Tapi kau tau pasti RH- AB adalah darah yang langka? Ambil saja darahku, persetan jika aku harus mati sekalipun!" teriak Marco, ia sungguh frustasi.


Mike baru saja memeriksa kesehatannya, dokter muda itu menjelaskan bahwa ia tidak bisa menjadi pendonor untuk Marco, dengan dua alasan.


Pertama, karena ia yang pernah memakai narkoba, lalu ke dua karena dirinya baru saja pulih dan juga sempat kekurangan banyak darah, sungguh demi apapun mengapa saat seperti ini Marco merasa dirinya tidak berguna.


"Sekali lagi maafkan saya Tuan Marco, Ayaz saat ini sudah melewati masa kritisnya, tapi... Jika Tuan tidak mendapatkan darah yang sama dengan segera, maka saya juga tidak bisa berbuat banyak! Sekali lagi, saya minta maaf!" jelas Mike lagi.


"Aarggghhh! Sialan! Beraninya..." teriak Marco.


Marco lalu pergi meninggalkan Mike, ia benar-benar diambang keputusasaan.


Rymi melihat Marco yang keluar dari ruangan itu langsung saja mendekat, menanyakan bagaimana kelanjutannya. Marco menggeleng pelan, gurat khawatir begitu kentara terlihat di wajah pria setengah baya itu.


"Mengapa?" tanya Rymi meminta kejelasan.


"Salahku!" jawab Marco.


Salahnya yang pernah menjadi pecandu narkoba dulunya, meski pada akhirnya ia berhasil keluar dari lubang hitam itu, memiliki pekerjaan sebagai pengedar barang haram itu membuatnya pelan-pelan tertarik untuk menjadi pengonsumsi saat masalah datang menghampirinya, terutama saat dirinya tidak bisa melupakan Nindi waktu itu, Marco benar-benar menyesal, tidak menyangka tindakannya yang salah jalan itu malah merugikannya di kemudian hari, mengakibatkan dirinya tidak bisa untuk menyelamatkan putranya, Ayaz... hadiah dari Nindinya yang baru saja ia janjikan untuk dijaga sebaik-baiknya.


Dan lagi, kecelakaan itu, hal yang bisa mengungkap hubungan antaranya dan Ayaz, namun karena kecelakaan itu juga, harus menjadi salah satu alasan dirinya tetap tidak bisa menyelamatkan Ayaz.


"Kenapa Dad? Bukankah darah kalian sama?" tanya Rymi lagi. Ia tidak puas hanya dengan jawaban Marco yang seperti itu.


"Rym, kau hubungi relasi kita, siapapun... Tolong carikan darah itu, selamatkan Ayaz, aku juga akan mencari." ucap Marco.


Rymi mengangguk, dirinya juga tidak percaya, mengapa begitu sulit kenyataannya.


...***...


"Air... Air..." ucap Sian, pria itu merasakan haus tak tertahankan, dari pagi tadi dirinya bahkan belum merasai air bahkan satu tetes pun.


"Kau bercanda? Hei, sialan! Teguk saja air liurmu itu, atau kalau aku jadi kau, lebih baik bunuh diri saja dengan menggigit lidah, heh, jika diberi kesempatan hidup pun aku tidak yakin kau akan sanggup menjalaninya." ucap Jovan sarkas.


Tidak terdengar jawaban dari Sian, pria itu tampaknya benar-benar lemah tak berdaya.


Jovan mengambil ponselnya di saku, ia akan menghubungi Rymi. Menurutnya, sudah lumayan lama dari Marco meninggalkan kapal ini, tidak ada salahnya kan jika dia menanyakan kabar Ayaz, semoga saja segala sesuatu yang terjadi tidak begitu parah.

__ADS_1


Namun baru saja hendak memanggil nomor wanita itu, Rymi malah sudah menelponnya lebih dulu, gegas Jovan mengangkat panggilan itu.


"Apa terjadi sesuatu?"


^^^"Kau tau? Ini buruk! Apa kau punya kerabat yang memiliki golongan darah RH- AB, Ayaz kehilangan banyak darah, dan darah itu begitu sulit didapatkan!"^^^


"Apa?"


^^^"Kau tidak dengar, apa aku harus mengulanginya, Kau bisa membantu? Carikan darah RH- AB segera!!!"^^^


"Rymi... Maksudku... Apa terjadi sesuatu pada Ayaz, apa kondisinya sangat parah? Tidak ada yang menjelaskan padaku apa yang telah terjadi, apa Ayaz akan baik-baik saja?"


^^^"Jo, carilah darah itu, aku juga sedang mencari, Ayaz... Dia ditusuk salah satu orang-orang Sian dengan menggunakan pedang."^^^


Hening menyapa, tatapan Jovan kosong saat mendengar itu,


"Ditusuk?"


"Mengapa dia selemah itu? Bukankah tidak ada yang bisa mengalahkannya..."


Jovan bergumam pelan, ia tidak percaya Ayaz akan melewati semua itu, mengapa rasanya begitu sakit mengetahui kenyataan adik iparnya itu sekarat, apa Ayaz benar-benar sudah menempati sebagian hatinya untuk daftar orang-orang terkasih.


^^^"Jo, apa kau masih di sana?"^^^


"Aku akan menghubungimu jika ada petunjuk, akan aku usahakan, dia juga temanku!"


^^^"Ya, aku mohon Jo, mohon bantuannya!"^^^


Panggilan tertutup, Jovan terduduk di kursi, pikirannya terbang membayangkan saat-saat dirinya bersama Ayaz.


"Kalau bukan karena kau bisa diandalkan, mungkin kau sudah menjadi gelandangan saat ini, atau parahnya mungkin juga kau sudah berada di neraka!"


"Ayaz, setelah ini hutangku padamu sudah habis, aku akan membayar budiku saat kau membiarkanku hidup, jika Sian berada di genggamanmu suatu hari nanti, ku harap kita tidak pernah saling mengenal lagi, jangan menyapaku saat kita bertemu diluar, jadilah orang asing yang semestinya!"


"Kau gila! Kau pikir aku mengharapkannya, aku bahkan tidak sudi untuk menghirup udara yang sama denganmu, menjijikan!"


"Kau menikahinya? Gila! Aku bahkan tidak pernah membayangkan ini, mengapa harus Yaren! Kau benar-benar gila, aku berharap hubungan kita akan berakhir, namun kau malah menambah rumit segalanya."


"Apa? Memangnya apa peduliku? Apa pentingnya wanita itu?"


"Sialan!"

__ADS_1


"Bugh, bugh!"


"Dia adikku bodoh! Dia adikku! Kau berniat menghancurkannya? Kau bajingan, tidak akan kubiarkan itu terjadi, akan kubunuh kau!"


"Aku akan menjaga Yaren, kau tidurlah dengan nyenyak, memangnya aku sejahat itu!"


"Menikah sana, jangan ganggu kehidupan kami... Aisshhh, awas saja jika kau peluk-peluk dia!"


"Jo, jika aku harus dipenjara nanti, kau harus menjaga Yaren, kau bisa berjanji padaku?"


"Jo, jika aku pergi suatu hari nanti, kau bisa menjaga Yaren untukku, jangan biarkan ada yang menyakitinya!"


"Kau tidak akan kemana-mana? Aku bahkan yakin untuk itu!"


"Apa kau mencintai adikku?"


"Whaaa! Apa aku sedang ditanyai mertua?"


"Yah, anggap saja begitu!"


"Awalnya aku pikir, aku bisa menghilangkan dia dari hidupku, tapi rasa peduli ini membawaku pada kedalaman yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, aku..."


"Apa?"


"Kau tegang?"


"Hei, aku tanya, kau mencintai Yaren tidak? Jawab saja apa susahnya!"


"Aku... Sepertinya aku... Sudah tersesat di hatinya!"


"Sialan!"


Jovan mengingat untaian percakapan antaranya dan Ayaz, dari mulai ia memutuskan untuk membalas budi pada pria itu, sampai terakhir saat Ayaz mengunjungi rumahnya bersama Yaren waktu itu.


Ia yang pernah menanyakan apa Ayaz sudah mencintai adiknya atau hanya sekedar menyukai. Ayaz menjawab seperti itu, dan jujur saja jawaban itu memang berhasil membuatnya tenang, ia berharap kebahagiaan menyertai adiknya dan Ayaz.


Namun apa ini, mengapa saat dirinya percaya pada Ayaz, bahkan dunia pun tidak mendukungnya.


"Dia bukan temanku... Dia... Saudaraku!"


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2