Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Maka kau pun juga harus menjadi musuhku!


__ADS_3

“Aku adalah kakekmu!” ujar Tuan Donulai. Pria tua dengan tongkat ditangannya itu mendekat, ingin membelai wajah cucunya.


Ayaz terdiam, bagaimana bisa tiba-tiba orang tua ini mengaku-ngaku sebagai kakeknya. Apa bercanda? Mungkinkah?


Mencoba menahan napasnya kala tangan Tuan Donulai menjamah wajahnya, “Kau keturunan kami, kau keturunan Donulai satu-satunya!” ucap lirih Tuan Donulai.


“Tuan, anda tidak seharusnya begini dengan orang biasa sepertiku!” ucap Ayaz lembut, takut saja menyinggung orang tua itu.


“Sam, jelaskan semuanya!” titah Tuan Donulai pada Sam.


Sam menatap Ayaz penuh haru. Siapa yang menyangka seorang anak dengan nasib yang sangat tidak beruntung dulu, kini bahkan menjadi pewaris satu-satunya kerajaan bisnis Donulai.


“Itu semua benar Ayaz!” ucap Sam membenarkan.


“Daslah Donulai, adalah adik dari Tuan Ahmad Donulai, ayah angkatku yang saat ini berada di hadapanmu!”


Ayaz menatap tajam Sam, raut wajahnya berubah mengisyaratkan untuk Sam jangan pernah mengatakan suatu kebohongan padanya.


“Dia adalah Ibu dari Nona Nindi Rowans, Ibumu! Itu berarti, Bibi Daslah adalah Nenekmu!” ungkap Sam lagi.


“Apa? Tidak! Kau jangan membohingiku Sam, jangan mengada-ngada!” pekik Ayaz tidak percaya.


“Aku sama sekali tidak berbohong Ayaz, kau benar-benar keturunan keluarga Donulai, bahkan kau pewaris satu-satunya.” ucap Sam lagi.


“Tidakkah ini sangat berlebihan, aku memang sedang mencari keluargaku, tapi... Tapi, tidak... Bukan keluarga kalian!” dengus Ayaz.


“Kenapa?” tanya Sam. “Apa kau tidak menyukai bertemu dengan keluargamu?” tanya Sam ragu.


Tuan Donulai menatap Ayaz penuh heran, mengapa pula cucunya itu seakan menolak keluarganya.


“Kalian ke mana saja?” tanya Ayaz lirih, pria itu menatap tajam Tuan Donulai.


“Ayaz, aku akan jelaskan!” ucap Sam lagi.


“Diam!” pekik Ayaz, “Aku bertanya pada seseorang yang baru saja mengaku sebagai Kakekku! Aku tanya, selama ini kalian ke mana saja?” tanya Ayaz.


“Ayaz...” sergah Sam, namun terhenti karena gerakan tangan Tuan Donulai.

__ADS_1


“Kau pikir, dengan siapa kau berbicara?” tanya dingin Tuan Donulai. Seumur hidup tidak ada seorang pun yang bisa berlaku tidak hormat padanya, meski itu cucunya sendiri namun baginya tidak ada yang bisa termaafkan.


“Kenapa? Kau merasa begitu tinggi hingga aku perlu tau siapa dirimu?” tantang Ayaz.


“Sekalipun kau cucuku, bukan berarti kau bisa bersikap kurang ajar pada orang tua ini?” ucap Tuan Donulai tidak terima.


Ayaz mendekat, dirinya semakin ingin menantang Tuan Donulai jika sudah seperti ini, bagi Ayaz selama dirinya hidup dengan Marco, tidak ada satupun orang yang berani menentangnya, pun dengan Marco sendiri selaku Bosnya.


“Dan, aku! Sama sekali tidak berharap akan mendapatkan keluarga sepertimu!” ucap remeh Ayaz.


Dengan segera, keempat pengawal yang berada di dekat mereka itu menyergap tubuh Ayaz, tangan dan badannya dipegangi erat oleh empat pengawal itu.


“Kau benar-benar tidak tau caranya sopan santun!” bentak Tuan Donulai.


Sam ingin mencegah, bagaimanapun begitu sulit menemukan Ayaz, hanya karena Ayaz menanyakan di mana keberadaan keluarga Donulai nampaknya sang Ayah angkat akan menghancurkan segalanya hanya karena sebuah kedudukan.


Bagi Sam, wajar saja Ayaz mengatakan ini, mengingat betapa menderitanya Nona Nindi Rowans dan Ayaz menanggung kebrutalan Sian dulunya.


Namun Sam tidak mampu bicara apapun, separuh hidupnya berada di tangan keluarga Donulai.


“Pukuli dia!” titah Tuan Donulai pada Sam.


Sam menganga tidak percaya, bagaimana mungkin dirinya melakukan itu pada Ayaz.


“Ayah!” lirih Sam.


“Kenapa?”


“Ayah, bukankah kita begitu sulit menemukan dia, mengapa Ayah berubah hanya karena Ayaz mengatakan itu, Ayah...”


“Kau berani membantahku?” tanya Tuan Donulai tajam.


“Bukan begitu Ayah, tidak bisakah kita bertoleransi untuknya...”


“Pukul aku!” ucap Ayaz tiba-tiba, hanya sebuah pukulan, itu bukanlah apa baginya. Sekalipun dirinya harus mati, namun sebelum itu dirinya akan mengobarkan api amarah pada keluarga Ibunya, yang telah dengan tega tidak memedulikan dirinya dan sang Ibunda.


“Kau!” bentak Tuan Donulai.

__ADS_1


“Ahmad Donulai! Jika benci, membenci saja sampai di seumur hidupmu, maka kau tidak akan dirundung penyesalan.” Teriak Ayaz.


“Aku memang tidak punya sopan santun, namun kau... Bukanlah orang yang pantas menanyakan itu!”


“Selama ini, kau ke mana? Tau apa tentang hidupku, bagaimana aku bisa menjalani atau bahkan bertahan hidup!” teriak Ayaz lagi, dia sungguh emosi melihat wajah Tuan Donulai.


“Aku tidak mengetahui kau ada!” ungkap Tuan Donulai.


“Heh, tidak tau! Mungkin lebih tepatnya tidak mau tau!” dengus Ayaz kesal. Selain Sian dia juga benci akan keluarga Ibunya, dia ingin bertemu keluarga ibunya hanya untuk mengatakan bahwa Ibunya sudah meninggal dan setidaknya tolong temui makam Ibunya sebagai penghormatan, itupun kalau mau. Dan satu tujuannya lagi hanya untuk menanyakan siapa pria yang pernah berhubungan dengan Ibunya sebelum menikah dengan Sian. Hal itu akan dijadikannya petunjuk untuk mengetahui siapa Ayah kandungnya.


“Kenapa kau sudah berpikiran seperti itu sedang kau tidak mengetahui keadaan sebenarnya?” tanya Tuan Donulai. Pria tua itu tidak kalah tajam menatap Ayaz.


“Secara tidak langsung, kalian harus bertanggungjawab atas kematian Ibuku! Dia menderita batin karena Sian sampai kematian menjemputnya, di mana kalian saat masa-masa terpuruknya, aku tanya di mana kalian?” geram Ayaz menatap Tuan Donulai penuh benci.


“Sudah ku katakan, aku tidak mengetahui hidup kalian!” ucap Tuan Donulai tetap pada pendiriannya.


“Aarrrgggghh!” dalam satu kali hempasan, Ayaz sudah berhasil terlepas dari tangan keempat pengawal yang memeganginya. Lalu tangannya dengan pasti mencengkram erat kerah baju Tuan Donulai. “Aku pasti akan membuat kalian menanggung semuanya, kalian harus menderita!” ancam Ayaz yang sepertinya tidak main-main.


“Ayaz, hentikan! Aku mohon, Tuan Donulai tidak mengetahui apapun tentang kalian, Bibi Daslah baru kembali ke Itali mengabarkan segala tentang kalian tiga tahun yang lalu, kalau Tuan Donulai mengetahui itu dari dulu mungkin sudah lama dia berusaha untuk membebaskanmu dan Ibumu!” cegah Sam, pria itu khawatir akan kesehatan jantung Ayah angkatnya, dan juga khawatir akan kemarahan Ayaz.


Ayaz melunak, di lepaskannya cengkraman itu, pandangan matanya beralih pada Sam, sahabatnya itu sepertinya juga sudah berubah.


Tuan Donulai dipegangi oleh ke dua mengawalnya, pria tua itu sedikit terkejut akan tindakan cucunya yang tiba-tiba.


“Ada apa Sam? Padahal kau yang paling tau tentang hidupku!” lirih Ayaz, matanya menatap tajam Sam.


Sam pun sama, dengan melihat Ayaz yang memperlakukan Ayah angkatnya seperti itu, kini Sam pun sudah menyadari bahwa Ayaz yang ditemuinya kini bukanlah Ayaz yang sama seperti tiga tahun yang lalu.


“Ayaz, aku berkata jujur, aku mengatakan yang sebenar-benarnya, dan kau harus mengetahui kenyataan itu.” ungkap Sam.


“Oh ya?” dengus Ayaz tidak percaya, satu sudut bibirnya tertarik, rasanya ia tidak menyangka Sam tidak mendukungnya, padahal dirinya pernah mengungkapkan niatnya pada Sam dulunya, berjanji akan menemukan keluarga Ibunya dan kemudian membalas dendam.


“Maka kau pun juga harus menjadi musuhku!”


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2