
"Tok tok tok!"
"Merve!" pekik Sam tidak percaya akan siapa yang sedang berada di luar sana.
Sam membuka pintu, ia keluar, matanya menatap Rymi tidak mengerti. "Ada apa?" tanyanya.
Rymi sedikit bingung, sebenarnya hal apa yang paling bisa dijadikannya alasan, mengapa langkahnya malah berhenti di sini.
"Aku, hanya memastikan! Ternyata kau tidak menemukan apapun! Bagaimana bisa?" Rymi berucap remeh.
"Dia hanya sedang beruntung!" sahut Sam.
"Dan kau membiarkan keberuntungan berpihak padanya! Begitu?" cemooh Rymi.
"Merve!"
"Stop it! I'm Rymi!" protes Rymi langsung, ia sungguh tidak menyukai nama samarannya itu. Namun Sam dirinya bagai sudah nyaman saja memanggil Rymi dengan nama itu, karena itu adalah nama pertama ia mengenal wanita itu.
"Oke, Rymi... Kenyataannya kami sudah berusaha mencari, namun tidak juga menemukan." ucap Sam.
Rymi nampak mengangguk mengerti, lalu ia menyuruh Sam masuk lagi ke dalam mobil, dan dirinya juga masuk dan duduk di samping kemudi.
"Bisa kau memarkirkan mobilmu sedikit lebih jauh dan tidak mudah diketahui?" tanya Rymi.
Sam bingung, namun karena ia yang terlalu percaya dengan wanita yang dicintainya itu, Sam menurut saja, ia menghidupkan mesin mobilnya dan mulai mencari tempat persembunyian yang aman.
Setelah di rasa cukup, Sam memberhentikan mobilnya, agak jauh dari rumah Sian. Sam hendak bertanya mengapa, ia tidak puas jika hanya mendengar jawaban Rymi yang baginya sangat tidak memuaskan itu.
Namun saat ia hendak bertanya, Rymi sudah bergegas hendak keluar dari mobil, "Kau mau ke mana?" tanya Sam cepat.
"Turun!" titah Rymi.
Lagi dan lagi Sam harus menurut, karena usul Rymi lah ia bisa bertindak untuk segera menemukan Ibunya, baginya meski wanita itu acuh namun apa yang diucapkannya meski kadang menyakiti namun tidak jarang cukup membantu.
Sam keluar dari mobil, matanya masih betah menatap wanita yang disukainya itu, sebenarnya kali ini apa lagi kiranya yang Rymi rencanakan, pikirnya.
"Ikut aku!" perintah Rymi lagi.
Sam mengikuti langkah kaki Rymi, sedikit jauh berjalan ternyata mereka kembali ke kediaman Sian, Sam sedikit bingung mengapa harus kembali.
__ADS_1
Rymi melihat beberapa penjaga di luar, Sian sepertinya sangat ketat dalam urusan keamanan, wajar saja mungkin entah berapa banyak barang berharga yang memenuhi rumah megah ini.
"Mengapa kembali?" tanya Sam.
"Shuttt!" Rymi menempelkan telunjuknya di bibir, menandakan Sam untuk berbicara pelan.
"Mengapa kembali?" tanya Sam lagi, kali ini dengan sangat pelan dan berbisik.
"Kau ingin mengetahui di mana Ibumu?" tanya Rymi berbisik juga.
"Ya!" jawab Sam langsung.
"Maka kau harus berusaha lebih keras!" lanjut Rymi.
"Maksudmu?" Sam tidak mengerti.
"Bodoh!" umpat Rymi.
Kemudian hening,
"Bukankah tadi kau bilang, Amla sialan itu terlihat sekali kegelisahan di wajahnya? Itu saja sudah cukup membuktikan kalau dia memang menyembunyikan Ibumu!" ucap Rymi.
"Jika kau sudah berusaha keras mencari namun nyatanya tidak membuahkan hasil, maka cara itu tidak usah dipakai lagi, karena orang seperti Amla ini hanya akan membiarkan keadaan membuatnya genting cukup satu kali saja." lanjut Rymi.
"Jadi?" tanya Sam penasaran.
"Jika kau tidak bisa menemukan sebuah permata yang terpendam dalam bawah tanah, padahal kau sudah menggalinya di seluruh tanah itu, maka menurutmu apa yang harus kau lakukan? Apa kau akan menunggu hari esok kemudian menggali lagi bekas galianmu?" sahut Rymi berandai.
"Apa kau yakin akan menemukannya?"
"Permata itu akan berkilau dengan sendirinya, hal yang perlu kau lakukan hanya mengamati!"
"Setelah digali begitu banyak, tidak mungkin tidak ada celah sama sekali untuknya berkilauan."
"Maksudmu?"
"Tunggu dan lihat!" Rymi menatap pada pintu masuk kediaman Sian, "Wanita yang sedang gelisah itu, pasti akan membawakan sendiri permata itu untukmu, meski sebenarnya bukan itu yang dirinya inginkan!"
Sam mengangguk, dirinya mulai mengerti apa maksud Rymi mengajaknya kembali ke kediaman Sian. "Maksudmu, Amla..."
__ADS_1
"Tidak!" sergah Rymi, "Ada dua kemungkinan, memindahkannya atau membunuhnya!" sahut Rymi, dari nadanya begitu serius.
"Kau gila! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
"Berdoalah semoga dia memindahkan Ibumu, kau harus mengawasi setiap mobil yang keluar ataupun masuk tengah malam begini."
"Rymi, aku tidak bisa, bagaimana jika Ibuku..."
"Kau ini! Mengatakan tidak bisa menunggu di sini hanya karena takut Ibumu dibunuh, sedang tadi saja kau saja ingin meninggalkannya dan kembali besok hari, kau benar-benar plin-plan!" dengus Rymi kesal.
"Memangnya kau pikir tidak akan ada yang terjadi jika kau masih bisa menunggu hingga besok?"
Sam terdiam, kata-kata Rymi begitu telak mengena tepat bagai menembus jantungnya.
"Bisakah kita masuk ke dalam?" tanya Sam meragu. Jika benar-benar tidak bisa, baiklah ia akan menuruti saran Rymi kali ini. Rymi bagai penasihat militer saja baginya, mengapa wanita itu sepetinya penuh dengan strategi, caranya membereskan hal yang mengganjal dan di hidup Romi, Ayah kandungnya waktu itu, Sam sungguh kagum, benar-benar sangat keren menurutnya. Untuk itulah ia selalu bisa dengan pasti mempercayai wanita itu, meski Rymi sudah terang-terangan mengatakan padanya bahwa wanita itu adalah penipu, yang sudah pernah membuat kesepakatan dan rencana dengan Ayaz untuk menipu perusahaan Donulai.
"Kau mengharapkan apa? Aku bertaruh nyawa hanya untuk menyelamatkan Ibumu? Kenapa tidak kau saja, jangan katakan 'kita', karena aku tidak akan mau!" dengus Rymi.
"Katakan apa yang harus aku lakukan jika aku masuk ke dalam?" tanya Sam. Oke biar saja dirinya yang masuk, namun jika masuk pun Sam tidak tau harus melakukan apa, mencari lagi? Di mana?
"Mati!" jawab Rymi acuh.
"Hah?"
"Kau hanya sendiri, dan Sian punya puluhan anak buah, kau yakin sudah bosan hidup?" jelas Rymi.
Sam tampak putus asa, nyawa bukanlah apa-apa, jika nyawanya bisa menyelamatkan Ibunya maka ia rela bertaruh, namun jika dia akan mati dipukuli dan tidak juga bisa menemukan Ibunya, itu adalah perjuangan terburuk selama ia hidup. Sungguh pengorbanan yang sangat sia-sia.
"Tunggu saja dan amati! Cara ini cukup efektif! Kau bilang tadi kalau wanita sialan itu cukup gelisah kan? Aku cukup tau dan bisa membaca situasi, orang seperti itu akan dengan mudah bertindak gegabah." jelas Rymi.
Sam menghela napasnya berat, menunggu di sini, dan pikirannya melayang membayangkan nasib ibunya, apa tidak ada hal lain yang bisa dirinya lakukan selain menunggu.
Namun tiba-tiba dengan masih dirundung gelisahnya, Sam melihat sebuah mobil benar-benar memasuki pintu masuk kediaman Sian, Rymi juga melihat itu. Lalu saat mobil itu sudah benar-benar masuk Rymi melangkah keluar dari persembunyian, Sam langsung saja mengikuti dan alangkah terkejutnya ia saat melihat apa yang baru saja Rymi lakukan.
"Bugh!"
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1