
"Ayaz, ada apa?" tanya Yaren saat kedua matanya ditutup oleh kedua tangan Ayaz, Ayaz juga menuntutnya berjalan perlahan, Yaren merasakan dadanya berdebar karena memikirkan mungkinkah Ayaz ingin memberikannya kejutan lagi.
"Jalan saja, sebentar lagi kita sampai!" ucap Ayaz.
Yaren menurut, hingga langkah kakinya dan kaki Ayaz berhenti, dan Ayaz berbisik padanya, "Apa kau sudah siap?"
"Apa kau akan memberikan aku kejutan?" tanya Yaren.
"He'em! Kau pasti menyukainya!" sahut Ayaz.
"Aku selalu menyukai apapun darimu!" balas Yaren.
"Baiklah, dalam hitungan ketiga aku akan melepaskan tanganku, kau sudah siap kan!"
"Aku bahkan sudah tidak sabar!" ujar Yaren.
"Satu... Dua... Tiga..." Ayaz langsung melepaskan tangannya, sementara Yaren mengerjap pelan, lalu bibirnya melengkung sempurna saat melihat sesuatu yang ditujukan untuknya.
"Ayaz apa ini?" tanyanya tidak mengerti.
Di sana ada Marco, Rymi, dan juga Jovan, mereka sedang menunggu kehadirannya di halaman belakang yang telah di sulap dengan dekorasi yang cukup indah.
"Ada apa ini?" tanyanya pada Rymi.
Rymi mendekat, ia memeluk Yaren, "Kakak Ipar, maafkan aku yaaa..." ujarnya.
__ADS_1
Yaren tersenyum manis, mengapa saat melihat Rymi yang meminta maaf padanya wanita itu terlihat begitu menggemaskan di mata Yaren, Rymi memang imut, cantik, memiliki tubuh yang sempurna, wajahnya juga baby face, sehingga ketika merengek ataupun memelas begini terlihat seperti balita yang benar-benar meminta maaf dengan tulus.
Yaren membelai lembut puncak kepala Rymi, "Tidak apa! Aku sudah memaafkanmu!"
"Mengapa harus dimaafkan, sebenarnya lebih baik kau hukum saja dia! Aku sangat setuju jika kau mau!" sambung Ayaz, yang mampu membuat Rymi memberengut kesal.
Sementara Jovan dan Marco tergelak kecil, Ayaz dan Tymi memang dua orang yang terpaksa harus saling peduli tampaknya, lihatlah sulit sekali rasanya untuk melihat keduanya akur.
"Ayaz kau ini!" Yaren memelototi suaminya itu, perlahan sebenarnya tanpa Yaren ketahui dia juga sudah menyayangi Rymi, menganggapnya adik seperti halnya Raisa. Kalau saja bukan karena Raisa dan Wana yang selalu jahat padanya, tentulah dibalik itu sebenarnya Yaren sangat menyayangi adik tirinya itu.
"Mau aku tarik lagi hadiahnya?" ancam Rymi.
"Biar saja, aku bisa mengatakan padanya langsung." ujar Ayaz, ia tidak peduli.
"Rymi... Ayaz..." lerai Marco, huh rasanya ia tidak ingin menua lebih cepat, ia masih sangat ingin menikmati waktu bersama kedua anaknya itu.
Marco mengangguk, lalu matanya melirik jam tangan yang dirinya kenakan, mengisyaratkan Rymi untuk segera melakukannya.
"Ah ya Kakak ipar! Aku punya satu hadiah istimewa untukmu!" ujarnya.
"Oh ya? Apa?" antusias Yaren.
"Ekkhmm!" dehemnya, "Tapi sebelum itu, Kakak ipar harus berjanji dulu padaku!" pinta Rymi.
"Janji? Janji apa?"
__ADS_1
"Rymi... Apa lagi?" protes Marco, apa lagi yang akan dilakukan oleh putrinya itu, selalu ada-ada saja yang Rymi pikirkan, entah kali ini apa lagi, pikirnya.
"Sebentar Daddy, aku harus memberikan warning dulu untuk kaum budak cinta ini!" ujarnya setengah berteriak.
Ayaz melotot tidak percaya, apa tadi Rymi bilang, kaum budak cinta, apa Rymi bercanda, bukankah dia lebih-lebih menjadi budak cintanya Samudra.
"Hei gila, aku tidak bucin ya!" protes Ayaz.
Rymi mencibir kesal, "Ya ya, siapa yang akan mengaku? Hei, kau tidak sadar ya, kalian itu kaum budak cinta, aku saja sampai mau mual melihatnya!" keluh Rymi.
"Kau..."
"Kakak ipar, jika kau melihat hadiahku ini, bisakah kau tidak memeluk Ayaz di depanku?" tanya Rymi langsung.
"Apa? Sialan, siapa kau yang beraninya menghalangi kami!" protes Ayaz, tentu saja karena dia mengetahui isi dari hadiah yang akan di berikan Rymi padanya.
"Apa? Kalian sangat memuakkan saat berpelukkan, lepas peluk lagi, lepaskan lalu berpelukan lagi, begitu saja sampai aku mau muntah!" sewot Rymi.
Wajah Yaren memerah saat mendengar itu, sungguh kadang hal itu spontan saja dirinya dan Ayaz lakukan, mana tau ada yang tidak suka.
"Itu kan urusan kami, kalau kau iri tinggal peluk Samudra saja apa susahnya? Daddy, dia ini kenapa sih?" kesal Ayaz.
"Pokoknya tidak boleh! Samudraku sedang tidak di sini, pokoknya kalian tidak boleh berpelukan di depanku!" tegas Rymi mencak-mencak.
"Oh ya Tuhan, ada yang iri rupanya..." seru Ayaz, dia puas sekali karena ternyata hari ini ia bisa menang dari Rymi.
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....