
"Sona Blue Hotel adalah milikmu?"
Ayaz tersenyum smirk, "Jadi, Argantara! Di sini kedatangan Yaren karena dia harus mendampingiku."
"Tapi..."
"Bagaimana bisa?" tebak Ayaz.
Yaren meremas lengan suaminya, ia merasa tidak nyaman atas perkataan Ayaz yang lebih terlihat meremehkan Papanya.
Ayaz sedikit merasakan sakit, namun ia menahannya, baginya itu bukan apa-apa, dari pada Yaren harus menanggung segala penghinaan.
"Kenyataannya seperti itu! Rupa-rupanya anda, ternyata jauh di bawah saya!" Ayaz memberikan pukulan telaknya lagi.
Argantara menggeleng pelan, ia tidak percaya, benar-benar tidak percaya.
"Jadi Tuan Argantara, saya rasa sudah seharusnya anda menghormati tamu penting seperti kami!" Ayaz mendekatkan tubuhnya pada Argantara, "Jika kau masih ingin menyelesaikan acara resepsimu ini hingga akhir." ancam Ayaz, tak lupa berbisik tepat di telinga Argantara.
Lagi dan lagi, Argantara hanya bisa menggeleng pelan, sumpah demi apapun ia tidak pernah membayangkan kalau kejadian seperti ini akan menimpanya. Anak dan menantu yang terbuang, nyatanya adalah orang yang paling berpengaruh bagi kesenjangan hidupnya, sayangnya ia telah menyia-nyiakan itu.
Lalu, Ayaz menarik pinggang Yaren semakin mendekat, ia senang sekali memamerkan kemesraan meski Yaren tampak sedikit keberatan. "Menurut saja!" bisik Ayaz.
Yaren seolah terhipnotis, ia sedikit menundukkan pandangannya. "Seharusnya kau tidak menyapanya seperti tadi sayang, lihatlah... Yang kau dapatkan nyatanya hanya penolakan!" sindir Ayaz.
"Ayaz..." lirih Yaren, sumpah demi apapun ia tidak bermaksud untuk menghadapi kondisi seperti ini.
"Bukankah tadi dia sudah mengatakan bahwa kau sudah sepenuhnya diberikan padaku, bahkan dia adalah orang tua yang tidak peduli jikapun anaknya ini mau ku apakan!" Ayaz mengingatkan lagi apa yang sempat dikatakan Argantara. "Bukankah benar begitu, Argantara?" Ayaz menatap nyalang lagi Argantara.
Tangan Yaren mengepal, ia benci dengan keadaan ini, matanya sudah memanas dan mungkin sebentar lagi air matanya akan jatuh. Sebenarnya ia juga tidak menyangka kalau Papanya akan mengatakan hal setega itu padanya.
Jangan menangis Yaren, jangan menangis...
"Papa... Ke mana aja sih, di cariin juga malah ngobrol di sini sama..." Wana spontan langsung saja menghentikan perkataannya saat melihat siapa yang menjadi lawan bicara suaminya itu.
__ADS_1
"Kalian!" berangnya sungguh geram, mengapa bisa Yaren berada di sini pikirnya, ia rasa tidak pernah mengundang Yaren, dan juga suaminya itu tidak pernah menyinggung tentang Yaren di beberapa hari sebelum resepsi ini.
Yaren tidak berniat menyapa Ibu tirinya itu, benar kata Ayaz, dirinya memang tidak pernah dianggap ada oleh keluarganya, jangan mengharapkan apapun, hanya sebuah undangan pun mereka tidak sudi.
Apa benar dirinya sudah benar-benar dibuang? Tiba-tiba saja Yaren merasakan hatinya begitu hancur. Kenapa begitu kejam, ke mana perginya rasa cinta kasih yang ditunjukkan Papanya semasa dulu, apakah sudah hilang, atau mungkin benar apa yang dikatakan Jovan, Argantara memang tidak pernah tulus dalam menyayanginya.
Ayaz juga diam, menunggu penghinaan yang dilakukan Wana selanjutnya, orang seperti Argantara dan Wana memang harus diangkat setinggi mungkin supaya bisa menghempaskan keduanya begitu menyedihkan.
"Kalian? Berani kalian datang ke sini? Dan kamu!" Wana meneliti gaun pesta yang dikenakan Yaren, ia tau itu adalah gaun mahal yang dirancang oleh perancang busana ternama, dan ia merasa Yaren tidak pantas mengenakannya. "Apa kau begitu ingin terlihat seperti seseorang yang kaya, sehingga harus menghabiskan seluruh uangmu hanya untuk datang ke pesta kami? Lihatlah gaun yang kau kenakan, sangat tidak pantas dipadankan dengan wajah kampunganmu itu!" ucap Wana semakin giat mencaci.
Ayaz tidak bisa tinggal diam, dengan pasti ia langsung saja menampar wajah Wana. "Plakkk!"
"Ayaz..."
"Asshhh!"
Yaren dan Wana langsung saja bersamaan mengeluarkan suara. Sementara Argantara hanya bisa menatap istrinya dengan ngilu.
"Rendahan!" umpat Ayaz.
Yaren merasakan ngilu di pipinya melihat bekas kemerahan di wajah Wana, namun ia juga tidak bisa berbuat apapun, bolehkah ia katakan kalau Wana memang sudah keterlaluan dan ia rasa memang pantas mendapatkan tamparan itu.
Argantara tampak kelimpungan, belum sempat ia mengatakan keadaan yang sebenarnya pada sang istri, namun istrinya itu sudah lebih dahulu bertindak. Jika sudah terjadi hal seperti ini, maka apa lagi yang harus diirnya lakukan selain meminta pengampunan.
Ramainya acara membuat apa yang terjadi padanya tidak begitu dihiraukan orang banyak, namun tetap saja terlihat ada beberapa tamu yang menatap heran perdebatan mereka.
Terlebih Argantara mulai panas kala mendengar beberapa tamu mulai berbisik-bisik mengomentari keadaan keluarganya.
"Itu bukankah Yaren? Anak almarhum istrinya Tuan Argantara dulu, ke mana saja dia? Mengapa baru terlihat lagi?"
"Ah ya, jika di pikirkan, sejak tadi aku memang tidak melihat putri sulung Tuan Argantara itu, kau benar, ke mana saja dia!"
"Aku pernah mendengar kabar, kalau Nona Yaren Motan membatalkan pernikahannya dengan Juragan Marli waktu itu, dan dia di usir dari kediaman Argantara karena kekeh ingin menikah dengan pacarnya, apa pria tampan di sebelah Nona Yaren itu adalah suaminya, seorang pacar yang ingin dinikahinya waktu itu? Gila, hebat sekali!"
__ADS_1
"Benar begitu?"
"Entahlah, tapi setelah melihat ini, sepertinya benar!"
"Iya kau benar, pria itu sangat tampan!"
"Bule ya?"
"Benar benar!"
"Whoaahh, aku sangat iri!"
"Mereka terlihat sangat serasi!"
"Ayo kita ke sana! Mendekat dan lihat apa yang sebenarnya terjadi!"
Argantara memejamkan matanya, ia tidak punya waktu untuk berdebat, apa lagi membela diri, tidak punya pilihan lain, lalu ia mendekat ke arah Ayaz dan langsung saja mengambil alih tangan pria yang sempat menjadi menantu terhina itu. "Jangan lalukan apapun, aku mohon!" lirihnya berbisik.
Ayaz tersenyum smirk, ia tidak bodoh, masa iya dirinya harus berbelas kasih sementara wanitanya sudah di hina seperti tadi, seharusnya Argantara tahu kalau ia tidak punya hati seluas samudra.
"Saya akan melakukan apapun, yah apapun!" lanjut Argantara kembali memohon.
Ayaz sedikit menjauhkan diri dari Argantara, matanya masih menatap remeh keluarga Yaren itu, "Kalian pikir saya bisa bermurah hati? Sama sepertimu yang tidak mudah menghancurkan rasa amarahmu pada Yaren, dan aku pun sama! Tidak akan mudah menghancurkan amarahku ini pada kalian berdua!" ucap Ayaz.
"Tuan Ayaz!" Argantara langsung saja memanggil Ayaz dengan hormat, Wana yang belum mengetahui apapun sampai tercengang dibuatnya.
"Hahahaha!" Ayaz tergelak, sementara Argantara menampilkan mimik redup.
Yaren hanya bisa mend*sah pelan, ingin ikut campur namun juga tidak yakin bisa mencegah Ayaz. Tapi ia menggenggam lagi tangan Ayaz erat, semoga saja Ayaz mengerti apa maksudnya.
"Apa? Kau bilang apa? Aku tidak dengar!" tanya Ayaz lagi, ia masih tergelak, lucu sekali melihat sikap Argantara yang kini langsung saja menjadi seorang penjilat.
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...