Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Rencana yang sudah ketahuan!


__ADS_3

Mobil pun sampai di kediaman keluarga Donulai, sebuah rumah megah tampah berdiri kokoh membuat takjub mata Rymi yang memandangnya.


"Kau tunggulah sebentar, aku hanya mempersiapkan segalanya untuk Ayahku!" ucap Sam pada Rymi.


"Baik Pak!"


Sam masuk ke dalam rumah membawa koper Ayahnya, mengantar Ayahnya ke kamar untuk beristirahat.


"Aku akan kembali bekerja, aku usahakan untuk pulang lebih awal Ayah." pamit Sam.


"Baiklah..."


"Sam..." seru Tuan Donulai mencegah langkah Sam.


"Ya Ayah!"


"Apa kau jadi mengganti namamu di sini?" tanyanya.


"Iya, aku memakai nama Rangga." jawab Sam.


"Baiklah Rangga."


Sam mengangguk pelan. Dirinya bergegas menuju cafe tempat dirinya akan bertemu kolega bisnis.


Sementara di mobil,


Rymi membaca pesan singkat yang dikirimkan Ayaz padanya, mengatakan bahwa mereka tidak jadi melakukan rencana B karena kepergian Rangga Donulai yang tiba-tiba ke bandara. Dan akan melakukan sesuatu lagi besok hari.


Rymi membalas 'Iya' menandakan dirinya sudah mengerti.


"Apa lama?" tanya Rangga tiba-tiba saat dirinya membuka pintu.


"Ah, hanya sebentar Pak!" sahut Rymi canggung. Mengapa Bosnya nampak berbeda kala di luar kantor seperti ini, tidak galak, tidak cuek, dan tidak judes, malah yang ada begitu perhatian padanya.


"Mau langsung, atau kamu punya tempat makan yang bagus di daerah sini?" tanya Sam.


Dirinya menyukai Sekretarisnya itu, orangnya ceria dan menurutnya lumayan asik, dan yang penting tidak menggunakan posisi jabatan untuk menggodanya seperti sekretaris-sekretaris lainnya yang dirinya dapat semasa memimpin salah satu perusahaan Donulai sewaktu di Itali.


Hanya saja saat di kantor, dirinya diharuskan bersikap tegas, jadi dia tidak bisa menunjukkan perhatiannya pada siapapun.


Mungkin perasaannya baru sebatas suka dalam artian menjadi teman, Sam juga tidak mempunyai kenalan sama sekali di kota ini, selain Ayaz itupun jika Ayaz masih benar-benar bertahan hidup. Maka dari itu ia mulai menganggap wanita sekretaris itu sebagai temannya, namun dia enggan mengakuinya.


Padahal tidak tau saja dirinya siapa Rymi, pesona seorang Rymi, mungkin juga sebentar lagi Sam akan terperangkap.

__ADS_1


Rymi memang selalu bersikap apa adanya, tidak jaim dan tidak mencoba menjadi orang lain selama dirinya menjalankan misi dari sang Ayah, Rymi yakin lawannya pasti akan menyukai dirinya yang apa adanya, dan pastinya itu sudah terbukti karena setiap kali dirinya selalu berhasil. Sudah banyak targetnya yang takluk akan seorang Rymi.


Gadis manis itu tau betul membuat targetnya menjadi begitu menyukainya.


Hanya saja, kemarin dirinya memang sedikit kesal dengan perlakukan Rangga Donulai.


"Terserah Bapak saja!" jawab Rymi.


"Baiklah! jalan Kan!" titah Sam pada sopirnya.


"Baik Pak!"


...***...


Ayaz sudah bangun saat hari sudah sore, dilihatnya Yaren juga berbaring di sampingnya.


Wanita yang bukan tipenya itu sekarang sudah resmi menjadi istrinya.


Ayaz mendekatkan wajahnya, dan tanpa sadar dirinya spontan sudah mengecup bibir ranum Yaren. Begitu menggoda sehingga tanpa sadar Ayaz bertindak gegabah.


"Ugghh," lenguh Yaren.


Ayaz kembali ke posisi tidurnya tadi, memejamkan mata berpura-pura tidur lagi.


Yaren terbangun, dilihatnya Ayaz yang masih tertidur pulas.


"Apa sih aku ini, bisa-bisanya berpikir Ayaz begitu!" Yaren gemas dengan dirinya sendiri, wanita itu bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Menghilangkan perasaan berdebar saat dirasanya Ayaz melakukan serangan ciuman diam-diam padanya tadi, nyatanya Yaren benar-benar mengira semua itu memang hanya mimpi.


Ayaz tergelak kecil hampir tidak terdengar, istrinya itu ternyata sangat menggemaskan.


Ayaz bangkit dan menyandarkan belakangnya pada kepala ranjang, dengan wajah khas bangun tidurnya supaya Yaren lebih percaya bahwa dirinya benar-benar baru bangun tidur.


"Yaren..." panggilnya.


"Iya!" sahut Yaren terdengar dari kamar mandi.


"Kau sudah lama di kamar mandi? Cepat, aku sudah tidak tahan!" teriak Ayaz.


"Iya sebentar!"


Tidak lama, Yaren keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh. Ayaz bangkit dan langsung menyambar handuk menuju kamar mandi.


Yaren sungguh bingung mau melakukan apa, perutnya yang memang hanya di isi saat sarapan hari ini nampaknya mulai manja, Yaren lapar.

__ADS_1


Wanita itu menunggu Ayaz keluar dari kamar mandi, nanti rencananya dirinya akan mengajak Ayaz keluar untuk mencari makan, atau paling tidak menyuruh Ayaz untuk.memesan makanan lewat layanan kamar hotel ini.


"Ada apa?" tanya Ayaz saat sudah keluar dari kamar mandi. Melihat Yaren yang sepertinya bosan membuatnya ingin bertanya.


"Ayaz, aku lapar!" keluh Yaren.


"Hehe!" Ayaz tergelak kecil. "Ya sudah, tunggu sebentar." Ayaz menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan segera ke kamarnya.


"Tunggulah, sebentar lagi makanannya sampai."


"Iya!"


Ayaz mengganti bajunya di hadapan Yaren, pemuda itu memang tidak punya malu, apa lagi baginya Yaren adalah istrinya.


"Ayaz, kau..." Yaren ingin protes namun tidak jadi, karena bagi Ayaz suaranya bukanlah apa-apa. Tidak dibutuhkan!


"Kau harus terbiasa Yaren!" ungkap Ayaz.


"Iya!" pasrah Yaren.


"Dengar, aku akan keluar sebentar, kau di sini saja, ingat jangan ke mana-mana apalagi mencoba untuk kabur!" pesan Ayaz, kemudian pria itu benar-benar pergi meninggalkan Yaren lagi.


Sebenarnya ke mana sih dia, hari pertama pernikahannya saja dia bahkan lebih memilih kerja.


Tapi seharusnya kan aku senang dia tidak berada di sini, aku bisa sedikit tenang tanpa ancamnya.


Tok tok tok, pintu diketuk. Yaren segera membuka pintu, dirinya yakin pastilah pihak hotel yang mengantarkan makanan untuknya.


Ceklek, dan benar saja satu meja penuh dengan makanan di dorong oleh waiters hotel itu.


"Atas nama Ayaz Diren?" tanya waiters tersebut.


"Iya!" jawab Yaren.


Setelah makanan itu diantar dan kedua waiters yang mengantarnya tadi keluar, Yaren langsung saja bersantap ria, perutnya sudah sangat lapar pagi tadi dirinya hanya memakan nasi goreng.


Tanpa dirinya sadari, semua makanan yang tersaji itu sudah ludes seketika, "Astagah..." pekiknya tidak percaya. "Mati aku, bagaimana dengan Ayaz? Mengapa aku habiskan? Ini enak sekali aku jadi lupa untuk berbagi!"


Seketika Yaren menyesal karena telah bagai begitu rakus, namun sesaat lagi dirinya tersenyum smirk, bangga atas pencapaiannya, Ayaz pasti tidak akan tahan dengannya. Ayaz pernah berkata akan melepaskannya jika pria itu sudah bosan, dan Yaren baru saja mendapatkan ide tentang itu.


"Survei membuktikan sembilan dari sepuluh pria tidak akan menyukai wanita yang rakus, makan banyak seperti ini, aku akan membuat Ayaz jenuh dengan sikap gilaku ini, sehingga dia tidak akan tahan lalu dengan sendirinya melepaskan aku, hahahaha!" Yaren tertawa jahat, sebuah rencana kini sudah terekam di otaknya.


"Dan aku akan menjadi satu yang tidak masuk hitungan survei itu! Hahahaha!" tawa Ayaz menyambut tawa Yaren tiba-tiba. Sayangnya dia juga bahkan mendengar ide gila Yaren tadi, sungguh rencana yang sudah ketahuan!

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2