
"Samudra... Dia, apa benar aku sudah membunuhnya?" seseorang sedang menangis membayangkan apa yang baru saja dirinya lakukan, namun beberapa detik kemudian ia juga tertawa terbahak-bahak, menganggap tindakannya memang sudah benar.
Samudra, memang harus dirinya bunuh, itulah tujuannya hidupnya. Akan tetapi, mengapa perasaannya menjadi begitu bersedih, mengapa ada sesak di dadanya saat ia berhasil membunuh orang yang bernama Samudra itu.
Flashback.
"Kau tau, suamiku sudah sering mengatakan ini, begitu kau dipertemukan dengan seseorang bernama Samudra, maka kau akan membalaskan seluruh rasa sakit hatimu bukan?" tanya Amla, ia mendekati jeruji besi itu, di dalamnya ada sepasang suami istri yang sudah begitu sulit dikenali. Wajahnya dekil, rambutnya berantakan, pakaian usang itu membuat mereka tak ubah seperti gelandangan yang sedang menunggu kematian.
"Iya, aku pasti akan membunuhnya!" ucap yakin pria itu.
"Kau tidak akan ragu?" tanya Amla lagi.
"Suamiku, apa kau benar-benar ingin membunuh orang? Tangan bersihmu ini, apa tidak apa jika kau nodai?" tanya sang istri.
Suaminya tertawa keras, "Hahahaha, aku sudah sangat lama menantikan ini, istriku... Hanya ini, hanya ini satu-satunya cara supaya kita bisa pergi dari tempat gelap ini, di sini dingin, aku tidak bisa membiarkanmu berada di sini terlalu lama!" sahut sang suami.
"Aku tidak akan ragu, karena Samudralah aku harus menanggung derita seperti ini, aku benar-benar membencinya!" tangan itu mengepal, memikirkan hidupnya yang penuh dengan derita, rasanya jika harus dibayar dengan membunuh orang mungkin sudah takdirnya hidup seperti itu.
Lagi pula, ia benar-benar membenci Samudra, anaknya itu bahkan tidak pernah menemuinya selama ini, rasa kecewa mengumpulkan amarah di hatinya.
"Kau masih ingat wajahnya?" tanya Amla, seharusnya pria itu memang tidak lagi mengingat sosok Samudra, selama ini Sian sudah merancang semuanya, pasangan suami istri ini sudah dirawat oleh Sian dengan sepenuh hati untuk menjadi pembenci nomor satu, memberikan obat yang bisa menghilangkan ingatan, menyiksa mereka dengan memberikan informasi palsu, Sian mengatakan bahwa Samudralah orang yang menyuruhnya untuk mengurung mereka di sini.
Sian mengatakan Samudra memanglah benar anak dari pasangan suami istri itu, namun hal yang diceritakan Sian benar-benar mengganggu kewarasan keduanya. Sian membuat cerita karangan, memanfaatkan lupa ingatan yang diderita keduanya.
Bahwa Sam sudah menjadi orang besar di luar sana, dan Sian tidak lebih hanyalah bawahan yang hanya sesekali ditugaskan untuk melihat keduanya.
__ADS_1
Sian berakting seolah-olah menjadi orang yang paling baik, membela keduanya saat para penjaga penjara menyiksa pasangan suami istri itu, sungguh dramatis hingga membuat keduanya tersentuh.
Sekian bulan, sekian tahun, Sian menghasut mereka untuk membenci Sam, dan hal tersebut berhasil membuat keduanya sangat berketergantungan dengan Sian, pasangan suami istri itu bahkan tidak ragu untuk membunuh Samudra.
Bagi mereka, Samudra adalah penyebab penderitaan mereka, anak yang tidak tau diuntung, anak durhaka yang meninggalkan orang tuanya, dengan tega menyiksa orang tuanya sendiri.
Padahal, semua itu... Sudah dirancang oleh Sian, keduanya akan dijadikan senjata saat Sam ataupun Ayaz membalas dendam padanya.
"Tidak, aku tidak peduli akan berandal itu!"
"Bagus!" ucap Amla.
Ini adalah murni rencananya, rencana kedua yang akan dirinya gunakan jika ia tidak bisa melawan Ayaz. Bahkan, Sian pun tidak mengetahui kalau dirinya akan bertindak seperti itu.
"Aku akan membebaskan kalian berdua!" ucap Amla.
"Benarkah Nyonya?" tanya sang istri.
"Kalian akan ikut denganku ke sebuah tempat, di sana kalian akan aman, sementara kau..." Amla menunjuk sang suami pasangan itu. "Malam ini Samudra akan datang ke suatu tempat, dia begitu arogan, yah seperti yang selama ini sudah kalian dengar, siapapun akan tunduk padanya, kesempatan itu... Gunakan sebaik-baiknya, akhirnya kau bisa membalaskan dendam kalian, aku akan sangat senang melihat kalian bisa bebas nantinya."
"Nyonya, kebaikan Nyonya, akan selalu saya kenang, saya akan membalas budi suatu hari nanti." ucap sang suami.
"Benarkah?" Amla pura-pura begitu bersemangat, matanya berbinar melayangkan ekspresi tidak percaya. "Tidak usah sungkan, aku hanya bisa membantu semampuku, sebagai orang tua, aku yang masih muda ini sungguh tidak tega melihat kalian diperlakukan tidak adil begini, maafkan aku... Selama tiga tahun lamanya, baru hari ini aku bisa menyelamatkan kalian, aku benar-benar takut akan kemarahan Samudra, aku benar-benar tidak berguna! Tapi... Sekarang aku sudah bertekad, kalian berhak mendapatkan keadilan!"
"Kalian akan menyelamatkan diri kalian sendiri, kita akan bertemu lagi nanti saat kalian sudah benar-benar bebas... Aahhh, aku sudah menunggu saat itu tiba." Amla tersenyum puas mengucapkan itu.
__ADS_1
"Terimakasih Nyonya, terimakasih!" ucap pasangan suami istri itu bersamaan.
Amla dengan bujuk rayunya pada penjaga penjara itu, ia berhasil membuat penjaga itu percaya bahwa perintah mengeluarkan kedua orang itu adalah perintah Sian.
Sang istri dibawa oleh Amla ke suatu tempat, ia mengatakan dan menyuruh wanita itu bersembunyi untuk sementara waktu.
Sedang sang suami, Amla dengan senang hati membawa pria itu menuju istana kediaman utama Sian, ia menyuruh pria itu menunggu dan mengatakan seseorang yang bernama Samudra nantinya benar-benar akan datang.
Setelah itu, sekitar lima jam berlalu, Amla melihat Ayaz berkeliaran di rumahnya, wanita itu begitu merindukan sosok anak tirinya itu, ia dengan tidak tau malunya mencoba menggoda Ayaz sekali lagi.
Namun, perlakuan tidak mengenakkan dari Ayaz harus dirinya tanggung sebab mencoba menyentuh Ayaz, Ayaz yang tidak pernah memandangnya sebagai seorang wanita itu tidak tanggung-tanggung meludah dihadapannya, menolaknya lagi dan lagi, serta yang lebih parah dengan kejam membanting tubuhnya hingga membuat tulang punggungnya patah.
Amla benar-benar sangat menginginkan Ayaz. Apa lagi dilihatnya, wajah dan tubuh sempurna Ayaz saat sekarang ini, sungguh menambah kadar sukanya pada pria itu. Namun di samping itu, kekecewaan juga dirinya rasakan, Ayaz menurutnya benar-benar sudah keterlaluan.
Amla mengedipkan mata pada salah satu orang kepercayaannya, orang itu tanpa sepengetahuan Ayaz melangkah menjauh dan pergi, orang kepercayaan Amla itu gegas menuju sebuah ruangan, dan mengambil sebuah pedang yang sudah disiapkan oleh majikannya.
Amla sudah merencanakan itu, jika dirinya tidak bisa mendapatkan Ayaz, maka istri dari Ayaz ataupun wanita lain, juga tidak berhak untuk mendapatkan pria itu.
"Orang yang bernama Samudra bahkan sudah membuat patah tulang Nyonya Amla, para penjaga dan pengawal juga sudah tumbang karena dibantai habis olehnya, hanya Tuan yang bisa menyelamatkan kami!" ucap orang suruhan Amla itu sungguh memohon belas kasih, orang itu memberikan sebuah pedang dan pria menyedihkan itu dengan pasti menerimanya.
Pria itu melangkah keluar dengan hati-hati, dilihatnya orang yang dianggapnya adalah Samudra, seketika kebencian begitu menyeruak di dadanya. Tangannya mengepal, ingin segera melakukan apa yang sudah ada di lintas pikirannya.
Langkah kakinya mendekat, semakin mendekat, Samudra baginya sedang berdiri dengan gagahnya, dan "Sraakkkk..."
Flashback off.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...