Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Karena Ayaz...


__ADS_3

Amla masih bersikeras tidak percaya, bagaimana bisa semua ketiga psikiater yang dirinya temui malah menyatakan hal yang sama, mengatakan bahwa dia benar-benar mengalami gangguan mental.


“Gangguan mental, bagaimana mungkin!” Amla, mendengar kata itu saja dirinya sudah bergidik ngeri.


Ia mengambil ponsel di tas mahalnya, namun kekesalannya menjadi semakin memuncak kala tangannya tidak sengaja meraba beberapa obat yang baru saja diresepkan olehnya.


“Sialan!” umpatnya sembari membuang tasnya sembarang.


“Kurang ajar sekali mereka!”


Amla mengambil minum yang memang sudah ada di atas nakas, menuangkannya segelas penuh dan lalu menenggaknya.


Masih enggan percaya dan sepertinya tidak akan pernah percaya.


Lalu langkahnya menuju keluar kamar, ia ingin menikmati pemandangan malam saja, untuk menghilangkan rasa khawatir terhadap kondisinya.


“Nyonya!” ucap seseorang.


Amla menoleh, dan seketika dirinya terkejut, “Kau... Kaaauuu...” tunjuknya tidak percaya.


“Ya, saya... Apa Nyonya membutuhkan sesuatu, keluar malam-malam begini?” tanya seseorang itu.


“Kau... Siapa kau?” bentak Amla.


“Bukankah saya sudah pernah memperkenalkan diri, saya Musi Nyonya, kepala pelayan yang baru!”


Hah? Musi, apa dia baru saja mengatakan namanya adalah Musi? Tapi, bukankah waktu itu aku hanya bermimpi, jadi jika dia memang Musi... Lalu yang aku alami kemarin...


“Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?”

__ADS_1


“Tidak! Ah maksudku... Tidak sekarang!” Amla sedang berusaha menetralkan kerja jantungnya, “Apa kau benar bernama Musi?” tanyanya tak cukup.


“Benar Nyonya, Nyonya bisa membaca resume saya jika Nyonya ingin memastikan!” sahut ketua pelayan yang bernama Musi itu.


“Tapi... Kau begitu mirip dengan seseorang?” ucap Amla lagi.


“Seseorang?”


“Iya, kau mirip dengan seorang pelayan yang bertugas dulunya!” ungkap Amla.


“Mungkin hanya mirip, Nyonya!”


“Ahh... Benar juga!”


“Apa pelayan itu punya masalah dengan Nyonya sebelumnya?”


“Maafkan kelancangan saya Nyonya!”


“Kau sungguh ingin tau? Apa kau menang sedang mencari tau?”


“Maafkan kelancangan saya Nyonya, sungguh saya hanya bertanya biasa, karena melihat begitu banyaknya pelayan yang bekerja untuk keluarga Nyona selama ini, tentunya jika Nyonya bisa mengingat seseorang dengan jelas barang kali saja seseorang itu adalah seseorang yang spesial untuk Nyonya!”


“Spesial? Kau kira seorang pelayan akan mendapatkan apa? Perlakuan manis? Mimpi saja!” kasar Amla.


“Maafkan saya Nyonya!”


“Sudahlah, aku ingin berjalan sebentar, kau bisa membuatkan aku teh melati? Tolong bawa ke kamarku, aku akan menikmati setelahnya!” pinta Amla.


“Baik Nyonya!”

__ADS_1


***


“Ada apa?” tanya Rymi saat melihat wajah kusut calon suaminya itu.


“Aku harus membujuk Ayaz sekali lagi!” jawab Sam, ia memang tengah memikirkan kata-kata rayuan dan bujukan semacam apa yang akan ia katakan pada Ayaz, supaya sahabatnya itu bisa peduli sedikit saja terhadap Donulai.


“Membujuk?”


“Ayah ingin bertemu lagi dengannya, Ayah bilang ini adalah permintaannya pada Ayaz untuk yang terakhir kalinya.”


“Terakhir kalinya?” heran Rymi.


“Iya! Dia tidak akan memaksa Ayaz, namun sembari berucap demikian aku sungguh tau kalau beliau menggantungkan harapan besar padaku!” jelas Sam.


“Dan rencanamu?”


“Aku tidak bisa membujuk Ayaz, kau tau kan, dia bahkan tidak mengakui Donulai!” lanjut Sam lagi.


“Ayaz memang keras kepala, aku bisa mencoba membujuknya, tapi... Mungkin untuk sekarang memang tidak mungkin!” ucap Rymi. Yah sebenarnya dia bisa melakukan itu, tapi jelas saja untuk sekarang tidak bisa dilakukan, karena kasus Ali Yarkan masih menunggu Ayaz untuk sesuatu yang lebih besar.


“Kenapa?” tanya Sam.


“Karena Ayaz...”


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....


 

__ADS_1


__ADS_2