
"Bagaimana?" tanya Jovan. Melihat Ayaz yang sudah kembali ia berniat untuk menanyakan pasal rumah yang terbakar.
"Hangus! Aku mengasuransikan rumah itu sebelumnya atas nama Yaren, mungkin harus menunggu dia pulih dulu baru berkasnya bisa diurus." jawab Ayaz.
"Hemmm, bagaimana perasaanmu?" tanya Jovan lagi.
"Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi." sahut Ayaz.
"Maksudku..."
"Aku tidak mau membahas itu untuk saat ini Jo, aisshhh, aku bisa gila lebih cepat jika memikirkannya." ucap Ayaz kesal seakan mengetahui apa maksud Jovan.
"Tadi dia ke sini!" ucap Jovan.
Ayaz diam saja, tapi Jovan tau adik iparnya itu tentu akan menyimak apapun yang dirinya sampaikan.
"Dia hanya bertanya mengenai kondisi Yaren." lanjut Jovan.
Ayaz masih diam.
"Aku melihat raut wajahnya, seperti menyesal telah berdebat denganku."
Jovan melirik ke arah Ayaz, "Kau memiliki kehidupan sendiri, aku tau itu."
Ayaz menunduk, "Seharusnya aku bisa dengan mudah saja meninggalkannya kan."
"Bahkan kau sudah pernah pergi darinya waktu itu."
"Itu sebelum aku mengetahui kenyataannya, aku pergi karena dia yang ingin aku dan Rym tetap membunuh Sam waktu itu, aku bisa saja meninggalkannya, aku hanya tidak mau mengikuti kemauannya dan aku merasa aku harus lepas darinya, itu adalah cara satu-satunya untuk meyelamatkan Sam." jelas Ayaz.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Rasanya mudah saja, meski aku juga sedikit bersedih, tapi entah kenapa..."
"Kali ini ada rasa yang berbeda, kau sudah mengetahui kebenarannya, dan akui saja itu membuat dirimu semakin sulit menghadapinya."
"Jo, aku tidak tau kapan kita menjadi dekat, tapi kau seakan mengetahui kehidupanku. Kau seolah sudah tau banyak mengenaiku."
"Ayaz, aku hanya mencoba memahamimu, aku tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan, tapi aku setidaknya bisa mencoba paham."
"Aku sebenarnya tidak ingin kau bersikap peduli begini, tapi entahlah... mengapa aku bisa begitu saja menerimanya." ucap Ayaz, sebenarnya ia tidak ingin terlihat begitu menyedihkan di hadapan Jovan, namun mau bagaimana lagi, jika bukan karena Jovan yang mau mengertinya kali ini, mungkin ia sudah mengamuk dan sulit mengendalikan diri.
"Kadang, laki-laki pun harus sesekali menangis menumpahkan segala keluh kesahnya, sebak itu kalau dipendam sendirian tidak akan ada obatnya selain kau menceritakannya."
"Kau ingat dulu, saat aku bercerita padamu kalau aku punya adik, aku tau saat itu kau tidak sepenuhnya tanggap akan masalahku, tapi setidaknya aku menghargaimu dan cukup berterimakasih, paling tidak kau sudah mau mendengarkan keluh kesahku, rasa takutku, yang entah harus kuceritakan pada siapa."
Ayaz tersenyum miris, sebegitu teganya kah dirinya dulu, yah mungkin memang seperti itu, dulunya ia tidak pernah peduli akan masalah orang lain selain masalah Rymi, jadi saat itu, saat Jovan sedang mencurahkan isi hatinya, Ayaz tentu saja hanya menanggapi seadanya, atau yang sebenarnya tidak benar-benar peduli.
"Kau ingin mengingatkanku?" Ayaz menatap curiga pada kakak iparnya itu.
"Yah, semoga saja kau tidak lupa." ucap Jovan tanpa bersalah.
...***...
Rymi melihat sesuatu yang lain saat dirinya menatap tubuh tak berdaya Sian, pria tua yang sekarat itu tidak lagi bergerak semenjak beberapa menit lamanya, apa yang terjadi.
Rymi bangkit dan langsung saja memeriksa, dan benar saja kali ini Ayaz harus menerima kalau Sian telah tiada.
"Whoaaa, sudah tewas dia!" gumam Rymi.
Lalu ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Ayaz, mengabarkan kalau tawanannya sudah tiada.
Setelahnya, Rymi pergi meninggalkan ruangan itu, kemudian menyuruh anak buah Marco untuk menyiapkan segala keperluan untuk membereskan Sian.
__ADS_1
Ayaz yang mendengar kabar dari Rymi kalau Sian sudah tiada, entah harus merasakan apa, rasanya puas pun tidak bisa dirinya rasakan, jujur saja selama ini mungkin ia hanya ingin melihat Dian menderita, mendengar berita kematian Sian kali ini rasanya bagai sebuah pukulan baginya, benarkah Ayaz menyayangkan hal itu.
Ayaz bergegas menuju pelabuhan, ia kembali menitipkan Yaren pada Jovan, dan Jovan pun tidak merasa keberatan.
Sesampainya di pelabuhan, Ayaz langsung saja bergegas menuju kapal besar milik Marco, ia langsung melihat keadaan Sian.
Di sana sudah ada Rymi yang sedang duduk santai menunggui tubuh Sian yang sudah menjadi mayat.
"Jadi?" tanya Rymi langsung.
"Sesuai rencana!" ucap Ayaz.
"Kau lepaskan saja dia, aku tidak mau mengurus mayatnya." ucap Rymi lagi, tubuh Sian juga masih terikat oleh kawat besi, mata yang sudah busuk bernanah kini terlihat sudah menyebar pada mata sebelahnya, sebagian tubuh Sian juga sudah membiru akibat luka yang tidak pernah diobati, tampaknya Sian benar-benar mengalami siksaan sebelum mencapai kematiannya.
"Kau ini!" gerutu Ayaz. Namun geraknya juga langsung saja melepas kawat besi yang membelit tubuh Sian, membuka ikatan pada tangan dan kaki Sian, dalam setiap geraknya Ayaz tidak berhenti berpikir, mengapa rasanya ia tidak bisa mencapai kepuasan saat melihat Sian sudah tiada seperti ini.
Bukankah ini sudah biasa baginya, saat Marco menyiksa tergetnya sampai mati dirinya tidak pernah merasakan belas kasih, padahal tidak jarang ia yang melakukan semua itu, namun saat ini di hadapannya adalah Sian, orang yang memang sudah lama ditargetkan olehnya untuk dibunuh, tapi mengapa seolah dia merasakan kehancuran juga.
Hanya sedikit kenangan sebagai ayah dan anak semasa hidup antaranya dan Sian, seharusnya tidak akan bisa membuat orang yang jahat seperti dirinya meragu.
"Aku sudah berhasil membalaskan dendamku!" gumam Ayaz pelan. Namun rasanya ada sesak yang ia rasakan, mengapa?
"Kau seperti tidak ikhlas?" tanya Rymi, ia bisa membaca wajah meragu Ayaz jadi dia menanyakan kenapa.
"Apa yang kau katakan? Aku sudah lama menginginkan ini!" sahut Ayaz, ia menyuntikkan sesuatu pada tubuh Sian, membuat tubuh itu akan membaik dengan sendirinya. Bekas luka dan segala penyiksaan yang tersisa pada tubuh Sian pelan-pelan akan menghilang. Ayaz hanya tinggal menunggu reaksinya.
Seorang dokter pun tak lama datang, kemudian para asistennya membawa tubuh Sian pada tempat yang sudah disediakan, Ayaz mempersilahkan untuk segera memeriksa tubuh Sian, dokter itu kemudian membersihkan mata Sian yang sudah membusuk, mengobati luka dan sedikit melakukan operasi kecil pada bagian mata itu.
Dua jam sudah berlalu, jika dilihat dari luarnya, Sian bahkan seperti orang yang beristirahat dengan damai. Seolah tidak pernah terjadi apapun pada tubuhnya. Bersih dan tidak ada bekas luka atau apapun yang bisa membuat orang lain mencurigai kalau Sian mati dengan mengenaskan di tangan Ayaz.
Segalanya ini, begitulah cara Marco menangani musuh-musuhnya saat harus berujung dengan kematian.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...