Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku tidak menangis!


__ADS_3

"Lepaskan aku!" bentak Yaren sembari memberontak, sebisa mungkin ia melepaskan diri dari kedua pengawal yang ingin menyeretnya kembali ke kamar.


"Lepaskan aku, bodoh! Kalian sialan! Aku harus menemui suamiku!"


Yaren benar-benar kalut, tidak biasanya ia berbicara kasar, namun siapapun pasti akan terbawa emosi seperti dirinya jika diperlakukan seperti itu.


"Aku hanya ingin menemui suamiku, sialan kalian, lepaskan aku!" teriaknya menggila.


"Nona tenangkan diri Nona!"


"Lepaskan aku!"


"Ayazku masih hidup! Dia tidak mungkin mati!" teriaknya.


Dengan paksaan dan membutuhkan banyak tenaga, akhirnya Yaren bisa kedua pengawal itu bawa kembali ke kamar, mereka menugaskan beberapa pelayan untuk mengawasi dan juga menemani Yaren, jangan sampai nona muda mereka itu melakukan hal yang tidak diinginkan.


Yaren terduduk di lantai, hancur sudah hatinya, perasaannya remuk redam, tidak ingin percaya namun rasanya dia juga meragukan ketidak percayaannya.


"Bagaimana bisa?" wajahnya sudah dibanjiri air mata, Yaren memegangi dadanya dan memukul-mukulnya keras.


"Nona, hentikan itu!" cegah pelayan yang dengan sigap mengambil tangan Yaren, mereka juga ikut merasakan kesedian yang dialami nona muda mereka itu.


"Ayaz..." lirihnya sembari terisak. "Ayaz... Hiks hiks, suamiku tidak mungkin mati, dia sudah berjanji padaku, dia akan menemaniku terus-terusan!"


"Ayazku akan kembali, dia tidak bisa mati begitu saja, Ayaz kau tidak bisa meninggalkan aku!"


"Rymi... Katakan padaku, Daddy jelaskan padaku..."

__ADS_1


Yaren benar-benar meracau, ia sungguh frustasi, ingin menanyakan Ayaz pada siapa tidak juga ada yang menjawabnya, ingin mengadu pada siapa, tidak juga ada yang memahaminya!"


"Dia tidak mungkin mati, Ayazku pasti masih hidup!"


"Tapi... Tapi... Mayat itu, hiks hiks, bagaimana bisa mayat itu?"


"Tidak tidak Yaren, itu bukan Ayaz, kau gila Yaren, kau ini benar-benar sudah gila, bagaimana bisa kau meragukan suamimu hah? Kau tidak tau ya, dia itu orang yang sangat licik, jadi tidak mungkin mati begitu saja!"


"Yah, aku yakin, suamiku masih hidup!"


"Hahahaha! Beraninya mereka bicara omong kosong tentang suamiku!"


"Nona... Tenangkan diri Nona!"


Para pelayan yang menjaga Yaren ikut prihatin dengan kondisi nona muda mereka itu, menangis lalu tersenyum sedikit, kemudian bersedih lagi, tertawa, benar-benar seperti orang yang sudah setengah gila.


Yaren menoleh ke arah pelayan itu, lalu dengan tersenyum dia berkata, "Aku? Memangnya kenapa denganku? Hei, kalian ini! Aku sangat bahagia saat ini! Suamiku masih hidup, kalian tau kan dia tidak akan mungkin meninggalkan aku!"


"Pagi tadi dia bahkan mengirimiku bunga lewat Daddy, dia mengatakan kalau aku harus selalu bahagia! Jadi, tidak mungkin aku bersedih, aku percaya suamiku pasti masih hidup!"


"Kalian juga harus percaya, suamiku itu pasti masih hidup!"


"Jam berapa sekarang?" tanya Yaren cepat. Ia bangkit seolah mempunyai benar-benar cukup energi.


"Eh!"


"Aku tanya, jam berapa sekarang?" bentaknya.

__ADS_1


"Jam... Jam tujuh malam Nona!"


"Hemmm, benarkah? Kalau begitu aku harus mandi! Ayazku akan kembali sebentar lagi, biasanya dia akan kembali saat hari sudah larut, minggir! Aku harus membersihkan tubuhku!"


"Nona..."


"Minggir, aku hanya ingin membersihkan tubuhku!"


Pelayan itu memberikan jalan sembari masih terus mengawasi.


Namun saat Yaren ingin ke kamar mandi, langkahnya terhenti karena tidak sengaja melihat gambaran dirinya di cermin yang terdapat di meja rias.


"Tidak!" pekiknya lagi tiba-tiba.


"Ada apa Nona?"


"Wajahku, tidak... Aku tidak boleh seperti ini!"


"Ada apa Nona?" beberapa pelayan menghampiri Yaren, takut terjadi sesuatu dengannya.


Yaren mengambil tissu di meja rias, ia menggosok kasar wajahnya, "Ayazku tidak boleh melihat aku menangis, dia paling tidak menyukai air mataku, dia pernah mengatakan itu, dia tidak akan suka melihat aku menangis, dia tidak bisa membiarkan air mataku jatuh!" Yaren terus saja meracau tatkala menggosok kasar wajahnya yang pernah dipenuhi dengan air mata.


"Ayaz, aku tidak menangis, aku mohon jangan kesal padaku, lihatlah... Aku tidak menangis! Kau pasti akan kembali malam ini kan?"


"Aku akan selalu bahagia seperti permintaanmu, aku tidak menangis Ayaz, aku tidak menangis!" lirih Yaren.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....


__ADS_2