
"Dia pasti bertahan!" gumam Sam. Tidak ada foto, tidak ada petunjuk apapun, namun dirinya harus menemukan seseorang yang dicari keluarga Donulai.
Tok tok tok,
Suara pintu diketuk, Sam mempersiapkan dirinya, mulai bersikap tegas selayaknya seorang pemimpin perusahaan.
"Masuk!" sahutnya.
Rymi masuk ke ruangan bosnya, dia akan membacakan jadwal Bosnya untuk hari ini.
Sam mulai menyimak, beberapa tempat harus dirinya kunjungi, menghadiri peresmian ini dan itu.
"Di kota C, apa Bapak mau diwakilkan? Jadwalnya hanya selang setengah jam, jika dikejar pun mungkin tidak akan keburu!" ucap Rymi.
"Kota C." gumam Sam.
Adalah kota kelahirannya, di sana banyak sekali keluarga dari Ibunya, yang mungkin juga akan mengenali wajahnya.
"Siapa yang akan mewakiliku?" tanya Sam.
"Kita bisa menyuruh Pak Ahmet, ketua bagian pemasaran, karena ini juga menyangkut pekerjaannya." tawar Rymi.
"Baiklah Merve, kau beritahukan pada dia untuk bersiap-siap menggantikanku, dan kau persiapkan dirimu, kau akan ikut denganku!" suruh Sam.
"Baik Pak!" ucap Rymi. Wanita itu pamit undur diri kembali ke ruangannya.
Kota C, mengapa dia tidak mau mengunjungi kota C, padahal jika kami pergi ke kota C, Ayaz akan lebih mudah melancarkan rencananya, jalan menuju kota itu masih lumayan sepi.
Lalu Rymi mengirimkan pesan pada Ayaz bahwa mereka tidak jadi pergi ke kota C.
...***...
Ayaz membuat kembali rancangan proposal kerja sama, kali ini dirinya juga mengubah nama perusahaan fiktifnya supaya tidak mengundang kecurigaan.
"Bagaimana?" tanya Marco.
"Sedikit lagi selesai." jawab Ayaz.
"Maafkan aku, pengantin baru seharusnya tidak bekerja seperti ini, kau pulanglah setelah ini selesai, biar aku saja yang mengurusnya."
"Tidak, tidak, biar aku saja yang memberikan ini ke DN Company, aku juga harus mengenali seseorang yang sudah berhasil membuat Rymi kesal." sahut Ayaz asal.
"Hahaha, aku malah tidak bisa membayangkan ekspresi wajahnya!"
"Yah, kau benar!"
"Ayaz, aku harus menemui Raihan dulu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya, nanti kau pulanglah jika ini sudah beres!" ucap Marco.
"Ah iya, jangan pikirkan aku, pergilah!" sahut Ayaz.
Setengah jam berlalu, Ayaz sudah selesai dengan pekerjaannya, dirinya menjilid rapi proposal itu, mengganti pakaiannya dengan pakaian formal yang tersedia. Siapa sangka bahwa apa yang dilakukannya hanyalah bohongan.
"Kali ini, akan aku buat dia membacanya secara teliti."
__ADS_1
Ayaz melihat ponselnya, sebuah pesan dari Rymi ternyata masuk ke ponselnya.
📩 Kami tidak jadi ke kota C, kau bisa ubah rencana, jika proposalnya sudah selesai, kau bisa segera kemari, kami akan berangkat dari kantor untuk melakukan perjalanan bisnis sekitar tiga jam lagi dari sekarang.
"Tiga jam dari waktunya... berarti ini masih tersisa dua jam lebih!" Ayaz bergegas menuju DN Company, dirinya sendiri yang akan menemui Tuan Rangga Donulai itu.
...***...
"Tuan Marco!" sapa Raihan.
"Raihan!" sahut Marco, keduanya saling berjabat tangan.
"Apa ini soal Ayaz?" tanya Raihan menebak.
"Salah satunya, namun sebelum itu ada suatu hal yang juga ingin aku tanyakan kepadamu!" ungkap Marco.
"Ada apa?" tanya Raihan yang mulai serius.
"Aku ingin kau menyelidiki seseorang!" titah Marco.
"Siapa?"
"Nindi Rowans!" jawab Marco.
"Nindi Rowans?" tanya Raihan memastikan.
"Iya, perempuan itu berasal dari keluarga kaya, kau bisa mencari petunjuk tentangnya dari sebuah kampus tempatnya kuliah dulu!"
"Siapa perempuan ini? Apa ada hubungannya juga dengan Ayaz?" tanya Raihan.
"Tapi Tuan, entah ini sebuah kebetulan atau tidak, Nindi Rowans adalah..."
Dretttt drettt, perkataan Raihan terpotong kala ponsel Marco berdering keras.
Sebuah nama Ayaz menghiasi layar ponselnya.
"Sebentar!" ucap Marco pada Raihan.
"Iya Tuan!"
"Ada apa?"
^^^"Kami mengubah rencana karena Rangga ternyata tidak jadi mendatangi kota C." ^^^
"Oh, ya baiklah, akan aku beritahukan juga pada mereka!"
^^^"Aku sedang dalam perjalanan ke DN Company, aku memakai rencana B!" ^^^
"Oke!"
^^^"Bos, bisakah kau mengurusnya, aku butuh seorang mata-mata, nanti akan aku kirimkan alamat setelah Rymi mengkonfirmasinya."^^^
"Ya, baiklah!"
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Raihan.
"Bukan apa-apa!" jawab Marco. "Raihan, aku harus pergi, aku akan menemuimu lagi di lain hari, salam untuk orang tuamu!" lanjutnya.
"Ya, baiklah! Salam juga untuk Rym!"
"Nanti akan aku sampaikan!"
Raihan menatap punggung Marco yang sudah semakin menjauh, Nindi Rowans, mengapa Marco tiba-tiba menyuruhnya untuk menyelidiki wanita itu.
Ibu dari Ayaz adalah juga bernama Nindi Rowans, siapa sebenarnya wanita itu.
Marco Arash, selama ini tidak pernah terlibat asmara dengan wanita manapun, tapi mengapa tiba-tiba Tuan Marco menanyakan dan menyuruh untuk.mencari info tentang seorang wanita padanya.
Raihan menghembus napasnya pelan.
Marco bergegas menghubungi orang suruhannya dan kembali ke markas untuk membawa segala yang diperlukan. Jika proposal pengajuan kerjasama itu tidak juga disetujui maka terpaksa ia harus bermain-main dengan keselamatan Presdir DN Company itu.
Tak lupa dirinya mengirimkan pesan singkat pada Rymi, bahwa dirinya sudah memesan tempat di cafe yang akan mereka adakan janji temu, Rymi hanya harus membawa Rangga Donulai masuk ke dalam tempat yang sudah dirinya sediakan.
Sementara di DN Company, suara langkah kaki dari seorang pria yang begitu berwibawa tampak membuyarkan konsentrasi kerja para pegawai di kantor itu.
"Siapa dia?" bisik-bisik itu mulai terdengar hingar.
"Maaf, apa saya bisa bertemu dengan Pak Rangga Donulai?" tanya Ayaz.
Resepsionis itu mematung, memandangi wajah Ayaz yang memang tampak menarik untuk dipandangi lebih lama. Jambang tipis itu semakin menambah kesan berkharisma seorang dari Ayaz Diren.
"Mbak!" sapa Ayaz sekali lagi.
"Eh, iya Pak! Apa tadi?" tanya ulang si resepsionis itu.
"Apa saya bisa bertemu dengan Pak Rangga Donulai?" ulang Ayaz. Sengaja dirinya tersenyum begitu manis, kesan playboy sungguh cocok jika dirinya berekspresi seperti itu, namun lupakan meski tampangnya cocok sebagai pemain wanita namun tidak bisa terhindarkan jika benar memang semua wanita pasti malah akan tergila-gila padanya.
"Anda harus membuat janji temu dulu Pak?" jawab Resepsionis itu.
"Apa kau bisa mengaturnya?" tanya Ayaz ramah, semakin membuat si resepsionis itu melting parah.
"Tentu!" jawabnya langsung bersemangat. "Mohon menunggu sebentar!"
"Apa saya bisa menunggu di sini sambil menemani anda?" tanya Ayaz lagi, dengan mata yang sengaja dibuat menggoda.
Dengan tanpa ragu resepsionis itu mengangguk. Wanita di sekitarnya sejurus iri melihat interaksi antaranya dan Ayaz, sementara si resepsionis merasa sangat beruntung sendiri.
"Baiklah, silahkan lanjutkan!" ucap Ayaz lagi.
Resepsionis itu terlihat menghubungi seseorang, dan terdengarlah sebuah jawaban iya iya saja.
"Dengan Bapak siapa?" tanya resepsionis dengan name tag Emina itu.
"Katakan dengan Firaz!" jawab Ayaz yang memilih menyamarkan namanya.
"Mohon tunggu sebentar di ruangan pertemuan sebelah sana, nanti Pak Rangga akan segera menemui anda!" ucap Emina begitu lembut.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...