
Jika kau menginginkan hidup yang tenang, maka jadilah penurut!
“Hiks hiks, Ayaz... Kau keterlaluan!”
Yaren mengutuk Ayaz untuk ke sekian kalinya, pria itu sedang berada di kamar mandi, jadi halal bagi Yaren untuk mengumpat.
Ayaz mulai menyeduh kopi, kebiasaan ini sudah melekat pada dirinya sejak bertemu Marco, hidup dalam bayang-bayang bahaya membuatnya selalu waspada, kadang dirinya mengabaikan insomnia yang selalu saja menyerangnya hampir di setiap malam.
Ah, mengingat tentang insomnia, semenjak tidur seranjang dengan Yaren, Ayaz tidak bermasalah lagi dengan gangguan tidur, harum tubuh Yaren bagai pelepas lelahnya, pendingin otaknya hingga Ayaz bisa merasakan ketenangan saat berada di samping Yaren.
“Sebenarnya kenapa aku ini?” gumamnya, bertanya pada diri sendiri atas sikap aneh yang selalu dirinya tunjukkan pada Yaren.
“Aku tidak menginginkan dia berada jauh dariku hanya karena alasan dia bisa menjinakkan insomniaku? Mustahil! Tidak mungkin hanya karena itu!”
“Lalu, karena apa?”
“Aku bisa menyakitinya jika dia tidak menuruti apa kataku, lalu setelahnya aku akan menyesal!”
“Melihat air matanya yang jatuh, mengapa dada ini selalu saja sesak, mengapa aku harus peduli padanya?”
“Saat aku bisa melepaskannya, saat aku bisa membiarkannya pergi, mengapa semua itu tidak sanggup aku lakukan?”
Ayaz berperang dengan pemikirannya, bagaimanapun Yaren sudah menjadi salah satu bagian dalam hidupnya, padahal Yaren bukanlah siapa-siapa.
“Menikah!”
Adalah satu kata yang masih mengganjal di pikiran Ayaz, jika dirinya dan Yaren menikah maka semuanya selesai.
“Tidak, aku tidak bisa berkomitmen untuk hal semacam itu!”
Ayaz melamun hingga tanpa dirinya sadari air panas dari dalam termos sudah mengalir mengenai tangannya.
“Arggghhh!” teriaknya.
Ayaz langsung saja berlari menuju kamar mandi, menyelupkan tangannya ke dalam bak, membasuhnya dengan air dingin.
“Sial!” umpatnya.
Saat dirinya keluar dari kamar mandi, sayangnya tidak ada Yaren yang mendekat menanyai apa yang sudah terjadi, Ayaz tersenyum smirk, mengapa tiba-tiba dirinya mengharapkan perhatian seorang Yaren.
“Aku pasti sudah gila!” Ayaz tergelak kecil, tangannya mulai membuka laci yang berisikan salep untuk mengobati tangannya.
...***...
“Aku akan menemukannya!” ucap seorang pria, badannya tegap, kepala plontos, sembari menyandang ranselnya, pria itu baru saja keluar dari bandara.
__ADS_1
“Tunggu aku, kita akan bersama-sama membalaskan dendam.”
Namanya Samudra Rangga Donulai, baru saja kembali dari pelajaran panjangnya di Italia.
Flashback.
“Kau pergilah Ayaz, jangan pedulikan aku, suatu hari nanti jika aku masih hidup, aku akan mencarimu, aku akan datang menemuimu!” Sam berkata, lalu Ayaz melihat dirinya diseret paksa oleh orang suruhan Sian.
“Lepaskan aku!” teriak Sam.
“Kau penghianat, kau pasti tau hukuman apa yang paling cocok untuk penghianat sepertimu!” ucap salah satu pengawal.
“Kita lihat saja, apa kau masih bisa begitu sombong saat di hadapan Tuan Sian nanti.” Sambung yang lainnya.
“Keparat!” umpat Sam.
“Bugh!” Sam jatuh tersungkur, lubang hidungnya mengeluarkan darah segar, dan itu sakit sekali.
“Berani mengumpat, lancang!”
“Aku tidak akan tunduk pada orang kejam seperti Sian ataupun kalian, meski aku harus mati saat ini juga!” berang Sam.
“Sayangnya, Tuan Sian tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, haruslah melalui siksaan yang tidak akan bisa kau bayangkan betapa pedihnya.”
“Kau hanyalah seekor serangga, namun berlagak seperti kuda liar, itu perbandingan yang jauh sekali!”
“Butuh ribuan serangga jika ingin menyerang suatu tempat, namun jika serangga itu hanyalah seekor, itu tidak akan ada artinya, mudah menangkapnya dan bahkan dia akan diinjak hingga mati!”
“Hahahaha!” semua orang suruhan Sian menertawakan kegagalan Sam.
Sam dibawa masuk ke dalam mobil, hidupnya mungkin akan berakhir sebentar lagi.
Dalam perjalanan ke rumah utama, mobil yang membawa Sam dihadang oleh sejumlah preman, jumlahnya tidak kurang dari dua belas orang, berbadan tegap dan besar, mimik wajahnya begitu cocok untuk menjadi tukang pukul, atau mungkin memang itulah profesi mereka.
“Tok tok tok!” pintu mobil diketuk, Sam tidak tau harus berbuat apa, dirinya tidak tau apa tujuan para preman itu menghadang mobil yang membawanya.
“Serahkan budak itu!” pinta salah satu preman dengan perawakan garang, rambut panjangnya tergerai, Sam cukup iri karena kepalanya yang plontos, selama ini Sam tidak membiarkan rambutnya tumbuh, keriting, mekar dan bergelombang, akan sangat memalukan baginya jika memanjangkan rambut.
“Siapa kalian?” tanya salah satu anak buah Sian yang memegangi Sam.
“Apa perlu kami memperkenalkan diri hanya untuk membantai kalian?”
“Sepertinya Tuan tidak mengincar harta kami, mengapa malah seorang budak yang kalian pinta?”
“Ketahuilah, kami tidak suka berbasa-basi!”
__ADS_1
“Saya cukup amanah dengan siapa Tuan saya!”
“Maka akan kukatakan, kalian semua siap mati untuknya.” Sahut preman itu lagi.
“Bedebah!”
“Bugh, bugh!”
Perkelahian tidak bisa terhindarkan, Sam hanya bisa melihat itu semua tanpa bisa berbuat apapun, kaki dan tangannya terikat kuat. Preman itu, bisa saja bukanlah orang baik.
Hingga, Sam harus merasakan ketakutan yang lebih kala preman-preman itu berhasil mengalahkan orang suruhan Sian. Jantungnya berpacu lebih kuat, entah bagaimana nasibnya nanti.
“Tuan Muda!” ucap salah satu preman itu memanggilnya. Sam tidak menyahut, baginya itu bukan ditujukan untuknya.
“Ikutlah dengan kami, kami akan membawamu ke tempat yang aman.” ucap satu preman lainnya.
“Siapa kalian?” tanya Sam hati-hati.
“Masuklah, masuklah dengan segera, kita tidak punya waktu lagi.” Titah orang itu lagi.
Sam menghindar, dalam pikirannya terus mencari cara bagaimana dirinya bisa terlepas dari semua yang menghampirinya.
“Lepaskan ikatan ini dulu!” pinta Sam, masih dengan nada yang sangat hati-hati, bagi Sam nasibnya sedang dipertaruhkan saat ini.
Siapa yang tau, suruhan siapa para preman ini?
Ikatan pada tangan dan kaki Sam dilepas, kini Sam sudah bebas, haruskan dia melarikan diri?
“Aa aku ingin ke kamar mandi, bisakah kita singgah ke supermarket di depan sebentar, aku sudah tidak tahan!” gagap Sam.
“Tuan Muda, kita tidak punya banyak waktu!”
“Tapi, aku sungguh...”
“Kita akan singgah di tempat yang sepi, Tuan Muda bisa membuangnya di sana, ayo masuk ke mobil!” titah salah satu preman itu, Sam bergidik ngeri.
Dengan terpaksa kakinya melangkah menuju mobil para preman itu, Sam menghitungnya, ada lima mobil untuk dua belas preman itu, dan Sam diperintahkan untuk masuk ke mobil yang dari Sam lihat, mobil yang paling mewah dari semuanya.
Seseorang di balik kemudi mengisyaratkan untuk memulai perjalanan, sungguh kejutan, sebenarnya apa yang telah terjadi, mengapa dirinya harus ikut serta dengan rombongan yang menakutkan ini, mengapa juga dirinya dipanggil Tuan Muda.
“Maaf...”
“Apa yang Tuan Muda lakukan, jangan merendahkan diri Tuan Muda dengan mengatakan kata maaf.” Ucap salah satu dari tiga orang yang bersamanya di mobil itu.
“Maaf, aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kalian memanggilku Tuan Muda?” tanya Sam ragu.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...