Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa aku... Sudah mati?


__ADS_3

Paginya, Amla merasakan berat di kepalanya, ternyata niatnya yang hanya ingin meminum sedikit malah membuatnya ketagihan, apa lagi ia memang sudah lama tidak mabuk.


Di rumahnya memang sudah sepi, karena banyaknya pekerja yang berhenti. Amla menuju dapur, ia merasakan perutnya begitu lapar, ia ingat terakhir kalinya ia makan saat pagi hari kemarin sebelum penyidikan.


Namun saat sudah sampai di dapur matanya membulat kala menatap sosok yang dirinya kenali, "Kaaauuu..." seru Amla tidak percaya.


"Selamat pagi Nyonya! Saya adalah kepala pelayan yang baru! Perkenalkan, nama saya Musi... Mulai hari ini saya siap untuk bertanggung jawab akan makanan Nyonya!" ucap pelayan yang bernama Musi tersebut.


Amla terkejut, ia menatap kepala pelayan yang terlihat begitu mirip dengan Erra, atau mungkinkah pelayan itu memang benar adalah Erra, seseorang yang juga sedang dirinya cari keberadaannya.


"Ada apa Nyonya? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya ramah Musi.


"Kau... Erra, apa kau benar Erra?" tuding Amla. Ia tidak percaya, wanita setengah baya itu nampak kelihatan sehat dan bugar, memang bukan seperti Erra, namun wajahnya sungguh mirip, kulitnya juga putih bersih, namun ia yakin Erra tidak akan bisa semenarik ini dalam berpenampilan.


"Erra? Maaf Nyonya, nama saya adalah Musi, Musi Atiqah, kemarin saat perekrutan untuk bekerja di kediaman besar Huculak, saya yang merasa memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan melamar dan hari ini adalah hari pertama saya bekerja!"


"Nyonya bisa melihat resume lamaran kerja saya jika Nyonya berkenan."


"Tidak, bagaimana bisa, tidak mungkin?"

__ADS_1


Amla merasa, mungkinkah dia terlalu lelah dan masih tersisa efek mabuk di tubuhnya, sehingga bisa berhalusinasi yang tidak-tidak. Bagaimana bisa Erra menjadi seorang pelayan, menurutnya itu tidak mungkin.


"Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?"


"Tidak... Aku hanya ingin kembali ke kamar!" sahut Amla acuh, ini hanya sebentar baginya, jangan bepergian ke mana-mana dulu, tinggallah barang sebentar lagi di kamar, lalu keluar saat matahari sudah tinggi, mungkin wajah pelayan itu akan berubah, tidak mungkin ia mendapati pelayan yang begitu mirip secara fisik tanpa cela, benar-benar seperti Erra.


Erra keluar dari dapur, ia ingin segera kembali ke kamar, namun saat di perjalanannya ia tak sengaja melihat sebuah pintu. Pintu itu adalah pintu menuju ruang bawah tanah, tempat ia dan Sian menyekap Erra dan Romi dulunya.


Pelan langkahnya malah menuju mendekati pintu itu, dengan hati-hati dibukanya. Jantungnya berdegup lebih kencang, entah mengapa ia rasanya ingin sekali melihat ruangan bawah tanah itu.


Sekitar lima belas menit berjalan, ia sudah sampai di tempat rahasia itu, ia membuka lagi pintu yang akan menghubungkannya langsung dengan ruangan bawah tanah, lalu terdapat sebuah tangga untuknya turun.


Tak tak tak, "Aaaaaahhh!" lagi lagi, mata Amla melotot, ia melihat sosok Romi dan Erra dengan masih menempati penjara, terdapat juga beberapa pengawal yang berjaga. Amla ragu-ragu mendekat.


"Aaa... Apa? Apa maksudnya ini?" Amla mengucek matanya cepat, namun sosok itu juga tidak menghilang dari penglihatannya.


"Kalian, kalian... Apa masih hidup?" Amla mencoba menggapai Romi yang terhalang jeruji besi, namun tanpa Amla sadari dengan cepat, tiba-tiba saja tangan sosok Romi itu sudah mencekik lehernya.


"Aaa... Apa yang kau lakukan!" berang Amla berteriak.

__ADS_1


"Matilah kau! Mati, mati, mati!"


"Tidak... Jangan, lepaskan aku, lepas!"


"Matilah kau... Kau harus membayar semuanya, istriku sudah mati karena kau, maka kau harus membayarnya, kau harus membayarnya!"


"Tidak, bukan aku... Jangan gila, Aaa... Aaahhh..."


Amla berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan sosok yang dianggapnya Romi, tangan itu dirasainya begitu nyata, tatapan Romi juga menatap nyalang dirinya dengan begitu nyata. Amla benar-benar menyangka kalau sosok itu memang benar adalah Romi.


"Lepaskan aku!"


"Lepaskan!"


Namun tak lama Amla merasa dirinya seakan melayang, pelan wajah Romi yang menatapnya nyalang itupun semakin blur dirinya lihat, matanya kemudian terpejam, ia meraskan tubuhnya begitu lemas.


Apa aku... Sudah mati?


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....


... ...


__ADS_2