
"Hah?" kaget Rymi. Apa-apaan menyuruhnya menikah, meski ia tidak menganut paham Ayah angkatnya, namun untuk menikah di usianya sekarang, Rymi sama sekali belum memikirkannya.
"Kenapa?" heran Marco saat melihat tanggapan anak angkatnya itu.
"Bagus sekali Dad, aku rasa permintaanmu tidak buruk juga!" ucap Rymi. Marco tersenyum mendengar jawabannya.
"Itu kan yang ingin Daddy dengar, heh!" sudut bibir Rymi tertarik, "Lupakan tentang menikah, aku masih ingin sendiri." tolak Rymi sembari nyengir kuda.
"Sayang sekali." keluh Marco.
"Apanya yang sayang? Daddy, cukup ya aku selalu nurut apa saja perintahmu, tapi untuk menikah... No!"
"Rym, apa Ayaz bahagia setelah menikah?" tanya Marco tiba-tiba.
Rymi mengangkat kedua bahunya, tumben sekali Ayahnya bertanya tentang hubungan orang lain. Namun, saat sedang memoles wajahnya, tiba-tiba Rymi mengingat tentang suatu hal.
"Dad, boleh aku bertanya?"
"Apa? Kau gugup di kencan pertama?" ejek Marco.
"Jangankan Rangga Donulai, aki-aki buncit aja udah pernah dijabanin, Bapak nggak ada akhlak, suka nggak kira-kira ngasih kerjaan. Ngapain juga mesti gugup." sewot Rymi.
"Hahahaha," Marco tertawa renyah mendengar keluhan Rymi.
"Tentang Nindi!" ucap Rymi, dan seketika berhasil membuat Marco menghentikan tawanya.
"Kenapa berhenti tertawa? Apa nama wanita itu cukup menarik perhatian?" selidik Rymi.
"Dia bukan siapa-siapa!" jawab Marco.
"Bukan siapa-siapa? Benarkah? Apa Nindi adalah wanita yang berhasil membuat Daddy memutuskan untuk tidak menikah?"
"Hemmm, seseorang di masa lalu, ahhhh... Bukan apa-apa!" jawab Marco, ia cukup santai, sedang mencoba menetralkan perasaannya.
"Apa Daddy tau, Ibunya Ayaz bernama Nindi juga?" ungkap Rymi.
"Apa?" Marco cukup kaget mendengarnya. Saat menyuruh Raihan mencarikan informasi seputar tentang Donulai, waktu itu ia tidak terlalu tanggap, yang dirinya ambil dari penyelidikan itu hanyalah poin yang menguntungkan baginya, kekayaan keluarga Donulai.
"Iya, Namanya Nindi Rowans!" ungkap Rymi lagi.
Mata Marco membulat mendengar pengakuan Rymi, 'Nindi Rowans' nama itu nama yang sama selalu ingin dirinya lupakan namun nyatanya tidak bisa.
__ADS_1
"Kau jangan gila Rym?" ucap Marco, nadanya sedikit bergetar saat mengatakan itu.
"Kenapa Dad?" panik Rymi. "Apa ada yang salah?" tanyanya.
"Nindi Rowans?" tanya Marco memastikan.
"Iya, Nindi Rowans! Aku pernah mendengar Ayaz menyebutkan nama Ibunya."
Marco berdiri, dengan langkah cepat ia meninggalkan kamar anak angkatnya itu. Tujuan satu-satunya hanyalah Raihan.
"Dad, Daddy..." seru Rymi, namun yang dipanggil tidak lagi mendengar apapun karena begitu terkejut akan sebuah kenyataan.
Dalam mobil, Marco terus saja mencoba menghubungi Raihan, mengajak pria itu bertemu di sebuah cafe. Ada sesuatu yang harus ia tanyakan, sesuatu yang harus dirinya ketahui.
"Nindi Rowans!" gumamnya tanpa henti. Nama yang cukup familiar dalam hidupnya, nama itu... Nama yang dianggapnya sebagai sebuah kesalahan namun nyatanya nama itu juga mampu memenuhi relung hatinya selama ini.
...***...
"Kau suka?" tanya Ayaz, pria itu masih betah memandangi wajah Yaren.
"Suka, ini menyenangkan sekali Ayaz." jujur Yaren, wanita itu memang sangat menikmati kencan pertamanya dengan sang suami.
"Haaahh!" Ayaz menghembuskan napasnya dalam, pria itu tidak menyangka bisa berkencan seperti ini dengan Yaren, bisa terikat status pernikahan dengan wanita itu.
Namun kali ini, mengapa rasanya setelah dijalani, Ayaz menjadi begitu bahagia, seolah ada yang melengkapi hidupnya yang hampa selama ini.
Keduanya sedang duduk di salah satu tempat di bianglala, Yaren nampak antusias kala bianglala itu semakin menukik tinggi.
"Ibuku sudah lama tiada..." ucap Ayaz, matanya menatap langit dengan bertabur bintang di atas sana.
"Benarkah?" tanya Yaren. Apa Ayaz akan menceritakan tentang hidupnya, pikir Yaren.
"Kau juga begitu kan!" ucap Ayaz. "Sebenarnya, kita mempunyai kehidupan yang hampir sama." lanjutnya.
"Emm!" Yaren mengangguk menyetujui.
"Hanya, mungkin hidupku sedikit lebih berat darimu, atau mungkin hidupmu yang sedikit lebih beruntung dariku." Ayaz, masih menatap langit, mencari bintang yang terlihat paling besar dan terang, saat dirinya kecil Ibunya mengatakan kalau orang yang sudah meninggal akan tinggal di surga. Saat itu Ayaz bertanya di mana letaknya surga itu, Ibunya menjawab, hanya Tuhan yang mengetahui di mana letaknya, namun katanya Surga adalah tempat yang sangat indah.
Saat kecil, langit malam bertaburan bintang seperti itu adalah hal paling indah yang bisa dipandang oleh matanya.
"Kau bisa berbagi denganku... Aku bisa menjadi pendengar yang setia." ucap Yaren.
__ADS_1
"Kadang aku masih selalu merindukannya, hidup kami... Begitu penuh dengan luka, sampai kematiannya pun dia harus menanggung luka itu, ketika mengingat semua itu, rasanya aku ini tak lebih dari seorang pecundang." ungkap Ayaz, Yaren sedikit nyeri mendengarnya, meski ia belum bisa menangkap kisah hidup semacam apa yang dulunya Ayaz jalani namun bisa Yaren simpulkan kalau hidup suaminya dulu bukanlah hidup yang mudah.
"Kau pasti sangat menyayanginya." sahut Yaren.
"Dia adalah satu-satunya yang kupunya." ucap Ayaz.
"Aku ingin berkunjung ke makamnya, kalau boleh." ucap Yaren lagi, ia mengatakan itu untuk menghibur Ayaz, seolah-olah mengatakan kalau ia berada di samping pria itu.
"Yah, aku akan membawamu ke sana."
Ayaz menggenggam tangan istrinya, seolah mencari kekuatan dengan melakukan itu.
"Ayaz... Ayahmu?" tanya Yaren.
"Aku tidak tau di mana ayahku berada." aku Ayaz.
"Oh, maaf." ucap Yaren.
"Tidak apa, aku sedang mencarinya saat ini. Kau tau, aku harus menemukannya, karena dia adalah orang yang cukup penting bagiku."
"Ah, begitu... Kau pasti bisa menemukannya."
Yah, aku harus menemukannya, akan aku buat dia menyesal telah melakukan semua itu pada kami, dia adalah alasan mengapa kami harus menerima penderitaan yang seolah tiada habisnya dulu.
Siksaan, aku ingin sekali mendengarnya memohon pengampunanku...
"Yah, tentu saja... Dia harus aku temukan bagaimanapun caranya." ucap Ayaz.
"Siapa namanya?" tanya Yaren yang memang tidak mengetahui apa alasan Ayaz ingin menemui Ayah kandungnya.
"Aku belum mengetahuinya, tapi aku yakin sebentar lagi aku akan menemukannya." ucap Ayaz dengan seringainya.
"Hemm, kau harus memberinya hadiah saat bertemu nanti, sebagai tanda perkenalan." ucap Yaren antusias.
Ayaz tampak berpikir, namun beberapa detik kemudian sudut bibirnya tertarik, "Ide yang bagus, kau benar... Aku memang harus memberinya hadiah sebagai tanda perkenalan."
Ayaz mengepalkan tangannya, dia sudah memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan pada sang Ayah kandung jika ia memang bisa menemukannya. Namun yang jelas suatu hadiah yang dimaksudkan Yaren tidaklah sama dengan hadiah yang dimaksudkannya.
Hadiah yang tidak akan pernah bajingan itu lupakan, yah... Aku tidak sabar untuk memberinya hadiah itu.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...