
Sore ini, di sebuah cafe.
Beberapa mobil polisi nampak terparkir rapi di cafe itu, baik dari semua karyawan ataupun pengunjung cafe, semuanya menunjukkan wajah tidak bersahabat, ketakutan menyelimuti aura mereka.
Ada yang bertanya-tanya mengapa tiba-tiba cafe yang belakangan ini cukup ramai itu tiba-tiba saja didatangi segerombolan orang-orang berseragam kepolisian.
Namun para karyawan dan sebagian pengunjung cafe lainnya juga ada yang sudah tau perihal apa yang terjadi.
Yah, kasus Ali Yarkan, hari ini kembali dibuka untuk dilakukan penyidikan, investigasi dan mengecek keaslian bukti.
Ali Yarkan memang ditemukan sudah tidak bernyawa di kamar hotelnya, namun sebelumnya pemuda itu memang mengunjungi cafe ini untuk berbincang santai dengan rekan bisnisnya, dan diketahui nama rekan bisnisnya itu adalah Dean Aries.
Dengan penyebab kematian adalah racun, membuat para penyidik kemudian berspekulasi tentang kematian Ali Yarkan. Dibunuh, atau mungkin bisa juga bunuh diri.
Namun, pihak keluarga Ali Yarkan sendiri menentang pendapat yang kedua itu, menurut keluarganya, sosok Ali Yarkan bukanlah pria yang berpemikiran pendek, dan juga hal apa yang membuat pria itu merasa tidak senang hingga bisa dikatakan harus mengakhiri hidupnya dengan meminum racun.
Lagi pula, hal mengejutkan juga mendominasi argumen mereka, karena kamar hotel yang ditempati Dean Aries, setelah digeledah untuk pencarian bukti, nyatanya ditemukan sebuah botol obat yang berisikan racun.
Memperkuat tuduhan keluarga Ali Yarkan, mereka menekankan kasus ini harus dibuka kembali karena bersikeras bahwa bagi mereka, Ali, begitu pria itu dipanggil, anak sulung mereka itu pastilah mati karena dibunuh.
Namun anehnya, cctv di cafe tersebut seolah menentang praduga mereka. Saat berhadapan dengan Ali Yarkan, Dean yang merupakan lawan bicaranya waktu itu sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan, mereka berbincang cukup santai, bahkan Ali Yarkan begitu lepas tertawa.
Kini sembari melakukan investigasi, Dean Aries juga masih terus dicari keberadaannya, nyatanya pihak kepolisian begitu sulit untuk menemukan akses komunikasi tentang pria itu.
Petunjuk satu-satunya hanyalah botol obat yang merupakan bekas racun yang ditemukan di kamar Dean Aries, kandungan rancun pada botol itu sayangnya sama dengan racun yang ditemukan di tubuh Ali Yarkan saat hasil autopsi berbicara.
Itu berarti, bisa dikatakan Dean Aries, memiliki potensi menjadi tersangka pada kasus ini sebelum pemuda itu memberikan keterangan lanjut mengenai dirinya.
__ADS_1
“Sepertinya aku memang harus keluar!” ucap Ayaz kala matanya menangkap pemandangan yang menyedihkan, jika dirinya tidak menyerahkan diri maka akan semakin menyulut kecurigaan. Setidaknya, saat ini kehadirannya hanya diperlukan menjadi saksi, dirinya akan memperbaiki ejaan serta gaya bahasanya supaya statusnya tidak naik menjadi tersangka.
Baginya, suasana saat ini sedikit kacau, dirinya tidak bisa meninggalkan Yaren, sedang Marco baru saja mengalami kecelakaan dan Rym harus merawat pria itu dengan penuh kasih. Ayaz merasa dirinya memang harus berjuang sendiri kali ini, namun ada bagusnya menurut Ayaz, karena jika Marco masih dalam keadaan sehat saat ini mungkin saja pria tua itu akan cuci tangan dan dengan senang hati menjebloskannya ke penjara meski Ayaz tidak tau kartu apa yang Marco pegang tentang dirinya mengenai kasus Ali Yarkan.
“Aku harus meloloskan diri, padahal aku sudah nyaman meski aku harus sedikit lebih lama bersembunyi, tapi kalian kembali membuka kasus ini, jangan salahkan aku, di sini aku hanya mencoba ilmu bertahan hidupku.” gumam Ayaz, pria itu kembali melajukan mobilnya, meninggalkan cafe itu, ia perlu mempersiapkan sesuatu.
...***...
“Daddy...” ucap lirih Rymi, Marco baru saja membuka matanya, samar ia melihat ruangan yang asing baginya, dan dirinya menyadari apa yang baru saja terjadi.
“Rym.” sahutnya. Rymi lega, itu berarti Daddynya tidak mengalami amnesia seperti kebanyakan novel online yang dirinya baca ketika seseorang mengalami cedera di kepala. Daddynya itu bisa dikatakan mengalami cedera yang lumayan parah di kepalanya, Rymi bahkan begitu menyimak dengan baik apa yang disampaikan dokter kemarin padanya tentang kecelakaan Marco, ia sungguh takut Marco tidak akan mengenalinya, dan akhirnya hari ini ia bersyukur hal semacam itu tidak perlu terjadi.
“Apa yang terjadi?” tanya Marco.
“Daddy kecelakaan.” Jawab Rymi.
“Ayaz...” serunya, ia langsung saja menanyakan pemuda itu.
“Ayaz sudah pulang, Apa Daddy memerlukan sesuatu? Aku bisa menyuruhnya ke sini lagi “ ucap Rymi.
“Tidak perlu!” tolak Marco.
Rymi segera menekan tombol di dinding dekat kepala ranjang, memanggil dokter untuk memeriksa lebih lanjut bagaimana keadaan Marco.
“Apa ada yang harus kau katakan selama aku tidak sadarkan diri?” tanya Marco, matanya menatap Rymi penuh selidik.
“Daddy tidak usah memikirkan apapun dulu, stabilkan dulu kondisi tubuh Daddy, setelah itu aku akan cerita banyak tentang apapun padamu.” Ucap Rymi.
__ADS_1
“Kau sama sekali tidak perhatian.” Dengus Marco kesal.
“Ya, aku memang anak yang kejam.” Sungut Rymi tak kalah kesal.
“Mengapa kau yang terlihat lebih kesal, siapa yang sakit dan terbaring lemah saat ini?” Marco ini, hanya bisa terlihat manja saat bersama Rymi, ia menganggap Rymi benar-benar anaknya, hingga ia bisa bersikap seperti orang tua yang begitu mendamba perhatian.
“Terbaring lemah tapi masih juga bisa protes dan mengumpat, mau berbohong juga ada caranya Dad.”
“Rym... bagaimana dengan mobilku?” tanya Marco. Ia dengan malas mencoba untuk bangkit, namun karena tidak berhati-hati ia malah merasakan kesakitan di kepalanya yang ternyata terlilit perban, sakit itu seperti di tusuk-tusuk, setidaknya membuatnya tidak bisa bergerak dan seakan seluruh udara berkumpul di otaknya. Marco terlihat sedikit meringis, dan Rymi seketika panik.
“Dad, Daddy...” serunya, namun sayang sekali Marco malah tidak bisa lagi mendengar dengan jelas. Lalu setelahnya pria itu kembali pingsan.
“Dad, Daddy...” tinggallah Rymi dengan kepanikan luar biasa, karena sedikit kesal dan ingin bercanda wanita itu tidak memperhatikan pergerakan Marco yang ingin bangkit dari berbaringnya, Rymi mengutuk dirinya sendiri mengingat kecerobohannya.
“Dokter... Dokter...” panggilnya keluar, setelah sebelumnya menelan tombol darurat di atas kepala ranjang.
...***...
Ayaz kembali ke rumah, ia langsung saja menghidupkan televisi, hal yang diinginkannya adalah mengetahui lebih lanjut bagaimana kelanjutan kasus Ali Yarkan yang memaksanya terlibat itu.
“Kau sudah pulang?” tanya Yaren. Wanita itu cukup terkejut kala kehadiran Ayaz yang baginya begitu tiba-tiba, ia yang sejak tadi berada di kamar merasa tidak mendengar suara langkah kaki apapun untuk menandakan seseorang datang di rumahnya, lalu tiba-tiba mendengar suara televisi hidup sendiri jelas saja Yaren begitu panik dan langsung bergegas menuju ruang keluarga.
Dan ternyata, suami tampannya malah sedang sangat serius mendengarkan berita di salah satu stasiun televisi swasta, Yaren mendengar dengan seksama, kasus Ali Yarkan, bukankah itu cukup familiar di beberapa hari kemarin, apa Ayaz... Astagah! Tiba-tiba Yaren teringat akan suatu hal.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote......
__ADS_1