Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Jangan sentuh!


__ADS_3

"Mengapa?" tanya Rymi saat ia bersama orang kepercayaan Amla sedang berada di mobil. Sudah lumayan jauh dari kediaman Sian, mungkin orang itu merasakan ada yang tidak beres sehingga mata itu dengan beraninya menatap Rymi tajam.


"Ada yang mengikuti, mengapa kau tidak merasa?" tanyanya.


Rymi menoleh kebelakang, benar memang ada mobil Sam mengikuti mereka, jaraknya lumayan jauh namun karena jalanan yang begitu sepi sehingga hal itupun tentu saja bisa menyulut kecurigaan.


"Oh, mungkin mereka orang suruhan Amla!" ucap Rymi beralasan.


"Kau pikir aku tidak tau, awasi mobil itu!" titah orang itu.


Rymi mendengus kesal, ia menarik napasnya kasar, bisa-bisanya ia menjadi pesuruh di sini, memang mau mati nampaknya orang ini pikirnya.


"Mengapa? Kau keberatan?"


"Memangnya aku bisa menolak?" tanya Rymi santai.


Lalu ia melihat ke arah belakang, tidak memedulikan orang itu dan mencoba menahan kesabarannya.


"Hei, beraninya kau!" pekik pria itu lagi.


Rymi mengangkat kedua alisnya, ah benar! Pembokat itu pasti marah karena aktingnya yang payah ini. Pikir Rymi sedikit menyesal karena tidak bisa berlakon sebagai pesuruh.


Rymi menatap nyalang pria itu. Ia benar-benar tidak suka ada orang yang dengan berani meneriakinya.


Bukan Rymi namanya jika takut akan apapun, pemberani dan tidak kenal akan kegagalan, mana mungkin ia bisa membiarkan ini berlama-lama.


"Hei Tuan, apa kiranya kau sudah punya cukup nyawa dengan beraninya meneriakiku?" tanya Rymi, bahkan kali ini ia sudah mengubah suaranya menjadi suara asli dirinya.

__ADS_1


Sopir sekaligus orang kepercayaan Amla itu sedikit terkejut, ia menoleh namun saat itu juga ujung mata pistol telah mendarat di dahinya.


"Aku punya tawaran! Kau bisa menepikan mobilnya atau peluru ini akan menembus otakmu saat ini juga, kau tau? Tanganku sering gemetar saat aku sedang kesal!" ucap Rymi dengan tengilnya.


Sopir itu tiba-tiba saja menjadi gugup, saat ini ia berada dalam situasi bingung, apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi?


"Doorrr!" karena merasa tidak mendapatkan jawaban, Rymi menembak kaca mobil di sebelah sopir itu, namun saat menembak itu Rymi sengaja mengenai helai rambut bagian atas pria itu, untuk memberitahukan bahwa dirinya cukup serius bukan hanya mengancam saja.


"Kau gila!" pekik pria itu. Tubuhnya gemetaran.


"Gila?" tanya balik Rymi. Mengapa orang-orang sering kali menyebutnya gila, hari ini saja Sam sudah berapa kali meneriakinya gila. "Aisshh, di saat seperti ini seharusnya kau tidak menambah kekesalanku, kau benar-benar ingin menyerah dengan hidup teryata!" ucap Rymi kesal. Benarkah ia gila, rasanya tidak juga.


Aku ini anak kesayangan Marco, mana bisa kalian orang asing memanggilku gila? Yang benar saja!


Mobil sepertinya mulai melambat, dan tak lama benar-benar menepi, sudut mata Rymi sedikit melirik wanita yang masih terikat serta mulut yang tersumpal itu di belakang, tampak ketakutan dan sayangnya mohon maaf ia tidak punya waktu untuk menenangkannya saat ini.


Pria itu turun, kemudian Rymi mengambil satu lagi pistol di balik saku jaketnya, tangan kirinya mulai siap untuk menembak.


Mata yang bagai elang itu mengedarkan pandangannya, ada cctv di jalan tidak jauh dari mereka, dan dengan cepat tangan kirinya menembak cctv itu hingga hancur. "Dorrr!"


Pria itu menatap cctv yang sudah tinggal puing-puingnya itu.


"Ku harap kau menganggapku tidak bercanda kali ini."


Tak lama Sam datang, ia terkejut saat melihat Rymi yang tengah menodongkan pistol pada pria itu, mulutnya bergetar entah apa yang harus dirinya katakan, bertanya mengapa saja Sam tidak sanggup.


"Lihat wanita itu?" titah Rymi.

__ADS_1


Sam mengangguk, dengan cepat ia memasuki mobil dan melihat siapa yang tengah menjadi tawanan Amla, tubuh yang terikat itu begitu kurus dan rapuh. Dari penampilan Sam tidak yakin kalau wanita itu adalah Ibunya, tapi entah mengapa hatinya mengatakan 'iya'.


Sam mencoba meneliti, dilepaskannya bekapan pada mulut wanita tua itu, lalu ia pandangi wanita itu dengan jelas, hati Sam tiba-tiba saja menjadi semakin sakit, mengapa orang tua ini harus begitu mirip dengan Ibunya, meski tampak dekil namun Sam masih bisa mengenali wajah itu.


"Ibu..." lirihnya.


Erra mendongak, sembari ketakutan ia mencoba mundur menghindari Sam.


Ia merasakan ganjal, mengapa pria di hadapannya ini memanggilnya Ibu?


"Siapa? Siapa kau?" tanyanya gagap.


"Ibu... Aku Sam, Samudra!" jawab Sam tampak bahagia dan sekaligus bersedih.


"Sam?" Erra semakin ketakutan saat mendengar nama itu.


Nama yang selalu ia dan suaminya itu targetkan untuk dibunuh, karena menganggap Sam lah penyebab semua kemalangan dalam hidupnya selama tiga tahun belakangan ini.


"Iya Bu... Ini aku... Sam, anak kalian Samudra!" ucap Sam lagi.


Erra, wanita itu semakin ketakutan, ia pun berteriak, "Jangan... Jangan sentuh! Jangan sentuh aku, jangan bunuh aku, jangan bunuh kami!"


Teriakan yang membingungkan dan sekaligus pilu Sam rasakan.


**Bersambung...


...Like, koment, and Vote**!!!...

__ADS_1


__ADS_2