Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Tidak mengetahui apapun.


__ADS_3

"Apa maksud anda? Mereka... Saya tidak mengenalnya." jawab Amla.


"Benarkah? Tapi bukankah rumah anda pernah dilakukan penggeledahan karena Pak Rangga yang meminta salah satu dari tim kami untuk menemukan ibunya, yang bernama... Erra!" ungkap penyidik.


"Benar, tapi aku benar-benar tidak mengenalnya, aku hanya tau namanya tapi tidak dengan orangnya, bukankah aku tidak salah dalam berkata." kilah Amla.


Penyidik itu mengangguk, memang benar, tidak ada yang salah sebenarnya dari perkataan Amla.


"Sampai saat ini bahkan Pak Rangga belum juga menemukan di mana keberadaan Ibunya, tapi... Sayangnya ada sebuah laporan dari pengawal anda yang lainnya kalau, Dale Adrie sehari sebelum ia ditemukan tewas, anda menugaskannya untuk melakukan sesuatu!"


Amla terkejut, kali ini ia benar-benar terkejut, bagaimana bisa pihak penyidik mengetahui hal itu, bahkan kali ini bukti cctv tentang malam itupun sudah dirinya hapus. Apakah kali ini penyataan itu juga murni hanya berdasarkan laporan dari pengawalnya.


"Saya merasa tidak pernah menyuruhnya melakukan apapun, bahkan saya juga tidak mengenal dengan jelas pengawal yang bernama Dale itu!"


"Apa kesaksian anda ini bisa dipertanggungjawabkan?"


"Kalian tidak bisa bersikap seperti ini padaku, karena di sini aku juga adalah korban, bagaimana bisa kalian begitu kentara menganggap akulah yang bersalah?" hardik Amla.


"Kami hanya menanyakan, apakah... Kesaksian anda itu bisa anda pertanggungjawaban nantinya, kalau anda merasa keberatan, bukankah itu berarti anda memang mengenal siapa Romi dan Erra?"


Amla menggeleng, "Saya hanya tau kalau dua orang itu adalah orang tuanya Rangga, itu saja seharusnya kalian tidak mengharapkan hal lebih dariku bukan?"

__ADS_1


"Jika memang tidak ada yang lebih, anda tidak perlu merasa keberatan, cukup katakan saja 'Ya' bahwa pernyataan saya benar bisa dipertanggungjawabkan di kemudian hari nantinya!" ucap penyidik tersebut dengan nada halus sarat akan sindiran.


"Baiklah! Ya, pernyataanku itu bisa dipertanggung jawabkan di kemudian hari nantinya!" tutur Amla. Ia menghela napasnya berat, karena rasa paniknya ia bahkan lupa untuk menjaga sikap.


"Apa anda yakin tidak pernah menugaskan Dale Adrie untuk melakukan sesuatu, terkhusus misalnya?"


Amla menggeleng, "Tidak pernah!" mau tidak mau Amla harus semakin melancarkan kebohongannya.


"Menurut hasil otopsi, kematian Dale Adrie adalah disebabkan oleh racun yang mematikan, namun racun itu tidak serta merta langsung menumbangkan korban pada detik itu juga, racun mematikan itu baru akan efektif bekerja saat sudah dua puluh empat jam bersarang di tubuh korban. Jadi, Nyonya Amla Grace Huculak, apakah benar anda tidak mengetahui apapun tentang racun mematikan yang bersarang di tubuh saudara Dale Adrie?" tanya Penyidik yang ternyata sudah berlanjut pada sesi pertanyaan berikutnya.


"Tidak mengetahui!" jawab Amla.


"Apa ada yang ingin ditambahkan sebagai keterangan lanjutan untuk jawabannya?"


"Pertanyaan berikutnya, ada dua puluh lima orang pengawal di kediaman anda yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak, berikut catatan namanya." Penyidik memberikan satu lembar kertas berisikan nama-nama pengawal yang menghilang, Amla membacanya, ia pun baru menyadari kalau nama- nama pengawal itu adalah nama-nama yang ditugaskan olehnya untuk menemukan di mana keberadaan Ayaz sehingga mereka bisa menyelamatkan Sian waktu itu, bodohnya ia baru menyadari hal ini karena begitu banyaknya hal yang harus dirinya urusi, lagipula pengawal kepercayaan suaminya itu begitu banyak jadi tidak begitu kentara jika hanya dua puluh lima orang yang menghilang.


"Apa anda mengetahui keberadaan orang-orang ini?"


Amla menggeleng lagi, "Aku juga baru mengetahui hal itu setelah melihat nama-nama ini!" aku Amla berdusta.


"Benarkah?" tanya penyidik memastikan. Mengapa laporan yang ia terima dari pengawal itu semuanya selalu saja berbeda dengan jawaban yang dikatakan Amla.

__ADS_1


Amla mengangguk, kali ini ia benar-benar mengutuk pergerakannya yang sangat tidak hati-hati dan rasanya entah mengapa ia begitu ceroboh.


"Menurut kesaksian pengawal anda, dua puluh lima orang ini menghilang setelah anda menugaskan mereka untuk sesuatu?"


"Sesuatu apakah itu, bisakah anda jelaskan detilnya?"


"Bukankah sudah aku katakan kalau aku saja baru mengetahui hal ini, bagaimana bisa anda menanyakan hal semacam itu padaku?"


"Jadi, kami harus menuliskan lagi bahwa anda tidak mengetahui apapun? Begitu?"


"Ya... Itu karena memang aku tidak tau, nanti akan aku tanyakan itu, akan aku selidiki terlebih dahulu apa sebenarnya yang terjadi, selama ini yang selalu saja berinteraksi dengan para pengawal itu ya hanya suamiku, jadi wajar saja jika aku tidak mengetahui apapun." kilah Amla lagi berdusta.


"Hemmm, baiklah Nyonya, jadi kami anggap anda tidak mengetahui apapun, kira-kira seperti itu saja!"


Amla mengangguk setuju. Baginya dengan mengaku tidak mengetahui apapun, mungkin itu akan lebih baik, karena semakin lama ia berada di sini emosinya menjadi meningkat lebih pesat, jangan sampai ia salah bicara lagi.


"Sekian untuk permintaan keterangan hari ini, anda bisa menunggu di luar terlebih dahulu karena masih harus menandatangani beberapa berita acara terkait, nanti staf kami akan memanggil anda kembali jika berkasnya sudah siap!" ucap penyidik itu menyudahi.


Sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan lagi yang harus Amla jawab, namun jika mereka tanyakan tentunya pasti Amla akan menjawab tidak mengetahui apapun lagi, jadi nanti saja mereka tanyakan pada sesi permintaan keterangan lanjutan berikutnya, mereka harus mencari lebih banyak bukti lagi sepertinya untuk bisa benar-benar meyakini dugaan bahwa Amla lah yang membunuh Sian Atlas Huculak.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2