
"Papa apa kabar? Apa Papa rindu? Apa Papa mencemaskanku?" gumam Yaren begitu lirih terdengar.
Wanita itu menundukkan wajahnya, menyembunyikan kesedihan dari seorang anak yang begitu mencintai orang tuanya.
"Aku nggak masalah jika harus berbagi kasih sayang sama Raisa Pa, tapi setidaknya Papa tetap menyayangiku, tetap memperdulikanku."
"Aku rindu Pa, hanya Papa seorang yang aku harapkan, tapi Papa juga sama mengecewakan."
Yaren duduk di tengah pintu, melempari batu di halaman belakang, berharap kekesalannya pada orang tuanya akan mereda.
"Bodoh!" umpat Ayaz saat pria itu sudah berada di dapur hendak menuju kamar mandi.
Yaren menoleh, dilihatnya Ayaz yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
Wanita itu bangkit, merapikan tatanan rambutnya, mengubah ekspresinya menjadi semenarik mungkin, Ayaz adalah harapan satu-satunya meski dirinya tidak ingin mengandalkan pria itu.
Duduk di kursi makan, menunggu Ayaz keluar dari kamar mandi.
"Ehmm..." suara Yaren yang pura-pura batuk berhasil menghentikan langkah Ayaz yang hendak melewatinya.
Pria itu mengkerutkan alisnya tanda tidak mengerti.
"Ayaz, bisakah kita bicara?" tanya Yaren langsung.
Ayaz menyunggingkan senyum, "Kenapa? Kau sudah siap melakukannya?" tanya Ayaz dengan kerlingan matanya.
Yaren memberengut kesal, belum apa-apa Ayaz sudah sangat percaya diri.
"Kau..." ucapan Yaren tertahan, entahlah mengapa dirinya tiba-tiba juga menjadi tidak yakin untuk mengatakan itu pada Ayaz, padahal tadi pagi dirinya sudah bertekad untuk tidak akan kalah hanya karena ancaman Ayaz.
"Apa?" tanya Ayaz, nadanya masih dingin namun juga tersirat keingintahuan.
"Aku mau tidur denganmu!" ucap Yaren cepat, saking cepatnya Ayaz bahkan bisa mengetahui bahwa Yaren tidak sepenuh hati berbicara begitu.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ayaz, memastikan sesuatu yang padahal dirinya sudah tahu jawabannya, namun sepertinya membuat Yaren semakin terjebak dalam jeratnya bukanlah ide yang buruk.
Wanita itu selalu saja gegabah, tanpa memikirkan baik buruknya, pastilah Yaren hanya ingin segera lepas darinya, mungkin juga ada maksud dan tujuan terselubung jika Yaren tiba-tiba setuju dengan kesepakatan mereka kali ini. Ayaz menduga itu, ditatapnya dalam manik mata Yaren, menilik apa yang sebenarnya sedang Yaren rencanakan.
"Ke... Kenapa?" tanya Yaren gugup.
"Kenapa? Kenapa nanya balik?"
"Ah tidak, maksudku... Iya benar, aku mau tidur denganmu, lagi pula aku bagai tidak lagi punya keluarga, ku rasa menjadi teman ranjangmu tidak begitu buruk, kau pernah berjanji kan kalau kau akan menjadikanku seorang ratu jika aku masih suci." ucap Yaren, nadanya bergetar meskipun dirinya sekuat tenaga menghalau kegugupan.
Menarik!
"Kau percaya diri sekali!" ucap Ayaz, menatap remeh Yaren.
"Oh jelas Tuan Ayaz yang terhormat, aku bisa memastikan itu, dan saat hari itu tiba, jangan lupa untuk menepati janjimu!" tantang Yaren.
Yaren pasti sudah gila hingga bisa-bisanya menantang seorang Ayaz, namun bagai tidak ada pilihan, dan rasanya Yaren harus melakukannya.
"Hahahahahaha!" tawa Ayaz menggelegar, tidak ada yang lucu bagi Yaren, namun bagi Ayaz melihat Yaren berbicara menantangnya namun dengan kaki yang sedikit gemetar membuat Ayaz tidak bisa menahan tawa. Sepolos itu kah Yaren, wanita dihadapannya yang saat ini sedang mencoba menipunya. Jangan harap Yaren! gumam Ayaz membatin.
Lalu pemuda itu dengan tanpa berdosa meninggalkan Yaren, "Hahahahaha!" gelar tawanya sekali lagi terdengar.
Yaren terduduk lemas di kursi, kata-kata Ayaz bagai pedang yang menghunus jantungnya, sampah... Yaren sebenarnya yakin jika dirinya masih perawan, namun entah mengapa dirinya merasa begitu tidak berharganya dia di mata Ayaz.
"Menyedihkan sekali, mengapa keberuntungan selalu saja tidak berpihak padaku?" lirih Yaren, wanita itu kembali meratapi nasibnya.
Sementara di kamar, Ayaz tersenyum menang, pria itu semakin penasaran akan calon teman ranjangnya itu.
Dirinya menuju ke suatu tempat di kamarnya, menekan tombol tersembunyi yang ada di dalam lemari pakaiannya, lalu menghilang tanpa jejak.
...***...
"Aku sudah bilang, awasi dia!" titah Marco.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan!"
"Kalian tidak lebih hebat dari Ayaz? Begitukah maksudnya? Heh, rendahan!" dengus Marco kesal.
Panglima perangnya, sedang mulai bermain api asmara, sudah hampir tiga hari Ayaz tidak menghubunginya, tidak ada misi atau semacamnya membuat Marco membiarkan Ayaz untuk hidup bebas meski di rumah hutan tempat yang memang diperuntukkan untuk Ayaz bersembunyi.
"Ampun Tuan!"
"Kalian tau, setidaknya dia membutuhkan satu tahun penuh untuk menguasai ilmu bela diri dan menembak, sekarang lihatlah, bahkan senjata api sudah menjadi kawannya sehari-hari, namun kalian... Aku tidak bisa kehilangan Ayaz begitu saja, wanita itu akan menghancurkannya, wanita hanyalah penghalang untuk aku bisa mencapai semuanya." Marco berteriak menghempaskan kekesalannya.
Kesalahan di masa lalu yang juga diakibatkan oleh seorang wanita membuatnya tidak bisa terima Ayaz menjadi begitu akrab dengan seorang wanita.
Dia tidak mau Ayaz dihancurkan suatu hari nanti, hanya karena cinta.
Flashback.
"Aku akan menikah." ucap Nindi, wanita lugu yang sayangnya telah Marco hancurkan hidupnya.
"Kau tidak bisa menikah Nindi, aku sudah merenggut kehormatanmu, aku akan bilang pada calon suamimu kalau kita sudah melakukannya, kau sudah tidak suci." ancam Marco.
"Tidak masalah, aku akan tetap menikah dengan laki-laki pilihan orang tuaku, kau tidak bisa diharapkan Marco? Kau bajingan!" umat Nindi, sesak sekali rasanya saat dirinya mengatakan itu.
Marco, laki-laki itulah yang sudah merenggut kehormatannya, dengan rayuan dan sedikit pemaksaan, membuatnya rela melepaskan mahkota yang selama dua puluh tiga tahun selalu dirinya jaga.
Marco, laki-laki itu, yang dikatainya bajingan, namun sayangnya, dirinya sungguh mencintai lelaki itu. Bayang-bayang Marco yang selalu perhatian serta tidak bisa membiarkannya terluka, membuat Nindi merasa sangat terlindungi jika bersama Marco.
Namun sayang sekali, pria itu urakan, tidak punya sopan santun, pria gila yang hanya tau bermain-main setiap harinya, Nindi juga tau bisnis haram yang sedang dijalani Marco, maka itulah dirinya tidak bisa untuk hidup bersama pria yang dirinya cintai. Dirinya terlalu takut untuk masuk ke dalam dunia Marco.
Ketidakberaniannya, ketidakberdayaannya membuatnya lebih memilih memutuskan Marco dan menuruti permintaan kedua orang tuanya.
Perjodohannya dengan lelaki kaya, lebih tepatnya pernikahan bisnis akan dirinya lakukan demi membahagiakan kedua orang tuanya, dan juga Nindi berharap untuk kehidupan yang lebih baik, meski saat itu Nindi tau, dirinya sedang mengandung anak dari Marco Arash, pria yang sangat dicintainya.
"Biarlah aku bawa hadiah darimu ini bersamaku, kau tidak perlu tau kesakitan ini, cukup aku saja, cukup aku saya Honey!" lirih Nindi membatin.
__ADS_1
Flashback off.
Bersambung...