
“Apa kau sudah gila? Aku memang pernah bertemu dengan Amri tapi tidak mungkin aku jujur kalau mengetahui nomer ponsel pria itu.” Jovan berbicara pada Ayaz di ruangan lainnya.
“Kau ini ternyata suka berbohong yaaa!” ledek Ayaz.
“Ini, kau ingin nomornya kan, nanti kau jelaskan saja pada Yaren bagaimana, tapi buatlah alasan yang mungkin.” Jovan mengirimkan nomor dokter Amri lewat pesan.
“Apa kau baru saja menyuruhku untuk berbohong juga?”
“Aisshhh, berbohong bahkan adalah keahlianmu, jangan memutar balikkan fakta!” kesal Jovan.
“Yaaa yaaa, sebut saja keburukanku!”
“Sudahlah, sana pulang, aku memang merindukan adikku, tapi melihatmu justru akan membuat emosiku semakin naik.” Gerutu Jovan.
“Kau mengusirku?”
“Seharusnya kau tau diri!”
Lalu keduanya keluar dan menyapa Yaren kembali, baik Jovan maupun Ayaz sama-sama menampilkan wajah tidak senang.
“Ada apa?” tanya Yaren.
“Aahh... Tidak apa!”
“Bukan apa-apa!”
Sahut Jovan dan Ayaz bersamaan, lalu Ayaz mendekat ke arah Yaren, “Sayang, apa kau sudah ingin pulang?” tanyanya.
Sebenarnya Yaren rasanya belum mau untuk pulang, apa lagi di mansion milik Marco yang sungguh besar itu, bolehkah Yareb katakan kalau ia sungguh bosan.
__ADS_1
Namun karena melihat gelagat aneh yang dilayangkan Ayaz dan Kakaknya, Yaren rasa lebih baik dirinya pulang saja. Ia pikir mungkinkah di dalam ruangan tadi kakaknya dan Ayaz sedang bertengkar, mengingat keduanya memang seringnya tidak akur.
“Ya baiklah!” sahut Yaren, “Kakak, aku pulang dulu yaaa, jaga kesehatanmu... aku akan merindukanku lagi!” ucap Yaren sembari memeluk Jovan sebentar.
Mata Ayaz menjadi risih saat melihat itu, Yaren ini semakin dibiarkan semakin tidak memikirkan perasaanya.
***
“Sam, aku sudah memberimu cukup banyak waktu, seharusnya dalam waktu yang kuberikan kau sudah bisa memenangkan hati Ayaz bukan?” tanya Tuan Donulai menyelidik.
Sam hanya bisa tertunduk, ia tau jari ini pastinya akan datang juga.
“Ayaz tetap tidak mau, aku sudah mencoba berkali-kali dan mengatakan kesehatanmu sebagai alasan sesuai perintah Ayah, tapi Ayaz tetap saja tidak mau!” jawab Sam, ia mengangkat kepalanya untuk menatap Ayah angkatnya itu, terlihat kekecewaan terselip di sana.
“Mengapa anak itu begitu keras kepala, persis seperti Daslah!” ujar Donulai.
“Apa Ayah yakin?”
“Aku sendiri yang akan mencobanya, aku akan memintanya sendiri, dan kalau jawaban Ayaz masih sama, sudahlah aku tidak bisa lagi berbuat apapun!”
“Baiklah, nanti akan aku sampaikan oada Ayaz, akan aku usahakan supaya Ayaz mau menemui Ayah.”
“Dia harus mau, katakan padanya kalau ini adalah terakhir kalinya aku memintanya bertemu!”
“Apa... Apa maksud Ayah? Mengapa yang terakhir kalinya?” gagap Sam.
“Lakukan saja apa yang aku perintahkan, aku hanya tidak ingin memaksakan diri, untuk apa menjadikan diriku yang sudah tua ini seperti pengemis pada orang yang sama sekali tidak akan memedulikan aku!” sahut tegas Tuan Donulai.
“Baiklah Ayah!”
__ADS_1
“Hemmm...”
***
“Apa kau bilang? Mentalku sudah terganggu?” pekik Amla, ia tidak percaya pada apa yang baru saja dirinya dengar.
Psikiater yang direkomendasikan oleh orang kepercayaannya baru saja berbicara omong kosong menurutnya. Bagaimana mungkin psikiater itu mengatakan bahwa mentalnya saat ini sudah terganggu.
“Benar Nyonya, dengan apa yang Nyonya ceritakan tadi, dan juga melalui pemeriksaan ransangan otak yang tadi kita lakukan, saya dengan Lee berat hati harus mengatakan itu, mental Nyonya memang benar sudah terganggu.” Ujar psikiater itu.
“Tidak, kau saja yang gila, saya masih sehat!” ucap Amla tak terima.
“Saya akan memeriksakan diri ke dokter lainnya, tidak... Kau pasti membual!”
“Nyonya... Tenangkan diri Nyonya...”
“Tenang tenang, bagaimana bisa aku tenang saja sementara kau baru saja mengatai aku gila!” berang Amla.
Amla bergegas pergi klinik tempatnya memeriksakan diri itu, dengan menggerutu ia tidak berhenti memaki seorang psikiater itu.
“Dia bilang apa? Aku gila! Heh, kepar*t itu bisa-bisanya berucap tidak sopan, dia saja yang gila!”
“Tidak, bagaimana mungkin mentalku terganggu, tidak... Aku bukan orang gila!”
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
... ...
__ADS_1