
Amla sangat terkejut kala pihak penyidik memanggilnya ke ruangan introgasi. Ia mencoba untuk menampilkan raut wajah biasa yang seolah tidak mengetahui apapun.
Dalam hatinya, Amla tidak hentinya mengumpat, dan sudah membayangkan rencana hukuman untuk para pengawal di rumahnya. Ia menganggap dipanggilnya ia ke ruangan introgasi adalah karena keteledoran para pengawal, jika sampai kali ini namanya terlibat maka dipastikan Amla akan menghabisi semua pengawal yang tersisa.
"Selamat sore Nyonya Amla!" sapa penyidik.
"Sore! Apa ada sesuatu?" tanya Amla langsung.
"Ehmm..." salah satu penyidik di hadapan Amla memberikan sebuah kertas untuk Amla baca isinya. "Sedikit saja!" ucap penyidik.
"Apa ini?" tanya Amla, ia tidak mengerti mengapa pihak penyidik memintanya untuk menyetujui pemeriksaan fisik terhadap Villa lama keluarga Huculak di jalan X, baginya mengapa harus Villa itu, apakah kematian Dale Adrie menemukan titik terang, mengingat Dale malam itu memang ditugaskannya membawa Erra untuk disekap di Villa itu.
"Ada apa? Apa Nyonya keberatan?" tanya penyidik itu.
"Eh!" Amla canggung, "Tidak juga, hanya saja aku tidak mengerti, ada apa dengan Villa itu? Apa kematian pengawal itu sudah menemukan titik terang?" tanyanya.
Penyidik itu mengangguk, dan hal itu nyatanya berhasil membuat Amla menjadi semakin gugup. Tampaknya Amla benar-benar akan menyiksa para pengawal yang tersisa setelah ini.
"Kami menemukan dugaan kuat tentang kematian Dale Adrie, jadi Nyonya Amla... Apa ada keberatan jika kami melakukan investigasi lebih lanjut?"
"Emmhh, tidak... Tidak sama sekali, yah... Kalian, kalian boleh melakukan pemeriksaan pada Villa itu? Kapan jadwalnya?" tanya Amla. Gugupnya kentara sekali, jadi sudah tentu sikap Amla itu malah semakin menyulut kecurigaan penyidik.
"Sekarang! Apa Nyonya bersedia untuk ikut bersama kami?" jawab penyidik itu langsung.
"Apa? Sekarang?" kaget Amla.
"Kenapa?" penyidik tampak santai menanyakan tanggapan Alma yang seperti terlihat keberatan.
"Tidak, aku hanya merasa Villa itu sudah sangat lama tidak dihuni, jadi mungkin akan sedikit kotor karena tidak terawat." jawab Amla beralasan.
__ADS_1
"Bukan masalah! Yang kami butuhkan hanya memeriksa fisiknya, tidak peduli bagaimanapun keadaannya."
"Ohh, ya ya! Baiklah, kalau begitu..."
"Penyidikan hari ini sudah selesai, semua pengawal juga sudah selesai diintrogasi jadi kami berencana untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan salah satunya pada Villa lama milik keluarga Huculak." ucap salah satu penyidik.
"Kami hanya memeriksanya, bukankah darah kotor harus segera ditusuk supaya tidak menyebabkan penyakit, begitupun tentang kecurigaan yang harus segera dituntaskan, supaya tidak menyebabkan masalah dikemudian hari." tambah penyidik yang lainnya.
"Benar... Tidak apa, ini hanya pemeriksaan biasa." lanjutnya.
Entah mengapa dengan perkataan para penyidik yang seperti itu, Amla merasa pihak penyidik ini justru malah mencurigainya. Ia merasa wajahnya bagai tercoreng, penyidik-penyidik itu bagai menertawakannya.
...***...
"Dia mengalami trauma psikis yang cukup hebat!" ucap Mike, saat ini Ayaz sedang berada di ruangan Mike bersama Marco yang ikut mendampinginya.
"Dan... Untuk anak sekecil itu, kita tidak bisa memberikannya obat seperti apa yang dulu aku berikan padamu!" lanjut Mike sembari menatap Ayaz.
"Yang paling sulit dari seseorang yang trauma adalah menjaga suasana hatinya, kau juga pernah mengalami itu, jadi kuanggap kau lebih tau."
"Kita harus menemukan penyebabnya terlebih dahulu, barulah kita bisa membuatnya bangkit dari keterpurukan."
"Dia kehilangan Ibunya..."
"Untuk anak seusianya, kehilangan Ibu bukanlah hal yang seharusnya bisa membuatnya trauma, jika didampingi dengan baik maka kehilangan salah satu anggota keluarga... Aku rasa itu lumrah saja terjadi pada anak seusianya."
"Yah kau benar Mike, aku pun juga tidak memiliki siapapun saat diusianya, tapi aku masih baik-baik saja." aku Marco yang juga membandingkan hidupnya.
"Bukan kehilangan Ibunya yang menyebabkan anak itu trauma, tapi penyebab hilangnya seorang Ibu, kita tidak tau apa yang telah terjadi pada anak seusianya, apa yang telah anak itu dengar, apa yang telah anak itu lihat, apa yang telah anak itu alami, hal itu yang pastinya telah membuatnya trauma."
__ADS_1
Ayaz mengangguk, ia juga sama seperti Mike berpikiran begitu, namun Ayaz seolah menepis dugaannya itu setiap kali memikirkannya.
"Jadi Mike, kita tidak bisa memberikan obat itu pada anak seusianya? Apa kau punya alternatif lain?" tanya Marco.
"Ya itu... Kita harus mengetahui dulu apa yang sebenarnya telah membuat anak itu trauma!" jawab Mike.
"Jika pada kasus Ayaz dulunya, Ayaz bisa menceritakan sendiri apa yang membuatnya trauma, anggap saja itu karena sifat Ayaz yang merasa dirinya butuh perlindungan, apa lagi Ayaz sudah dewasa saat kau temukan waktu itu."
"Waktu itu aku hanya ingin mati saja, jika Marco menghabisiku waktu itu mungkin akan lebih baik, makanya aku menceritakan kisah hidupku padanya." koreksi Ayaz pada penyataan Mike. Tidak terima dikatakan kalau saat itu dirinya sedang butuh perlindungan.
"Ya tapi tetap saja, kau bisa terbuka pada orang lain kan?" Mike tak kalah, ia merasa pendapatnya memang benar tentang Ayaz.
"Sudah-sudah..." lerai Marco, "Mike, lanjutkan!" titahnya tidak sabar.
"Namun anak ini tidak, sifatnya yang introvert membuatnya sulit untuk menemui orang baru, dan traumanya semakin lama akan semakin membuatnya terjerumus lebih dalam lagi, sifat seperti inilah yang akan membuatnya kesulitan untuk bangkit dari traumanya." jelas Mike.
Ayaz mengerti dan bisa menangkap penjelasan Mike, meski dulunya ia tidak pernah keluar dari Istana Sian dan selalu disiksa, namun Ayaz bukanlah penyendiri, sulit bergaul, Ayaz adalah orang yang simpel dan ramah dulunya, ia bersahabat dengan siapa saja yang ingin menjadi temannya di rumah megah itu, kadang anak pelayan pun bersahabat dengannya, namun hal itu tidak pernah berlangsung lama karena Sian yang selalu melarang siapapun menemaninya.
Ia bisa berbagi dengan siapapun, meski tidak sepenuhnya menceritakan kesulitan dalam hidupnya. Sementara anak ini, memang sedikit sulit didekati, bukan hanya karena trauma, karena mungkin sifat anak itu memang sudah seperti itu.
"Aku kan bertanya apa kau punya alternatif lain?" berangan dari Marco berhasil membuyarkan lamunan Ayaz tentang hidupnya dulu dan anak itu.
"Jawab saja apa susahnya, jangan lagi memberikan pendapat yang membuatku berpikir lagi dan lagi, aku ini sudah tua, apa kau senang jika aku dilanda pikun lebih cepat karena kebanyakan berpikir?" gerutu Marco.
"Ya kan aku sudah bilang, kita harus mengetahui dulu apa yang sudah membuatnya trauma!" jawab Mike, ingin memberang namun nyalinya seketika langsung saja menciut mengingat dengan siapa saat ini dirinya bicara.
"Aku butuh kerja cepat, obat, suntikan, atau apapun? Apa kau tidak bisa? Apa kau ini benar-benar seorang dokter? Aissshhh, jangan salahkan aku jika meragukan itu." ucap Marco. Ia sengaja mengatakan itu karena melihat wajah Ayaz yang sepertinya sedang menahan kesedihan, Marco tau putranya itu pastilah sedang teringat akan masa kelamnya, jadi Marco ingin mengalihkan perhatian Ayaz dengan membuat keributan dengan Mike.
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...