
"Siapa Nindi?" tanya Rymi. Matanya menatap penuh curiga pada sang Ayah.
"Nindi?" tanya balik Marco. Ada apa? Mengapa tiba-tiba Rymi menanyakan Nindi?
"Nindi, aku mendengar nama itu keluar dari mulut Daddy saat Daddy tidak sadarkan diri, siapa dia?"
Marco terdiam, haruskah dia memberitahukan pada Rymi siapa Nindi, seseorang dari masa lalunya.
"Bukan siapa-siapa?" jawab Marco.
"Daddy, apakah bagimu aku masih orang lain?" tanya Rymi.
"Ayaz sudah mengkhianatiku, aku tidak mau memberikan celah kepadamu!"
"Bukankah itu berarti Nindi adalah nama yang cukup penting bagimu?" tanya Rymi lagi.
"Apa yang ingin kau ketahui?"
"Nindi! Nama itu begitu mengganggu pikiranku, beberapa hari ini mengapa nama Nindi begitu banyak aku dengar." jelas Rymi.
"Maksudmu, Donulai?" tanya Marco.
"Yah, itu salah satunya." jawab Rymi.
"Aku sudah melupakannya, dia bukanlah sesuatu yang penting untuk diingat."
Rymi menghela napasnya berat, kenyataan bahwa Ayaz adalah pewaris keluarga Donulai saja masih belum bisa diterima baik oleh pemikirannya.
"Ayaz menghilang!" adu Marco.
"Menghilang?"
"Keberadaannya tidak terlacak, aku harus menemuinya." ucap Marco.
"Jika bertemu, apa yang akan Daddy katakan?"
"Donulai, bukanlah yang bisa merubah pikirannya menjadi begitu mudah berpaling, dia hanya menyanyangkan Samudra Rangga harus terlibat di dalamnya, aku tidak akan membunuh Samudra, tapi perlu untuk menyandranya saja, dan kali ini kau yang akan melakukannya."
"What!" Rymi tidak menduga apa yang baru saja Bos sekaligus Ayah angkatnya itu perintahkan padanya.
"Kau menolak?" delikan tajam Marco mampu membuat Rymi terdiam.
__ADS_1
"Dad!"
"Buang perasaanmu jauh-jauh tentang Ayaz." pekik Marco, seolah bisa membaca pemikiran Rymi atau mungkin Marco sedang mencurigai anak angkatnya itu.
"Ini bukan tentang Ayaz, aku sungguh tidak bisa melakukannya!" sahut Rymi.
"Oh ya, lalu karena apa? Karena Rangga? Tidak mungkin kan, aku hanya berbicara sesuatu yang mungkin di sini." sindir Marco.
"Ayaz tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dan aku tidak menginginkan pertumpahan darah terjadi antara Ayaz dan Daddy." jelas Rymi.
"Entah kau peduli padaku atau pada Ayaz, tapi aku tidak butuh pendapatmu, semakin Ayaz tidak bisa menerimanya maka semakin terbentang luas jalanku untuk misi ini." Marco tersenyum smirk.
"Kau, cari tau keberadaan Ayaz, aku ingin membicarakan suatu hal padanya." suruh Marco. Kemudian pria paruh baya itu berlalu meninggalkan Rymi di rumahnya.
Rymi menggeleng pelan, suatu hal yang paling dirinya takutkan sebentar lagi mungkin akan terjadi, Daddynya melawan Ayaz, sungguh keduanya sama berarti baginya.
...***...
"Ada apa Dokter Amri?" Argantara baru saja sampai di sebuah cafe. Dokter Amri, Dokter keluarganya itu mengajaknya bertemu waktu itu dan Argantara baru saja menepatinya.
"Duduklah dulu Tuan, mau pesan apa?" tanya Dokter Amri berbasa-basi.
"Ya, apa saja!" sahut Argantara.
"Mengapa ingin bertemu?" tanya Argantara. Matanya menelisik ketidakbiasaan, seorang dokter keluarga ingin menemuinya secara pribadi, apa ada masalah pikirnya.
"Saya cukup kecewa tentang anda yang mengusir Yaren dari rumah." ungkap Dokter Amri.
Meski dirinya mencoba untuk menahan gejolak ketidaksukaannya, namun pada akhirnya semua terlontar juga, padahal sebelum mengajak Argantara bertemu Dokter Amri sudah mewanti untuk tidak akan pernah membahas tentang Yaren.
"Dia hamil, menurutku itu suatu yang layak sebagai hukumannya." sahut Argantara.
"Ah begitu! Apa jika sesuatu yang sama terjadi pada Raisa, apa anda juga berniat untuk mengusirnya?" sindir Dokter Amri.
"Jangan asal bicara, tau batasanmu!" pekik Argantara, dia mulai tidak senang akan ekspresi wajah Dokter Amri yang seperti mengolok-oloknya.
"Kau adalah orang-orang Ibunya Yaren, jadi wajar saja kau berpihak padanya, tapi bukan berarti kau harus menyebarkan rumor buruk tentang Raisa." dengus Argantara kesal.
"Rumor? Bahkan aku belum mengatakan rumor apapun, hanya jika!" ucap Dokter Amri tak kalah tegas.
"Kau tidak tau apa yang dialami putri sulungmu di luar sana, aku sangat tidak percaya kau masih bisa makan dengan tenang bahkan tidur dengan nyenyak, sementara Yaren... Kau yakin bisa hidup dengan baik di luar sana?"
__ADS_1
"Jangan menguliahiku, aku lebih tau akan putriku dari pada siapapun!" berang Argantara.
"Ah ya, benar sekali Tuan, karena kau adalah Ayahnya, bukan begitu maksud anda?" tatapan sengit dilayangkan Dokter Amri, sudah basah sekalipun dirinya harus diberhentikan oleh keluarga Argantara sebagai dokter yang dipercaya menangani keluarganya, heh persetan untuk itu semua.
"Apa sebenarnya tujuanmu?" tanya Argantara langsung.
"Bersabarlah sedikit, bahkan Tuan belum memakan apapun di jamuanku kali ini, duduklah sebentar nikmati kopi Tuan nanti, tenang saja tidak akan kububuhkan sianida di minuman Tuan Argantara! Hehehe!" gelak tawa mewarnai ucapan Dokter Amri.
"Aku tidak datang ke sini untuk bercanda." sindir pedas Argantara.
"Baiklah, jika kau memaksa, sebaiknya memang kita harus segera memasuki percakapan inti."
"Katakan."
"Raisa Karunia Argantara, putra bungsumu itu, sedang hamil delapan minggu!" ungkap Dokter Amri.
"Dan pastikan dia menjaga kandungannya dengan baik!" lanjutnya lagi sembari menampilkan senyum penuh arti.
"Kurang ajar, beraninya kau..."
"Menebar fitnah, seorang dokter sepertiku mungkin akan diberhentikan dari jabatannya jika apa yang kukatakan ini tidaklah sesuai."
"Dan jika itu benar-benar terbukti, maka... Aku minta keprofessionalanmu, untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan atau mengancam jabatanku. Tuan Argantara, setelah kau mengetahui ini mungkinkah kau akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kau lakukan pada Yaren?"
"Sialan kau!" umpat Argantara.
"Tapi, aku cukup mengerti, tidak mudah bagimu melakukan itu, istri tersayangmu itu pasti tidak akan tinggal diam." sindir Dokter Amri, rasanya dia cukup menang seolah berhasil membuat Argantara begitu terkejut hari ini.
"Apa maumu?"
"Aku tidak punya maksud apapun, tujuanku hanya satu, mengingatkanmu, bahwa kau masih punya putri yang saat ini mungkin sudah kau buang, dan jika dirinya tidak hamil mungkin kau akan menanggung penyesalan di seumur hidupmu karena telah tanpa perasaan mengusirnya." sorot mata Dokter Amri begitu tajam kala ia mengatakan itu, dirinyabbenar-benar tidak bisa terima Yaren diperlakukan tidak adil seperti itu.
Padahal, apa salahnya Argantara menerima Yaren, menyelidiki kebenarannya, perihal Yaren yang membatalkan pernikahan secara sengaja, menurut Dokter Amri seharusnya Argantara lebih mengerti akan hal itu, jika Dokter Amri dilahirkan sebagai wanita pun mungkin dirinya juga tidak akan mau menikah dengan Juragan Marli, meski dikelilingi harta berlimpah tujuh turunan delapan tanjakan sekalipun.
"Dia sudah menikah!" ungkap Argantara, "Dia sudah menikah dengan pria yang mengaku menghamilinya, bahkan setelah terusir dari umah dia bahkan tinggal serumah dengan pria itu, apa itu masih belum cukup membuktikan bahwa Yaren memang tidak cukup baik?" tegas Argantara.
Duarrrr....
Mata Dokter Amri membulat, Yaren, sudah menikah?
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...