Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Rymi melahirkan.


__ADS_3

Besoknya, Rymi merasakan sakit perut yang melilit, ia berpegang pada sisi ranjang, memanggil-manggil nama suaminya namun tidak juga terdengar sahutan, ternyata Sam sudah berangkat pagi tadi.


Mungkin lebih tepatnya Rymi yang terlalu siang untuk bangun, dia bangun saat matahari sudah hampir berada di atas kepala, itupun karena tiba-tiba saja dia merasakan kesakitan di bagian perutnya.


"Daddy..." serunya berteriak, namun Marco tidak juga datang.


Rymi dengan sekuat tenaga mengambil ponselnya yang terletak di nakas, ia menghubungi Marco untuk segera menemuinya di kamar. Rymi dengan tangisnya memanggil-manggil ayah angkatnya itu.


Tak lama Marco datang, ia merasa ada yang aneh karena Rymi tidak pernah merasakan kesakitan yang teramat seperti itu.


Bahkan dulu saat peluru menembus lengannya saja, Rymi masih bisa bertahan.


"Daddy... Tolong aku..." erangan Rymi membuyarkan lamunan Marco, Marco segera mendekat dan mengusap perut buncit Rymi.


"Apa yang sakit? Mana yang sakit?" tanyanya panik.


"Perut... Aahhhh perutku sakit, Daddy..." racau Rymi.


"Kamu salah makan kali?" tebak Marco.


"Bukan..."


"Jadi apa? Kamu makan pedas, sudah dibilang juga jangan makan yang pedas-pedas?" panik Marco. Satu tangannya mengelus perut Rymi, satu tangannya lagi menggenggam erat tangan Rymi untuk menguatkan.


"BUKAAAANNN!!!" Teriak Rymi, dia sungguh kesal, mengapa Daddynya ini tiba-tiba saja menjadi bodoh?

__ADS_1


"Jadi?"


"Aku mau melahirkan Daddy, ini perut udah buncit seperti ini pastinya mau melahirkan." jelas Rymi cepat.


"Astagah, apa benar?" mendengar itu terang saja Marco langsung benar-benar panik.


"Daddy... Aku tidak kuat!" keluh Rymi.


"Jadi Daddy harus apa?" bingung Marco.


"Sam, panggilkan Sam, cepat Daddy!"


"Sam?"


Lalu, Marco memanggil Mike untuk segera datang ke rumahnya, untuk memeriksa Rymi terlebih dahulu karena dirinya juga tidak tau apakah Rymi boleh banyak bergerak atau tidak jika dirinya memaksa untuk dibawa ke mansion.


"Daddy..." seru Rymi lagi. Rymi memang tidak bohong, dia benar-benar merasakan kesakitan.


"Rym... Daddy juga tidak tau harus bagaimana?"


Marco menelpon Sam untuk mengabarkan kondisi Rymi dan menyuruh menantunya itu untuk segera pulang. Namun saat dia sudah selesai menelpon matanya membulat sempurna kala mendapati darah yang sudah merembes di sprei bersamaan dengan Rymi yang mengadu padanya, "Daddy darah... Ada darah Daddy!"


"Rym, mengapa... Aduh, bagaimana ini, Mike ini mengapa lama sekali!" Marco semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, hal ini persis dirinya rasakan saat Ayaz tertusuk pedang waktu itu, dia juga marah pada Mike.


"Daddy..."

__ADS_1


"Daddy... Tolong aku... Ini sakit sekali Daddy, tolong... Aku seperti mau mati, aahhhh!"


"Rym, aduh Rym, bagaimana?"


"Apa? Daddy harus apa? Daddy, tidak bisa apa-apa!"


"Daddy sakitttt!" Rymi menggenggam lengan. Marco, menancapkan kukunya di sana, sangat keras bahkan membuat lengan Marco berdarah.


"Rym kau, sakiit!" keluhnya, terasa perih saat kuku itu menancap dalam di lengannya.


"Sakitttt, ini kenapa sakit sekali, apa semua orang melahirkan sesakit ini, Saaaammm kau harus bertanggung jawab, gila, ini sakit, aku tidak mau hamil lagi, tidak mau... Aku tidak mau hamil lagi!" racaunya tanpa sadar.


Selang satu jam Rymi merasakan kesakitan itu, barulah Mike datang. Saat Mike datang, alangkah terkejutnya ia ketika melihat darah yang sudah merembes membasahi sprei. Dan yang dilihatnya dua manusia yang sama-sama sedang menahan kesakitan.


"Rym..." serunya.


"Aku mau melahirkan, pasti mau melahirkan!" adu Rymi saat melihat Mike.


"Tuan Marco, angkat dia, lebih baik bawa dia ke mansion, aku juga bukan dokter obygn, jadi aku tidak punya pengalaman membantu persalinan." jelas Marco.


"Apa? Jadi mengapa kau datang ke sini jika tidak bisa? Kau mau mati hah?" geram Marco.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....

__ADS_1


__ADS_2