
Marco mempercepat laju mobilnya, pria itu tidak jadi mengurus perhitungan dengan istrinya Sian, dirinya harus segera menemui Rymi untuk mempersiapkan segalanya.
Dua puluh lima menit berlalu, Marco sudah sampai di mansion mewahnya, langkah kakinya begitu cepat mencari keberadaan Rymi.
Matanya menatap putrinya yang sudah rapi, Rymi pasti sudah akan berangkat, di belakang wanita itu ada juga Yaren yang sudah siap juga untuk pergi.
"Apa semuanya sudah kau siapkan?" tanya Marco.
Rymi mengangguk, "Nanti akan aku kabari jika aku butuh sesuatu!"
"Baiklah, tolong usahakan Rym, selamatkan Ayaz!" ucap Marco.
"Daddy, tenangkan dirimu!" Rymi mengusap pelan lengan Daddynya, ia juga sama, hanya saja selalu mencoba menahan kekhawatirannya, berharap langkahnya tidak kalah cepat, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Ayaz.
"Kami pergi dulu!" pamit Rymi, Marco mengangguk mengiyakan.
...***...
Ayaz merasakan hanya ada kegelapan disekelilingnya, ruang itu bagai ruangan hampa udara sehingga membuatnya kesulitan untuk bernapas.
Ia mengedarkan pandangannya, begitu sepi mencekam, tidak ada siapapun di tempat gelap itu.
"Di mana aku?" tanyanya bergumam.
Ayaz melangkah terseok sembari menahan sesak di dadanya, seluruh tubuhnya juga kesakitan, namun Ayaz merasa ia tidak bisa hanya berdiam diri saja, mencari jalan keluar mungkin akan lebih baik menurutnya.
Ayaz menelusuri jalan yang bagai lorong itu, tiba-tiba langkah kakinya terhenti kala ia menemukan sebuah pintu, Ayaz berpikir mungkinkah pintu itu adalah pintu keluar dari ruangan pengap dan gelap ini.
Gegas Ayaz mempercepat langkahnya, bagai menemukan secercah harapan, tangannya ia paksa terulur untuk membuka pintu itu.
Ceklek,
Pintu dibuka, betapa terkejutnya Ayaz saat pintu itu dirinya buka, sebuah ruangan lumayan sempit menyapanya, hanya ada satu meja dan satu kursi saja yang tersedia di ruangan itu, ruangan itu berwarna cokelat dibagian dindingnya, dan atapnya juga, Ayaz juga baru menyadari kalau plafon sederhana dari ruangan itu ternyata juga berwarna coklat.
Coklatnya tidak terlalu muda, namun bukan seperti warna coklat saat susu yang dicampur dengan bubuk coklat, warna coklat ini seperti warna coklat tanah yang subur. Pemandangan yang begitu menakjubkan bagi Ayaz.
__ADS_1
Ruangannya tidak mempunyai jendela, hanya memiliki dua pintu, satu pintu sudah Ayaz lewati saat masuk ke ruangan ini tadi, dan satu pintunya lagi tepat berada di hadapannya.
Ayaz begitu heran, mengapa bisa ada orang yang terpikir untuk membuat ruangan seperti ini, begitu sempit dan kedua pintunya saling lurus berhadapan, dan tak lupa pintu itu juga memiliki warna yang sama dengan dindingnya.
Lantainya juga sama, coklat seperti warna tanah, namun Ayaz yakin lantai yang dipijaknya ini adalah lantai marmer.
Ayaz duduk di sebuah kursi itu, sejenak dirinya melepaskan lelahnya karena menyusuri jalan hingga sampai ke sini.
"Ruangan apa ini?" gumamnya lagi.
Ayaz, memejamkan matanya, hingga ia merasakan kantuk menyerangnya dan mata itu benar-benar terpejam.
Dalam istirahatnya, Ayaz merasakan pundaknya dipegang lembut oleh seseorang, Ayaz mencoba membuka mata namun entah mengapa rasanya begitu berat dan sulit sekali.
Sosok itu... Ayaz berkedip tidak percaya, sosok yang sangat dirindukannya kini berada tepat di dekatnya, bahkan sedang membelai lembut pundaknya.
"Ibu..." seru Ayaz lirih.
Yah, sosok yang terlihat di mata Ayaz adalah benar Ibunya, Nindi Rowans.
"Maafkan Ibu Nak!" ucap Nindi.
"Ibu..." Ayaz, dirinya seolah hanya bisa mengatakan itu, entah mengapa tangannya bahkan tidak bisa terangkat untuk mengusap tangan Ibunya, seperti ada yang menahannya.
"Ibu... Mengapa aku tidak bisa menggapaimu?" tanya Ayaz.
"Kita berbeda sayang, kau belum saatnya bersama Ibu." jawab Nindi.
"Apa maksudnya?" tanya Ayaz heran, "Ibu, ayo pulang bersamaku, aku tidak membutuhkan apapun yang lain lagi, saat aku bisa bersamamu, aku berjanji akan menjadi anak yang patuh, sungguh Ibu." ucap Ayaz.
"Ayaz... Kau sudah sebesar ini, kau sangat tampan, kau... Persis seperti ayahmu!" ucap Nindi lagi, nadanya sangat pelan, tapi Ayaz masih bisa mendengar suara itu.
"Ayahku?"
"Ayaz...Berjanjilah untuk tidak membenci, kebencian hanya akan menghancurkanmu!" Nindi, tangan itu terulur lembut membelai wajah putranya.
__ADS_1
Ayaz ingin memegang tangan itu, namun ia tidak mengerti mengapa rasanya sulit sekali.
"Tapi Bu, kau tidak tau apa yang dia lakukan seelah kepergianmu, aku sungguh tersiksa Bu, dia tidak memperlakukanku seperti manusia, aku tak ubah hewan baginya."
"Shuttt, Ayaz... Biarkan saja, kau akan mendapatkan bahagia jika kau mengubah pandangan dirimu, jangan membenci Nak, Ibu harus berpisah dengan keluarga Ibu karena suatu kebencian, dan... suatu hal juga tidak bisa terselamatkan juga karena suatu kebencian."
"Bu..."
"Ayaz, kau anak Ibu, kau tidak pernah membangkang, kau anak yang manis, Ibu bangga padamu!"
"Suatu hari nanti, mungkin kau akan mengetahui sebuah kebenaran, Ibu percaya kau tidak akan menyimpan dendam, Ibu hanya bisa memohon, buanglah seluruh rasa benci, kebencian hanya akan membuatmu menjadi tersesat lebih dalam lagi."
"Aku tidak bisa Bu, aku tidak semurah hati itu!"
"Ayaz..."
Tangan dan tubuh Ayaz akhirnya bisa digerakkan, tangannya dengan cepat ingin menjangkau sosok Ibunya, namun hanya kehampaan yang dirinya genggam, sosok Ibunya itu sudah hilang meninggalkannya.
"Ibu..." seru Ayaz.
Ayaz mengedarkan pandangannya, namun tidak menemukan apapun, langkah kakinya bergegas membukakan pintu keluar berharap akan menemukan Ibunya, akan tetapi keberuntungan tidak juga berpihak padanya. Ayaz mencoba membuka pintu satunya lagi dalam ruangan itu, dan saat pintunya terbuka matanya kembali dirundung keheranan, sebuah ruangan yang sama, sama sempitnya, dengan warna coklat tanah di seluruh dinding, atap ataupun lantainya, hanya saja tidak ada kursi dan meja seperti pada ruangan pertama.
Ruangan itu kosong, dan anehnya ada satu pintu lagi yang Ayaz kira pastilah menuju ke ruangan berikutnya, jika ini sebuah rumah mungkin pintu itu akan terhubung ke dapur atau halaman belakang, namun Ayaz juga ragu jika menganggap ruangan ini adalah sebuah rumah. Sungguh aneh sekali.
Sejenak Ayaz melupakan tujuan untuk mencari Ibunya, ruangan sempit itu jika dihitung menggunakan langkah kaki, mungkin hanya berjarak tiga langkah dari pintu satu ke pintu lainnya yang lurus berhadapan.
Ayaz mencoba berpikir jernih, tangannya ia arahkan untuk membuka pintu itu, matanya melotot tidak percaya, Ayaz bahkan mendapati ruangan yang sama persis lagi. Sempit, dan di sekelilingnya tetap saja bernuansa warna coklat tanah, Ayaz menggeleng pelan, mengucek matanya barang kali dirinya tengah bermimpi, namun sayangnya ia masih mendapati pemandangan yang sama.
Satu pintu dihadapannya, Ayaz tetap ingin membukanya, berharap ruangan selanjutnya bukanlah ruangan yang sama persis, gila saja jika ia mendapati ruangan yang sama lagi, sungguh ini diluar pemikirannya, tidak masuk akal jika ada rumah seperti ini.
"Ceklek!" pintu dibuka, Ayaz harus tersenyum miris melihat hasil yang dijumpainya.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1