Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa kau menyesalinya?


__ADS_3

"Namaku Dean Aries, besok kau adalah istri dari seorang Dean Aries." ucap Ayaz, tangannya masih menggenggam erat tangan istrinya, jika Yaren menanyakan mengapa bisa seperti itu, maka ia harus benar-benar memulainya.


Sementara Yaren, matanya menatap mata suaminya dalam, berharap apa yang dikatakan oleh suaminya itu adalah tidak benar.


Yang dirinya tau tentang Dean Aries adalah seseorang yang berpotensi menjadi tersangka atas kasus pembunuhan Ali Yarkan, pemilik salah satu hotel ternama di negara ini yang mati di kamar hotel miliknya sendiri dan kasusnya masih simpang siur tidak juga terselesaikan.


Mengapa tiba-tiba Ayaz memintanya untuk memanggil dengan nama itu.


Yaren mencoba tersenyum, saat ini Ayaz di hadapannya berkata akan bercerita mengenai kehidupan pria itu, seharusnya ia antusias karena inilah yang dirinya inginkan, selama ini ia begitu penasaran, dan seharusnya ia mendengarkan dengan benar mengenai itu.


"Aku membunuhnya!" ucap Ayaz melanjutkan.


Tangan Yaren refleks mengatup mulutnya, ia terkejut, kakinya melemas, bukankah lebih baik ia tidak mengetahui hal seperti ini.


"Jika berita yang kau dengar di televisi, tentang beberapa rumor yang beredar mengatakan bahwa aku adalah pembunuhnya maka di hadapanmu aku akan jujur, bahwa 'Ya' akulah yang membunuhnya."


Yaren terpaku, mulutnya bergetar, kemudian keringat dingin membasahi wajahnya, jadi pria seperti apa yang sudah dirinya nikahi ini?


"Sudah aku katakan sebelumnya berkali-kali bahwa aku bukanlah orang baik. Kau seharusnya bisa mengerti dan jangan mengikutiku waktu itu, tapi jika dengan keadaan kita yang sekarang maka sayangnya kau tidak bisa lagi meninggalkanku Yaren, karena aku tidak akan melepaskanmu."


Yaren bangkit dari tempat tidur itu, ia hendak meniggalkan Ayaz, bukan hanya kecewa yang dirinya rasakan namun juga takut tak terhindarkan, ia yang tidak siap mengetahui Ayaz nyatanya seperti itu.


Namun gerakannya terbaca oleh Ayaz, Ayaz dengan sigap langsung menarik tangan Yaren dan kemudian mendekap tubuh itu dari belakang, Ayaz berbisik, "Bisakah kita melanjutkan perbincangan ini, bahkan kau hanya mendengar tidak sampai dari seperempatnya?"


"Aaa Ayaaz!" ucap Yaren bergetar. Matanya memanas dan seperdetik kemudian air mata itu lolos juga membasahi pipinya, Yaren bahkan terisak, ia menangis.


Sebenarnya Yaren juga tidak mengerti mengapa tubuhnya yang merespon demikian, mendengar Ayaz mengatakan itu, entah perasaan apa yang lebih mendominaninya untuk mengeluarkan air mata, sedih kah, atau mungkin kecewa, atau perasaan takut kah? Rasanya Yaren tidak percaya Ayaz adalah seorang pembunuh, dan seorang pembunuh yang tidak pernah mengaku bahwa ia adalah pembunuh karena kasus Ali Yarkan yang nyatanya tidak selesai sampai saat ini.


"Aku melakukannya karena itulah pekerjaanku." lanjut Ayaz dengan masih memeluk tubuh Yaren dari belakang.


"Aku kotor, aku hitam, aku adalah yang terburuk, yang dengan tidak tau malunya meminta istriku ini untuk mengerti."

__ADS_1


Yaren terisak, rasa cinta dan juga kecewa mungkin sedang bercampur jadi satu saat ini.


"Aku membunuhnya karena sebuah perintah, dan aku memang mendapatkan bayaran untuk itu, jadi aku harus menanggung konsekuensi atas apa yang aku lakukan, kurang lebih begitulah hubungannya."


Yaren mulai meronta-ronta ingin dilepaskan, ia tidak mau mendengar itu, Ayaznya bukanlah orang yang buruk, bukan!


"Besok, mungkin mereka akan datang, menanyaimu perihal siapa diriku, aku tidak berharap banyak padamu, jika kau benar-benar menginginkan kita bersama, panggil saja namaku Dean Aries, orang yang sangat kau cintai, dan keluarga kita adalah keluarga bahagia."


"Aku Dean, bukan Ayaz!"


"Hiks hiks, mengapa Ayaz, mengapa bagimu mudah saja menukar nyawa seseorang hanya demi uang, mengapa?"


"Apa ini juga alasanmu saat aku berkali-kali meminta untuk kau melepaskanku, namun kau seakan tidak punya hati, kau seakan buta, seakan tuli, tidak peduli kalau aku hidup dalam penderitaan, bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau berprilaku sekejam itu?" berang Yaren.


Ayaz membalikkan tubuh Yaren menghadapnya, ia mencoba mengecupi Yaren namun Yaren menolak, "Lepas... Lepaskan aku Ayaz." teriak Yaren.


"Yaren, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf." ucap Ayaz.


"Yaren..." Ayaz membungkukkan tubuhnya, ia membelai mesra pipi Yaren, "Kadang seseorang tidak butuh alasan, uang hanyalah yang kau lihat dan pikirkan sebagai alasan, namun keadaan membawaku harus menjadi orang yang seperti itu, bukan hanya karena uang semata."


"Ayaz... Kau, apa benar-benar membunuhnya."


Ayaz mengangguk, sakit saat ia harus mengakuinya di hadapan orang yang paling dirinya sayangi.


Hiks hiks, Yaren semakin terisak melihat jawaban Ayaz.


"Jadi, kau baru saja memintaku untuk melindungi seorang pembunuh?" tanya Yaren, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya ia tidak akan bisa melakukan itu.


Jiwa Ali Yarkan, Yaren yakin tidak akan tenang jika seseorang yang membunuhnya ini terus saja mengelak, namun jika ia tidak melakukan itu tentu saja ia juga tidak akan sanggup jika harus kehilangan suaminya.


Apakah dia termasuk orang yang jahat jika ia membela pembunuhnya, tapi pembunuh itu adalah suaminya, orang yang sangat dirinya cintai, Yaren baru saja merasakan jatuh cinta bagai tiada habisnya dengan Ayaz, lalu mengapa kebahagiaan seolah enggan berpihak padanya.

__ADS_1


"Aku tidak memaksamu Yaren, hanya jika kau mau." ucap Ayaz.


Yah, ia tau Yaren akan melakukannya meski Yaren bersikap seolah tidak terima.


"Ayaz..."


"Yaren, maaf! Aku adalah yang paling mengecewakan, tapi aku benar-benar menyayangimu, aku hanya ingin bersamamu, aku hanya harus melewati ini, setelahnya aku berjanji tidak akan pernah kembali pada dunia kotorku!" ucap Ayaz.


"Jadi, secara tidak langsung, maksudmu adalah mengajakku untuk hidup bahagia diatas penderitaan orang lain? Ayaz, kau bagaimana bisa..." Yaren mende*ah pelan, bukan ini yang mau ia dengar perihal kehidupan Ayaz yang selalu membuatnya penasaran, Yaren tidak menyangka Ayaz akan sejahat itu.


"Aku tidak punya pilihan lain? Apa kau mau aku menanggung semuanya?" tanya Ayaz.


Yaren tertunduk, bukan itu, bukan seperti itu juga yang dirinya mau.


"Katakan aku harus melakukan apa?" tanya Yaren lagi.


"Apa kau akan melakukannya?" tanya Ayaz.


Yaren seketika meragu, Haruskah ia menyelamatkan Ayaz, apa ini adalah sebuah bakti seorang istri, bukankah seorang istri harus melindungi suaminya, tapi apa iya saat suaminya bersalah.


"Apa tidak ada cara lain?" tanya Yaren.


"Jika kau ingin aku bertanggung jawab, sekarang keputusan berada di tanganmu!"


"Karena aku adalah istrimu? Bukan begitu? Jika saja kita tidak menikah maka aku tidak perlu melakukan dusta itu besok hari kan?" tanya Yaren.


"Apa kau menyesalinya?"


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2