Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Dasar tidak berperasaan!


__ADS_3

"Nindi... Kau bersalah Nindi!" racau Marco tak hentinya menyebutkan satu nama yang masih asing untuk Rymi. 'Nindi', nama itu sama dengan nama keponakan Tuan Donulai. Apa ada hubungannya, atau mungkin juga tidak.


"Kau, harus bertanggung jawab Nindi!"


"Kau membuatku sekejam ini, kau membuatku tak terkendali, aku sudah kaya Nindi, aku bahkan bisa membeli mulut busukmu itu!"


"Dad, sadarlah!" ucap Rymi, wanita itu dengan telaten membawa ayah angkatnya ke kamar. Selama ini Marco hanya hidup sendirian, kalau bukan dirinya yang merawat kala seperti ini, lalu siapa lagi.


"Kau meninggalkanku demi pria itu, kau tau rasanya, itu sakit sekali!"


Rymi segera keluar, dirinya sudah waspada, tidak baik jika dirinya berada di kamar ini menemani Ayahnya. Ayahnya sedang tidak sadar, bisa-bisa dirinya malah dianggap sebagai Nindi yang ada di khayalan Ayahnya.


Rymi bisa bernapas lega saat dirinya bisa keluar dari kamar dan langsung menguncinya, didengarnya racauan sang Ayah yang nampaknya masih terus tentang Nindi.


"Nindi, Nindi, Nindi, sepertinya aku juga pernah mendengar seseorang mengatakan itu, selain keluarga Donulai, mengapa rasanya aku juga pernah mendengar nama Nindi yang lain." Rymi masih berkutat dengan pemikirannya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari, entah mengapa Rymi melihat Ayahnya saat itu seperti begitu kacau.


Rymi menundukkan bokongnya di sofa, memejamkan matanya untuk mencoba beristirahat.


Namun, sudah sekian lama dirinya mencoba, matanya tetap saja enggan terpejam. Nama Nindi, terus saja seolah berdengung di telinganya, begitu memenuhi isi kepalanya.


Sebenarnya siapa Nindi, apa Nindi yang dimaksud adalah Nindi dari keluarga Tuan Donulai? batinnya lagi-lagi menanyakan itu.


"Astagah!" pekik Rymi tidak percaya kala mengingat sesuatu. Matanya yang mengantuk kini menjadi kembali terang sempurna.


"Tuan Marco bilang begitu, dia menyuruh anak buahnya untuk mengumpulkan informasi terkait Ibuku."


“Apa Marco tau siapa nama-nama keluargamu?”


“Sayangnya tidak, cukup rahasia, Marco belum selesai mengusutnya, petunjukku hanya Nindi Rowans, nama almarhumah!”


"Nindi Rowans, mereka bilang keluarga Ibunya Ayaz adalah keturunan Itali, apa mungkin..."


Rymi menutup mulutnya, jantungnya berpacu lebih cepat, sebuah temuan yang perlu dirinya konfirmasi, percakapan antaranya dan Ayaz malam itu membuatnya sadar akan sesuatu.


"Mungkinkah Ayaz..."


"Lalu Nindi yang Daddy maksud, tidak, pasti Nindi yang lain!" ucap Rymi mencoba menenangkan pemikirannya.


"Tapi, bagaimana jika Nindi yang sama, tidak... Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkan kalau Nindi yang dimaksud Daddy adalah Ibunya Ayaz, tidak!" Rymi bangkit dari duduknya, mengambil air putih untuk menetralkan kinerja otak dan jantungnya. Sebuah kenyataan semacam apa yang malam ini dirinya temukan.


"Lalu, apa mungkin Ayaz adalah... Donulai, mungkinkah keluarga Ayaz?"


Rymi menghubungkan setiap perkara dan menerka-nerka sesuatu, meski kepalanya menggeleng pelan seolah enggan menyetujui namun perasaannya sungguh tidak bisa diajak untuk berkompromi. Bahkan Rymi sudah bisa menarik kesimpulan atas perkara ini.


"Bagaimana bisa serumit ini, oh Tuhan, tidak, aku harus memastikan sesuatu!"

__ADS_1


Lalu Rymi mengirimkan pesan singkat untuk Ayaz, dirinya ingin menemui pria itu sesegera mungkin besok pagi.


...***...


Drettt drettt, sebuah pesan dari aplikasi hijau masuk ke ponsel Ayaz, dari Rymi. Ayaz segera membukanya.


📩 Temui aku besok pagi-pagi sekali, di cafe dekat Hotelmu!"


"Aisshhh, mengapa selalu mengajak bertemu pagi-pagi sekali, tidak taukah dia kalau jam segini saja aku bahkan belum tidur!" gumam Ayaz berkeluh.


Yaren mendengar gerutuan Ayaz, wanita itu hendak menanyakan apa terjadi sesuatu, namun keberaniannya tidak bisa sampai ke ujung lidahnya untuk mengatakan itu.


"Kau sudah selesai?" tanya Ayaz. Yaren masih menikmati makanannya, wanita itu kalau untuk urusan makan sungguh tidak sesuai dengan badannya yang nampak kecil.


Yaren segera mencoba menghabiskan cepat makanannya, tidak mau membuat Ayaz menunggu lama mengenai dirinya.


"Pelan-pelan Sayang!" ucap Ayaz tiba-tiba.


Yaren menghentikan makannya sebentar mendengar itu, entah mengapa ada desiran aneh saat Ayaz memanggilnya dengan sebutan begitu.


"Kau memerah lagi!" goda Ayaz, selalu saja merasa lucu jika semburat merah bersemu di pipi istrinya.


"Aku sudah selesai!" ucap Yaren, sebenarnya masih ada sisa ayam bakar di piringnya, namun ia tidak tahan, Ayaz tidak akan berhenti menggodanya jika tidak punya kegiatan lain.


"Itu masih ada." tunjuk Ayaz pada piring Yaren.


"Maksudku, aku sudah kenyang." ucap Yaren sembari nyengir kuda.


Ayaz langsung saja mengambil alih piring Yaren yang masih berisi ayam bakar, kemudian mencoba menghabiskan sisa makanan Yaren.


"Ayaz, itu..." Yaren cukup kaget atas tindakan Ayaz, bagaimana bisa seorang pria yang dingin miskin ekspresi menjadi seperti ini, dengan tanpa merasa malu malah menghabiskan sisa makanannya.


"Ini masih banyak, sayang kalau tidak dihabiskan, lagipula ini bekas istriku!" jawab Ayaz seolah tau apa yang ada dipikiran Yaren.


Setelah selesai dan hendak pulang ke hotel, lagi-lagi Ayaz tidak membiarkan Yaren berjalan kaki, Yaren sungguh bingung dibuat perlakuan Ayaz padanya.


"Naiklah!" titah Ayaz, pria itu sudah berjongkok memberikan punggungnya.


"Aa apa?" gagap Yaren.


"Kau lebih memilih untuk aku gendong seperti tadi?"


"Ah iya!" dengan segera Yaren naik ke punggung Ayaz, dari pada digendong ala bridal style seperti tadi, ini jauh lebih baik.


Ayaz mengulum senyumnya kala Yaren sudah berada di atas punggungnya. Dengan senang hati dirinya membawa Yaren pulang.


"Kau, apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Ayaz mengiringi langkahnya.

__ADS_1


"Bertanya?"


"Iya!"


"Tanya apa? Misalnya?" heran Yaren.


"Aishhh! Kau tidak ingin tau sesuatu?" tanya Ayaz lagi.


Apa maksudnya? Mengapa harus bertanya, mungkinkah tentang pesan yang dirinya terima tadi?


"Emm, mungkin ya!" sahut Yaren.


"Tanyakanlah!"


"Emmhh..." Yaren ingin berucap namun tampak meragu.


"Apa?"


"Emmh, Ayaz, bisakah kita sampai ke hotel lebih cepat, aku mengantuk!" ucap Yaren. Meski ingin sekali dirinya menanyakan apa yang begitu mengganjal di hatinya, namun urung dirinya lakukan. Ayaz pernah mengatakan kalau dirinya tidak berhak mengurusi pribadinya, dan menanyakan hal semacam itu mungkin juga termasuk mengurusi hal pribadi Ayaz kan.


Ayaz menundukkan wajahnya, berharap Yaren akan peduli atau mungkin cemburu nyatanya tidak sesuai harapan, wanita itu nampak biasa saja.


Apa dia benar tidak punya perasaan menyukaiku sedikitpun, apa hanya ada benci, apa begitu menyakitkan yang pernah aku lakukan padanya?


Ayaz melangkahkan kakinya lebih cepat sesuai permintaan Yaren, meski kecewa namun Ayaz juga tidak bisa berbuat apapun.


"Dasar tidak berperasaan!" umpat Ayaz pelan, namun sayangnya Yaren masih bisa mendengar itu.


"Kenapa?" tanya Yaren.


"Apa?"


"Siapa yang tidak berperasaan?" tanya Yaren hati-hati.


"Kenapa bertanya begitu?"


"Tadi kau yang bilang, mengumpat seperti itu." jawab Yaren.


Apa dia mendengarnya?


"Oh, tidak ada, ada seseorang yang tidak berperasaan." sindir Ayaz.


"Siapa?" tanya Yaren lagi.


Siapa? Memangnya ada orang yang tidak berperasaan di sini selain dirimu, dasar kepala batu, tidak pernah sadar, yang tidak berperasaan itu Kau!


Dalam hati Yaren berani sekali mengumpati Ayaz.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2