
Ayaz menuruti kemauan Yaren untuk bertemu dengan Dokter Amri, percayalah ia sedang menguatkan hatinya untuk tidak mengutuk siapapun pria yang pernah membuat nyaman istrinya sebelum kehadirannya itu.
"Kau kenapa sayang?" tanya Yaren manja, ia melihat Ayaz yang begitu resah dan gelisah, terlihat sekali bahwa suaminya itu seperti sedang mempersiapkan sesuatu.
"Ahhh... Tidak, aku tidak apa!" sahut Ayaz.
"Benarkah?"
"Ya!" singkat Ayaz. Lalu ia memperhatikan beberapa rumah di sebuah kawasan elit, Yaren mengatakan Dokter Amri memang tinggal di tempat itu.
"Apa kau sangat dekat dengannya dulu?" tanya Ayaz, sudah tau kalau pertanyaan itu akan semakin menambah kadar cemburunya, tapi masih saja tetap ingin dirinya ketahui jawaban dari istrinya. Ia sungguh penasaran, sedekat apa istrinya dengan seorang pria bernama Amri itu.
"Dekat, aku cukup dekat dengannya!" jawab Yaren seadanya.
"Kalian..."
"Kami saudara sayang, dia itu saudara dari almarhum Mama, Kak Jovan juga kenal!" potong Yaren, seolah tau isi hati sang suami.
Ada kelegaan tersirat dari wajah Ayaz, mau bagaimana lagi dirinya benar-benar takut Yaren mencintai orang lain.
Padahal, tidak tau saja Ayaz kalau dokter Amri pernah mencintai Yaren dengan setulus hatinya, bahkan Dokter Amri lah yang berusaha untuk selalu berada di dekat Yaren dan melindungi Yaren dulunya saat istrinya itu teraniaya di kediaman Argantara.
__ADS_1
Mungkin beginilah yang Yaren rasakan saat melihat kedekatannya dengan Rymi, Ayaz menyadari itu dan rasanya mulai sekarang sebisa mungkin ia akan menjaga hati sang istri.
Akhirnya mereka sudah sampai di rumah dokter Amri, Dokter Amri memang tinggal sendiri karena Tante Rachel menetap di luar kota.
Yaren beberapa kali mengetuk pintu rumah itu, namun tidak juga terdengar jawaban, akhirnya ia hanya bisa menampilkan wajah lesu, mungkin saat ini Dokter Amri sedang bekerja pikirnya.
"Ada apa? Dia tidak ada di rumah?"
Yaren menggeleng pelan, "Sepertinya tidak!"
"Jadi bagaimana?"
Jovan... Ayaz tampak berpikir tentang saudara kandung istrinya itu, bukankah dulunya Ayaz merasa Jovan pernah berkata tentang seseorang yang adalah bagian dari Argantara, meminta bantuan seseorang itu untuk menghancurkan Argantara, apa mungkin seseorang itu adalah Amri? Pikir Ayaz mengingat-ingat.
Jika seperti itu, mungkin saja Jovan bahkan mengetahui nomor ponsel dokter itu, Heh... Ayaz tersenyum miris. Yaren ini benar-benar suci tanpa dosa, tidak mengetahui apapun.
"Baiklah, sebentar... Aku akan menghubungi Jo dulu, biasanya dia sudah berada di kantor di jam begini!"
Yaren mengangguk setuju, ia senang hari ini ia akan kembali bertemu dengan kakaknya itu.
Ternyata memang benar dugaan Ayaz, Jovan sudah berada di kantor dan keduanya pun memutuskan untuk langsung menemui kakak Yaren itu di sana.
__ADS_1
...***...
Sam bergegas membersihkan diri untuk menjemput ayah angkatnya di Bandara, pagi-pagi sekali dirinya harus bangun dan langsung pulang ke kediamannya, itupun tidak berpamitan dengan Rymi. Sam terlalu takut untuk mengucapkan kata 'ingin pulang', takut wanitanya itu kembali memperlihatkan taringnya.
"Tuan Muda!" seru kepala pelayan.
"Ya!"
"Tuan besar sudah kembali saat tadi subuh!" ucap ketua pelayan memberitahukan hal yang menurutnya gila. Bagaimana tidak, mengapa ayah angkatnya itu bisa kembali subuh tadi, ini gawat! Benar-benar gawat.
Sam langsung saja bergegas mengambil ponselnya yang ia letakkan sembarang di nakas, ingin mengecek galeri pesannya, barang kali ayahnya itu memang sudah menghubunginya tadi malam dan dia melewatkannya.
"Oh astagah!" Sam menghela napas berat kala melihat begitu banyak panggilan tidak terjawab dari sang ayah angkat di ponselnya itu, salahnya terlalu memikirkan perasaan Rymi hingga lupa dengan benda canggih itu. Dan lagi pula, ini semua karena Rymi yang menjeratnya dengan beberapa gaya berbeda sehingga ia lupa diri.
"Benar-benar Rymi itu!" umpatnya geram.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
... ...
__ADS_1