Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Sampai akhir pun aku tidak pernah berkhianat...


__ADS_3

Harun mendapatkan kembali ketenarannya, publik bahkan bersimpati padanya tentang apa yang ia alami, ternyata wanita yang menawarkan kerja sama padanya itu bisa juga dipegang kata-katanya.


Harun malah berniat untuk membantu Raisa, ia akan mengerahkan anak buahnya untuk terbang ke London dengan segera, karena menurut kabar yang ia dengar dari anak buahnya ada pergerakan yang dilakukan Wana saat keluar dari Bandara, wanita itu nyatanya terbang menuju London.


Ia akan mencari wanita itu, dan juga di mana ia bisa menemukan Dandi, pria itu juga harus bertanggung jawab. Tidak ada lagi kata balas budi, kalau Harun mengetahui kejadiannya akan seperti ini tentunya ia akan menolak keras penawaran yang diberikan oleh pria itu.


Sementara itu,


Amla dilanda kebingungan kala mendengar penjelasan dari Dokter Diana. Jasad suaminya itu bahkan belum selesai di otopsi, masih ada serangkaian proses yang harus dilakukan terkait organ dalam, begitulah yang dapat Amla simpulkan dari penjelasan Dokter Diana tadi. Jadi bagaimana bisa pihak penyidik mengambil kesimpulan bahwa Sian meninggal karena di bunuh, apa-apaan ini Amla merasa dibohongi.


Amla mulai curiga, cara pihak penyidik memandangnya saja bahkan seperti mencurigainya, itu semua karena video sialan, Amla mengeram setiap kali mengingat itu.


Amla segera kembali ke rumah, dalam perasaan kacau ia berteriak saat sudah sampai di kediamannya, ia menyuruh orang kepercayaannya untuk segera mengumpulkan pengawal.


Dalam lima belas menit semua pengawal di kediamannya itu sudah berkumpul, berbaris rapi seakan siap untuk menerima perintah.


Di barisan itu juga hadir Ilham dan ketua pengawal, mereka tidak bisa lagi berkelit jika Amla kali ini memberikan hukuman pada mereka.


Sementara Amla, ia yang melihat ketua pengawal itu melangkah mendekat, Amla tersenyum kecut memandang rendah ketua pengawal yang dianggapnya sungguh tidak becus itu.


"Apa kau tau kesalahanmu?" tanya Amla.


"Saya siap dihukum Nyonya!" ucap ketua pengawal itu tegas. Seolah-olah dirinya memang telah lalai dalam bertugas.


"Aku memberikanmu pilihan, tapi kau sepertinya tidak menghargai kebaikanku!" ujar Amla sinis.


Pengawal itu tetap diam, ia sudah terima apapun yang akan dilakukan istri Tuannya ini padanya.


Lalu Amla berteriak memanggil anak buahnya, dua orang anak buahnya itu kemudian datang dengan membawa dua buah cambuk. Ilham memejamkan matanya, ia tau hari ini akan terjadi.

__ADS_1


"Kau sudah tidak becus dalam bekerja, aku menyuruhmu untuk apa?" tanya Amla berteriak lagi.


"Mencari pengkhianat di antara kami." jawab ketua pengawal.


"Apa kau sudah melakukannya dengan benar? Atau, kau sengaja tidak melakukan apa yang aku perintahkan?"


"Saya pantas mati Nyonya!"


"Hemmmm, pantas mati..." Amla menggeleng tidak percaya bagaimana mungkin orang yang dilihatnya begitu setia seperti ini bisa mengkhianatinya.


"Atau jangan-jangan, sebenarnya kau lah pengkhianat itu?" tuduh Amla.


Ketua pengawal itu tidak menjawab, dan seperdetik kemudian ia memejamkan matanya bersamaan dengan cambuk yang mendarat di punggungnya.


"Slaasshhh..."


Pengawal itu masih tetap diam.


Aku tidak pernah berkhianat, karena Tuanku bukanlah kau, kami hanya memiliki satu Tuan, Tuan Sian tidak akan senang jika dia mengetahui kalau aku harus membantu orang yang telah membunuhnya.


"Aku tanya diantara kalian, siapa yang berkhianat, memilih mengakuinya sendiri atau akan aku temukan dengan cambuk ini!" ancam Amla berteriak pada semua pengawal.


Semua pengawal menyahut bersamaan, "Saya pantas mati Nyonya!"


"Ctaarrrr..." cambuk itu mendarat lagi di punggung ketua mereka.


Semua pengawal memejamkan mata, seolah ikut merasakan kesakitan sang ketua.


Banyak diantara mereka yang ingin menyuarakan isi hati, mengatakan merekalah penghianat yang sebenarnya, mereka semua adalah penghianat, mereka akan melawan Amla bagaimanapun caranya hidup ataupun mati, perang bukan masalah bagi mereka. Tapi diamnya mereka adalah juga perintah sang ketua. Jadi mereka tidak bisa berbuat apapun selain berpura-pura tunduk di hadapan Amla.

__ADS_1


Namun, cambukan yang hanya akan ditanggung oleh ketua mereka seoran, sama sekali tidak pernah mereka bayangkan, hati mereka sakit teriris melihat punggung yang mulai mengeluarkan darah itu menanggung semuanya.


"Apa kalian akan tetap diam?" tanya Amla berteriak lagi.


Dan lagi, tidak ada jawaban terdengar,


"Slasshhh..."


"Ctaarrrr..."


Ketua pengawal itu memejamkan mata, begitupun Ilham, dalam hatinya remuk melihat ketuanya mengalami penyiksaan itu.


Masing-masing dari mereka juga, berharap bisa menggantikan punggung itu, bagaimanapun seharusnya mereka akan menanggung semua ini bersama.


"Tidak mau mengaku?"


"Slaaasshhh..."


"Ctaaarrrr..."


Ketua pengawal itu menggigit bibirnya sendiri untuk menahan betapa sakit dan pedihnya luka yang ia terima. Ia mengutuk Amla dengan seluruh rasa sakit.


Ini demi Tuanku, aku melakukan ini demi Tuanku, Amla... Sebentar lagi kau akan merasakan kesakitan kami, dasar wanita ular, terkutuk!


Aku melakukannya karena kesetiaanku, sampai akhir pun aku tidak pernah berkhianat...


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


__ADS_2