Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Masa lalu Rymi.


__ADS_3

"Papa!" pekik Raisa tidak terima, tiba-tiba Papanya itu langsung saja menampar wajahnya. Kesalahan apa yang telah dirinya perbuat?


"Kau..." Argantara sungguh geram, bagaimanapun dia tidak bisa berbuat apapun jika kenyataannya sudah begini.


"Mas, kamu apa-apaan sih?" tanya Wana dengan nada dongkolnya.


"Bayi siapa itu?" tanya Argantara langsung.


Duarrrr...


Tubuh Wana mendadak mundur, bayi? Apa maksudnya bayi?


"Pa..." lirihnya.


"Maksud Papa apa sih?" tanya Raisa.


Argantara mengeluarkan secarik kertas yang masih terbungkus amplop, dan melemparkannya langsung tepat di wajah Raisa.


"Aku ingin tau, bagaimana anak ini menjelaskan semuanya?" hardik Argantara.


Pelan Wana mengambil amplop yang sudah terjatuh di lantai itu, dengan bergetar dia mencoba melihat isinya. Matanya membulat tidak percaya, surat dari rumah sakit tempat dokter Amri bekerja, dan Raisa... Anaknya itu, tertulis di sana, dinyatakan hamil dengan usia kandungan delapan minggu.


"Rai...sa!" gagap Wana.


"Bayi siapa?" tanya Argantara penuh selidik.


"Pa, itu nggak bener!" sanggah Raisa.


"Muntah-muntah di setiap pagi bahkan kau menjadi begitu sensitif akan rasa, meminta makanan asam, jadi dengan keadaanmu yang semacam ini apa aku bisa menyangkal surat yang diberikan Dokter Amri itu?"


"Pa!"


"Papa tanya sekali lagi Raisa, anak siapa? Siapa yang melakukannya padamu?" tanya Argantara mengintrogasi putrinya.


Wana, istrinya itu sudah terduduk di kursi ditenangkan beberapa pelayan, air matanya menetes tidak percaya Raisa akan melakukan hal semacam itu kepadanya.


Raisa gugup, dirinya juga tidak percaya bahwa ia akan berakhir seperti ini, bayi siapa? Dirinya pun juga tidak mengetahui siapa yang menghamilinya.


"Raisa, jawab pertanyaan Papa!" pekik Argantara.


"Hiks hiks," Wana sudah menangis sesegukkan. Ingin membela Raisa, namun dirinya juga tidak sanggup untuk menahan kemarahan suaminya.


"Raisa, jujur Nak, siapa?" tanya Wana pelan. Pikirannya tertuju pada Jovan, apa mungkin anaknya Jovan pikir Wana.


Argantara menggeleng pelan, apa-apaan ini, bahkan Raisa tidak bisa menjawab siapa ayah dari janin yang bersarang di rahimnya itu.

__ADS_1


"Kau..." tangan Argantara terangkat, ia benci akan Raisa yang tetap diam, malah seolah lebih shock dari dirinya.


"Anak Jovan Pa!" pekik Wana, mau tidak mau dia mengatakan itu, jangan sampai tamparan itu mendarat lagi di wajah putrinya.


"Jovan?" tanya Argantara.


Wana mengangguk, sementara Raisa menggeleng pelan, wanita itu tampak tidak setuju akan ucapan Mamanya.


Tidak, jangan Jovan, bukan dia Ma... Bukan Jovan, aku tidak mau hal ini bertambah panjang jika kita berurusan dengan keluarganya, tidak aku mohon...


"Apa benar Raisa?" selidik Argantara.


Raisa menatap mata Papanya, wanita itu nampak ketakutan, namun bagaimanapun dirinya tidak punya pilihan lain saat ini, tapi yang jelas jika memang ada janin di rahimnya, itu tentu bukan anaknya Jovan, Raisa yakin akan hal itu.


"Jawab!" berang Argantara.


"Raisa, jawab... Anaknya Jovan kan? Kamu pacaran sama anak itu kan, dan sudah berapa kali anak itu mengantarmu ke rumah ini, jawab Raisa jangan diam saja!" desak Wana.


Kalau aku mengatakan itu anak Jovan, Papa pasti akan mendatangi keluarga Jovan dan lalu akan terjadi suatu masalah yang sangat berat, karena anak ini jelas bukan anak Jovan, tapi kalau aku tidak bilang begitu bagaimana aku menjelaskannya?


"Raisa!" hardik Argantara sekali lagi.


"Aku nggak tau Pa!" jawab Raisa.


"Tidak tau, bahkan kau tidak tau siapa ayah dari bayimu? Perempuan macam apa kau ini, apa sudah begitu banyak pria yang menidurimu hingga kau dengan gampangnya mengatakan tidak tau! Kau kira hal semacam ini main-main, kau pikir apa yang aku tanyakan ini lelucon, jawab, anak siapa?" desak Argantara. Memalukan sekali rasanya.


Argantara tidak bisa menahan bobot tubuhnya, tangannya memegang pundak Wana sebagai tumpuan, mengapa ini harus terjadi padanya, pada keluarganya?


"Bawa dia pergi Ma, tanyakan padanya siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab, aku tidak berani jamin akan menahan tanganku jika dia terus berada di sini." lirih Argantara mengatakan itu pada sang istri.


Wana langsung bangkit dari duduknya, dengan segera mengambil tangan Raisa dan langsung membawa putrinya itu ke kamar.


...***...


Di sebuah ruangan bernuansa putih, seorang wanita sedang menangis menumpahkan segala isi hatinya.


"Mengapa Daddy harus begitu serakah?" lirihnya.


Rymi mengambil mengambil ponselnya, menekan kontak Ayaz dan menghubunginya, namun sampai panggilan ke dua kalinya Ayaz belum juga mengangkat panggilannya.


"Apa dia juga benar-benar meninggalkanku?" tangis Rymi semakin menjadi.


Luka tembak yang di deritanya saat misi setengah tahun yang lalu masih bisa dirinya tahan untuk tidak mengeluarkan air mata, namun mengapa luka hati seperti ini dirinya begitu mudah saja menangis.


Rymi mengingat pertemuan pertamanya dengan Marco sehingga ia bisa menjadi anak angkat Bosnya itu.

__ADS_1


Flashback.


"Siapa namamu?" tanya seorang pria paruh baya yang baru saja menangkap dirinya dan segerombolan anak jalanan lainnya.


"Bunuh saja aku!" tantang Rymi kecil.


"Kenapa? Kenapa aku harus membunuhmu?" tanya pria itu lagi heran.


"Karena tidak ada lagi alasanku untuk hidup!" jawab Rymi yakin.


"Kau tidak takut mati sepertinya?"


"Untuk anak jalanan seperti kami, mati hanya tinggal menunggu waktunya saja." jawab Rymi ketus.


"Baiklah, bagaimana jika... Kau kuberikan pilihan!" tantang pria itu.


"Maka aku tetap memilih mati!"


"Kau tau, aku bahkan sudah menangkap buruanku bahkan tidak terhitung jumlahnya, tapi baru kaulah yang mengatakan tidak takut akan kematian!" bisik pria itu.


"Bawa dia, berikan makanan untuknya, ganti pakaiannya, dan siapkan tempat untuknya beristirahat."


"Aku tidak akan sudi menjadi budakmu!" teriak Rymi menggema saat tangannya diseret paksa oleh orang-orang pria itu.


Satu bulan berlalu, barulah Rymi bertemu lagi dengan pria itu. Rymi mengetahui namanya karena pria itu memperkenalkan dirinya.


"Marco Arash!" ucap pria itu mengulurkan tangan. Rymi enggan menyambutnya, dia masih benci keadaan ini, terlebih semua kawan-kawannya entah bagaimana nasibnya saat ini.


"Katakan kau mau mengatakan apa? Meminta sesuatu dariku mungkin?" tanya Marco.


"Mengapa kau tidak membunuhku?" tanya Rymi, tatapan sinis dirinya layangkan untuk Marco.


"Untuk anak seusia dirimu, kuakui kau sangat berani, berkata tanpa memandang siapa lawan bicaramu, aku yakin kau bukanlah orang sembarangan." ucap Marco.


"Cih, tidak ada yang bisa kau harapkan dariku, aku tidak punya orang tua, jadi percuma jika kau mau meminta harta berlimpah dengan cara memeras orang lain."


"Kau sendirian?" tanya Marco.


"Aku lebih berharap kau langsung saja membunuhku!" dengus Rymi kesal.


"Mengapa nyawa seakan tidak berharga bagimu? Bagaimana jika... Aku memilih untuk membeli nyawamu?"


"Aku tidak akan mau menjadi budakmu Pak Tua! Tidak sudi, kau dengar, kau pasti tidak tuli kan!"


"Tidak sebagai budak, aku rasa kau memang tidak pantas berada di tingkat rendahan semacam itu, orang yang tidak takut akan kematian biasanya tidak akan pernah berkhianat." ucap Marco, tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Rymi.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2