Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ayah!


__ADS_3

"Kau sudah lama?" tanya Dokter Amri.


Hari ini adalah jadwal kencannya dengan Nil, gadis muda nan imut itu memutuskan jadwal bertemu hari ini di sebuah danau.


Nil tersenyum merekah, apa benar dirinya dan sosok dokter yang ia kagumi ini sedang berkencan? Sungguh rasanya ia tidak percaya.


"Apa Pak Dokter masih punya urusan?" ucap Nil yang lebih memilih bertanya balik bukannya malah menjawab pertanyaan dokter Amri.


"Aku? Tidak, ini harimu!" jawab Dokter Amri.


"Benarkah?" tanya Nil lagi antusias.


"Mengapa memilih tempat seperti ini?" tanya Dokter Amri.


Nil sedikit tersenyum, "Kenapa? Tidak bagus?" tanya Nil.


"Aahhh!" Dokter Amri menggaruk tengkuknya tidak gatal. "Bagus, di sini seperti tempat wisata keluarga, lihatlah banyak sekali pasangan membawa serta keluarga mereka untuk piknik!" jawab dokter Amri, sembari matanya mengabsen sekeliling, memang terlihat begitu banyak rombongan keluarga yang menggelar tikar untuk piknik di tepian danau.


"Apa Dokter tidak suka?"


"Hemmm, suka! Tapi sejujurnya aku lebih menyukaimu!" ucap dokter Amri, tergelak sedikit lalu matanya menatap Nil dengan bahagia.


Nil terperangah, matanya juga terlibat tatap dengan dokter Amri, apa saat ini ia sedang digombali?

__ADS_1


"Aku bercanda!" lanjut Dokter Amri kemudian.


"Eh!" Nil canggung.


Mengapa secepat itu mengatakannya, dasar! Apa segitu tidak bisanya membuat orang bahagia.


Dokter Amri mengusap puncak kepala Nil, "Imutnya!" kata Dokter Amri.


Nil jadi cemberut, ia sedikit kesal namun mau bagaimana lagi, bisa berkencan seperti ini dengan orang yang ia kagumi saja, ia sudah sangat bersyukur.


"Makan?" tanya dokter Amri.


"Eem!" sahut Nil mengangguk.


...***...


Sam masih terus saja termenung, rupanya begitu banyak hal yang dirinya lewatkan selama meninggalkan tanah air, ia pikir tidak akan terjadi apa-apa dengan orang tuanya, dia pikir kepergiannya akan membawa perubahan yang lebih baik, namun nyatanya ia tertipu akan tenangnya suasana.


Tanpa ia sadari, kesempatan itu begitu membuat keserakahan Sian semakin menjarah. Ia tidak pernah menyangka kalau Sian juga akan melibatkan kedua orang tuanya.


Pertemuannya dengan Rymi kemarin, benar-benar berhasil meluluhlantakkan hatinya, sebuah kenyataan yang seakan tidak akan sanggup ia terima.


Ayah kandungnya sendiri, kini begitu membencinya!

__ADS_1


Flashback.


"Kau Samudra?" tanya Romi, matanya menyala saat melihat seseorang yang mengatakan kalau namanya adalah Samudra.


"Iya!" jawab Sam. Ia ingin membelai lembut wajah itu, sungguh ia sangat rindu.


"Kau tau aku siapa?" tanya Romi lagi.


"Ayah!" panggil Sam.


"Ayahmu?" Romi terkekeh geli, "Kau bahkan tidak pantas memanggilku Ayah, kau kira kau begitu suci!" ejek Romi.


"Ayah, mengapa berkata seperti itu?" tanya Sam.


"Ayah? Sudah kubilang jangan memanggilku Ayah, kau anak tidak tau diri, saat kami berada di balik jeruji besi, lalu di mana kau berada? Sedang bersenang-senang menikmati harta? Kau membuang kami, tidak mengakui keberadaan kami? Separah itulah orang miskin seperti kami? Hingga bagimu asal usulmu tidak perlu lagi kau ingat, hanya akan mengganggu kesejahteraanmu?"


"Ayah, aku memang bersalah telah meninggalkan kalian, tapi... Tapi aku tidak pernah melupakan kalian, apa lagi sampai membuang kalian?" sahut Sam.


"Tidak pernah? Hahahaha!" Romi tertawa keras, "Apa kau sudah gila, dengan teganya menyiksa kami lalu kau mengatakan kau tidak pernah membuang kami, berkata seolah kau tidak bersalah? Menjijikan!"


"Ayah!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2