
Yaren merasakan tidak nyaman dengan pakaian yang membalut tubuhnya kali ini, meski ia juga tidak biasa memakai pakaian yang terbuka, namun memakai pakaian yang sangat tertutup seperti ini juga tidak pernah dirinya lakukan.
Yah, Ayaz. Suami yang sudah benar-benar posesif itu dengan gilanya menyuruh Yaren memakai pakaian serba tertutup, dengan kerudung dan juga cadar yang menyertai. Sehingga sekarang ini hanya mata Yaren saja yang terlihat.
"Apa ini istrimu? Dia taat sekali!" puji Sam, ia berpikir Ayaz benar-benar beruntung bisa memiliki istri yang taat agama seperti Yaren, menutup aurat seperti apa yang diperintahkan oleh agama Islam bagi umatnya. Namun, kiranya di mana Ayaz mendapatkan wanita seperti Yaren ini.
Padahal, Yaren saja tidak nyaman, ini adalah pengalaman terburuk baginya selama berbusana, taat agama, beribadah yang wajib bagi umat Islam saja sering kali ditinggalkannya? Heh, yang benar entah kapan dirinya akan siap mengenakan ini.
"Namanya Yaren!" ucap Ayaz memperkenalkan istrinya, "Dan sayang... Ini Sam, sahabatku!" lanjut Ayaz dengan menatap gemas mata istrinya, menekankan kata 'Sayang', supaya Sam tau bahwa ia sangat mencintai istrinya.
Ayaz tau Yaren tidak nyaman, tapi entah mau bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya ide supaya Sam tidak melihat wajah dan lekuk tubuh istrinya itu namun dengan masih tetap bisa memperkenalkan Sam dengan Yaren.
Sam mengulurkan tangannya, Yaren juga... Namun tatapan mata elang dari Ayaz mampu menyadarkannya, Yaren beralih menarik tangannya dan lalu mengatupkan keduanya. "Yaren..." ucapnya memperkenalkan diri.
Sam didera canggung saat Yaren tidak menyambut uluran tangannya, namun ia mencoba mengerti dan segera memperbaiki sikap. "Samudra, panggil saja Sam!" ucapnya.
"Aku sangat penasaran, kiranya di mana kalian bertemu pertama kalinya?" Tanya Sam, ia benar-benar tidak habis pikir, jika menurut cerita Rymi waktu itu, Ayaz hidup selama terpisah darinya tidaklah memiliki hidup yang baik, bukan dari segi finansial, namun dari ruang hidupnya.
Rymi mengatakan kalau Ayaz adalah seorang pembunuh bayaran, pengedar barang haram, dan mafia persenjataan ilegal, jadi aneh saja jika harus mendapatkan istri seperti Yaren yang jika ditilik dari penampilan termasuk muslimah sejati menurutnya.
"Mengapa?" tanya Ayaz, "Tidak ada yang spesial, jadi mengapa harus penasaran?"
"Apa kau sedang berpikir karena aku tidak pantas bersanding dengannya?" selidik Ayaz.
"Hahahaha, kau ini... Aku hanya bertanya, kau sudah serius sekali."
"Sayang, sebaiknya kau masuk kamar lagi saja." ucap Ayaz pada Yaren, ia tidak memedulikan Sam, entahlah mengenalkan Sam pada Yaren kelihatannya benar-benar sebuah penyesalan bagi Ayaz, ia bahkan tidak mau Yaren berlama-lama duduk satu ruangan dengan pria lain, selain Jovan dan Marco.
"Aku tau kau tidak nyaman memakai ini, kembalilah ke kamar, tidak ada juga yang bisa kau bicarakan dengannya, yah!" bisik Ayaz pada Yaren.
Yaren menghela napasnya pelan, "Baiklah!"
Kalau seperti ini, untuk apa mengajakku berkenalan dengan sahabatnya, ada-ada saja...
__ADS_1
Yaren berpamitan dengan Sam, ia menundukkan pandangannya dan memberikan salam dengan menangkupkan kedua tangan, saat hendak bicara pun Ayaz mencegahnya lagi dan lagi, membuat Yaren memilih diam mengunci mulutnya.
"Dia katanya sedikit lelah, jadi aku menyuruhnya untuk kembali beristirahat di kamar!" jelas Ayaz beralasan.
"Oohhh..." Sam hanya menanggapi dengan ber-ooh ria dan anggukan pelan.
Saat Yaren sudah pergi barulah Ayaz bisa tenang, sungguh mempunyai istri cantik dan baik hati seperti Yaren benar-benar membuatnya tidak bisa berpaling, perkenalan singkat dan merasa dirinya pernah menyakiti Yaren dengan begitu kejam membuat Ayaz merasa dirinya benar-benar tidak bisa kehilangan Yaren saat sudah menjadi pasangan suami istri.
Atau sebenarnya saat ini Ayaz sudah benar-benar menjadi budak cintanya Yaren.
"Sam..." seru Ayaz.
"Ya?" Sam menoleh, siap menyimak apa yang kali ini akan Ayaz katakan.
"Aku berkata sebenarnya, apa kau benar-benar tidak pernah tidur dengan Rym?" tanya Ayaz lagi, yang merasa tidak puas akan jawaban Sam tadi, kalau pria yang menghamili Rymi bukan Sam, lalu siapa? Rym tidak pernah bercerita sedang dekat dengan siapapun dalam waktu dekat ini.
"Aku..." gugup Sam.
"Dia hamil!" ucap Ayaz cepat, dan perkataannya itu benar-benar bisa membuat Sam mematung.
Hening,
Hening,
Hening,
"Kau bilang apa? Rymi hamil?" tanya Sam memastikan, yang kini sudah sedikit sadar dari keterkejutannya.
Ayaz mengangguk, "Untuk itulah aku bertanya, beberapa bulan ini Rym tidak pernah dekat dengan siapapun, meski dia juga tidak dekat denganmu tapi beberapa kali aku pernah melihat kalian bertemu dan berjalan bersama, maaf jika aku menyinggungmu, aku tidak bermaksud begitu, aku bukannya menuduhmu, hanya saja aku merasa perlu menanyakannya padamu!"
Hamil? Rymi hamil, itu berarti pergulatan mereka malam itu membuahkan hasil, benarkah? Jika benar begitu, berarti dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah, pikir Sam. Sam mencoba tenang dan mencerna semuanya dengan baik.
"Apa kalian sudah memastikan?" tanya Sam.
__ADS_1
Ayaz mengangguk lagi, "Mike mengatakan usia kandungannya sudah tiga belas minggu."
Benar, bukankah waktu itu Rym sedang ditugaskan oleh Marco untuk mendekati Sam, tapi apa benar mereka pernah melakukannya? Sengaja atau tidak? Tapi seingatku Rym tidak pernah bercerita padaku tentang bagian ini.
Apa ada hal yang aku lupa?
Tiga belas minggu, itu berarti... Benar-benar anakku...
Sam, dengan tanpa sadar kepalanya mengangguk, lalu terbitlah seulas senyum dari bibirnya, ia sungguh senang akan kabar yang didengarnya ini, itu berarti ada alasan untuknya tetap mencintai Rymi.
"Kami memang pernah melakukannya!" aku Sam.
Ayaz terdiam, jadi... Memang benar keduanya pernah melakukan, sial... Rymi tidak menceritakan apapun padanya, wanita itu bahkan mengaku ogah-ogahan jika dipasangkan dengan Sam, bahkan saat Marco menyuruh Rymi untuk mendekati Sam saja, adiknya itu tampak frustasi dan terang-terangan menolak, namun apa ini? Apa tingkah penolakan yang dilayangkan Rymi kemarin-kemarin hanya akting, mengatakan tidak mau, tidak suka, jangan pernah menyuruhnya mengurusi Sam lagi, namun tau-tau sudah membuahkan hasil.
Ini gila, benar-benar gila.
"Dasar sialan, wanita gila!" umpat Ayaz, ia benar-benar gemas dengan Rymi, kalau adiknya itu tidak sedang pingsan dan belum sadarkan diri, mungkin Ayaz sudah menguyel-uyel pipi Rymi saking gemasnya, sok bertingkah menolak semuanya, tapi tau-taunya... Ah sudahlah.
"Apa? Kau bilang apa tadi?" tanya Sam yang mendengar samar umpatan Ayaz.
"Eh... Ah tidak, jadi apa mungkin anak yang dikandung Rym adalah anakmu?" tanya Ayaz.
Sam menatap wajah Ayaz yang sama sekali tidak melayangkan rasa cemburu, lalu tatapan Ayaz yang penuh cinta saat menatap Rymi tadi... Sebenarnya apa yang terjadi, apa hubungan Ayaz dan Rymi sebenar-benarnya, sulit dipercaya jika hanya hubungan kakak adik biasa, keduanya tidak sedarah.
Dan juga, keanehan apa lagi ini, Ayaz tidak marah saat Sam mengatakan kalau pernah melakukannya dengan Rymi, bahkan sahabatnya itu terlihat biasa saja. Bukankah jika seorang saudara akan marah saat mengetahui adiknya dihamili orang.
"Ayaz..." seru Sam. Ia benar-benar tidak bisa menahan keingintahuannya.
"Ya?"
"Apa kau tidak cemburu?"
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...