Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Shuuttt!


__ADS_3

Ayaz menghempaskan tubuh Yaren di ranjang, dengan tatapan penuh naf*u dirinya meneliti setiap inci tubuh istrinya.


"Puaskan aku!" titah Ayaz. Pemuda itu duduk tenang dekat sekali dengan Yaren, tatapan matanya syarat akan ancaman.


"Aku, aku nggak bisa!" aku Yaren, bukan tanpa sebab dirinya berkata demikian, karena jujur saja ini adalah yang pertama kali baginya.


"Jadi?" tanya Ayaz.


"Em, bagaimana aku harus memuaskanmu? Misalnya?" tanya Yaren lagi.


Ayaz menghela napasnya kasar, menjentikkan jarinya untuk Yaren mendekat. "Oke untuk malam ini aku maafkan! Aku akan memberikanmu sedikit pembelajaran!" ucap Ayaz.


Yaren mengangguk, meski canggung namun mau bagaimana lagi, dirinya dan Ayaz sudah sah menjadi sepasang suami istri di mata agama, jadi cepat atau lambat Yaren akan menjadi milik Ayaz seutuhnya, meski ketakutan, meski raganya menolak tapi setidaknya hal itu lebih baik dari pada dirinya terikat hubungan yang haram dengan Ayaz.


Ayaz mengambil sebuah laptop yang dirinya simpan di laci nakas, tersenyum smirk lalu menatap Yaren penuh arti.


Ayaz mulai menghidupkan laptopnya, "Kau tonton sebuah edukasi ini, kau pelajari baik-baik, kalau kau tidak bisa melakukannya setelah ini jangan harap aku akan mengampunimu!" titah Ayaz dengan ditambahkan ancaman.


"Iya Ayaz."


Mata Yaren benar-benar terarah pada layar laptop itu, pikirnya Ayaz hanya mengajaknya menonton sebuah film, mungkin seperti film dewasa, Yaren masih menyimak.


Namun di menit ke 10:55, mata Yaren membulat, karena adegan inti dari film itu akan segera tayang.


Sebuah film tanpa sensor harus Yaren tonton dan pelajari, diliriknya Ayaz yang sedang memainkan ponselnya, pria itu tampak tenang meski sudah mulai terdengar suara des*han dari perempuan di vidio itu.


"Jangan melihat ke arahku, pelajari baik-baik, aku tidak akan memberimu ampun jika kau tidak melakukannya dengan baik nanti!" ucap Ayaz dingin.


Yaren kembali berfokus meski dirinya tidak ingin.


Yaren meneguk salivanya kelat kala melihat apa yang wanita dalam vidio itu lakukan, dengan sangat profesional memainkan sebuah benda menantang dari lawan mainnya. Yaren bergidik ngeri, membayangkan apa dirinya dan Ayaz harus melakukan adegan seperti itu juga.


Sekali lagi, Yaren melihat ke arah suaminya, masih berkutat dengan ponsel, sama sekali tidak mempedulikannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengampunimu Yaren jika kau tidak bisa merangkum semua yang kau lihat dalam otakmu!" sindir Ayaz.


Yaren kembali menatap laptop, pergulatan kedua pemain di vidio itu tampak semakin panas, jujur saja, seketika wajah Yaren menjadi panas, seluruh tubuhnya mendadak gerah, dan ada yang bergejolak di area bawahnya.


Yaren mencoba untuk menonton lebih lanjut vidio itu sesuai dengan yang diperintahkan Ayaz. Hingga di detik ke 55:10 film itu selesai.


Yaren tertunduk, menunggu pergerakan dari Ayaz dan lebih berharap Ayaz tidak jadi melakukannya.


"Sudah nonton keseluruhannya?" tanya Ayaz, pria itu menyimpan ponselnya di atas nakas dan mulai menatap intens Yaren.


"Sudah Ayaz." jawab Yaren.


"Sudah bisa melakukannya?" tanya Ayaz lagi.


"Uhukk!" Yaren tersedak ludahnya sendiri, hawa panas yang semakin membuatnya gerah kini bertambah, kalau saja tidak ada Ayaz mungkin Yaren sudah membuka pakaiannya, keringat dingin juga sudah mulai membasahi tubuhnya.


"Jawab!" pekik Ayaz.


"Sudah Ayaz." meski tidak yakin, namun ketakutannya terhadap Ayaz malah membuat lidahnya sudah duluan berucap demikian.


"Hah?" Yaren mendongak cepat, apa benar akan dimulai sekarang, bagaimana ini pikirnya.


"Ayaz..."


"Aku tidak butuh pendapatmu!" potong Ayaz. Dirinya tidak mau mendengar apa yang akan Yaren katakan, karena sekenanya Ayaz tentu sudah tau bahwa Yaren akan melakukan penawaran atau meminta dirinya untuk jangan melakukannya sekarang. Heh, Yaren pikir Ayaz semurah hati itu.


"Kau pikir apa tujuanku menikahimu? Jadi jangan beralasan lagi Yaren, dunia tidak akan tunduk padamu begitupun aku!" gerutu Ayaz mulai kesal.


"Iya Ayaz." ucap Yaren pasrah.


"Lakukan!" titah Ayaz.


"Apa aku harus melakukan seperti di vidio tadi?" tanya Yaren.

__ADS_1


"Menurutmu?"


"Ayaz, aku tidak mengerti bagaimana aku memulainya!" jujur Yaren.


"Aku tidak peduli, kau adalah jal*ngku, jadi bertingkahlah seperti jal*ng yang akan begitu lihai memuaskanku!" ucap Ayaz tanpa perasaan.


Mata Yaren memanas, bohong jika dirinya tidak sakit hati mendengar pernyataan Ayaz yang menganggapnya hanya seperti itu, tidak lebih dari seorang jal*ng, sungguh begitu hina.


"Kemarilah, jangan seperti itu, kita sudah sampai di tahap yang sejauh ini. Menikah, kau adalah istriku, seorang istri bukankah harus memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya. Bukankah kau yang ingin menikah denganku, kau bilang kau bisa melakukannya jika kita sudah menikah, kita sudah halal bukan, tidak haram lagi seperti yang sangat kau takutkan saat aku mencoba menyentuhmu." ucap Ayaz, dirinya sudah menang saat ini, benar-benar menang akan hidup seorang Yaren Motan.


Air mata yang memang sudah menganak itu kini luruh jua, mengalir deras seiring dengan Yaren yang mulai meratapi nasibnya. Sungguh bukan maunya, bukan kemauannya terperangkap dalam belenggu seorang Ayaz. Pria yang ternyata sangat tidak berperasaan, bajingan, benarlah Ayaz sendiri yang mengatakan dirinya seorang bajingan dan Yaren sudah membuktikannya.


"Jangan menangis, aku tidak suka melihat air matamu!" ucap Ayaz dengan nada membentak.


Mengapa harus menangis, mengapa harus menghancurkan kebahagiaanku, apa segitu tidak maunya kau melakukannya denganku Yaren?


Mengapa kau begitu terlihat menyedihkan, apa hanya aku yang bahagia dengan pernikahan kita, sementara kau menganggap ini sebuah kesakitan?


Kenapa kau tidak bisa melakukannya dengan suka rela, aku bukanlah orang yang peduli, tapi melihatmu begini mengapa dadaku menjadi begitu sesak. Hentikan tangismu.


Ayaz bangkit, dengan sigap dirinya memeluk tubuh Yaren. Dirinya tidak bisa melihat Yaren yang dilihatnya begitu tertekan. Sebenarnya Ayaz sadar apa yang telah dirinya lakukan, namun karena sifatnya yang memang susah untuk peduli akan sesama jadilah dirinya lagi-lagi bersikap kasar pada Yaren.


Selama ini, jika wanita, mungkin hanya Rymi yang bisa mengambil hatinya, untuk bisa membuatnya sedikit peduli akan sesama, karena Ayaz sudah menganggap Rymi sebagai seorang adik, sudah seperti keluarga baginya.


"Aku tidak suka melihat tangismu!" lirih Ayaz.


"Aku tidak bisa melakukannya Ayaz." aku Yaren lagi.


"Kau harus melakukannya, kita sudah suami istri." ucap Ayaz.


"Maafkan aku, aku tidak siap, maksudku aku tidak tau bagaimana cara memulainya, Ayaz, kalau kau mau mengasihaniku, bisakah kita melakukannya secara bersama-sama, jika aku yang memulainya, jika aku yang memulainya, hiks hiks, kau lihatlah bahkan tanganku gemetaran begini Ayaz, aku benar-benar tidak bisa melakukannya, bukan, bukan, maksudku aku mau melakukannya tapi aku tidak bisa memulainya Ayaz... Hiks hiks, bisalah, bisakah..."


"Shuttt!" Ayaz memeluk erat Yaren. "Sudah, jangan katakan apapun lagi!"

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2