Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Buang waktu saja!


__ADS_3

"Kau tidak keberatan?"


"Menukar nyawamu untuk suamimu? Apa kau yakin dia akan datang?"


"Apa dia benar-benar akan peduli denganmu?"


"Biar kuberi tau sedikit tentang suamimu itu, yaahh, sedikit saja, kau mau dengar?"


"Dia... Bahkan lebih gila dari kami ini, bahkan tangannya itu kotor sekali."


"Kau tau, kau... Pasti hanya akan dijadikan olehnya pemuas naf*u saja."


"Apa ada yang salah dari perkataanku?"


"Kau berharap aku berbohong mengenai siapa Ayaz Diren?"


"Hahahaha, betapa kasihan dirimu!"


"Ayaz Diren adalah pembunuh!"


"Lebih tepatnya pembunuh bayaran! Aisshhh, entah sudah berapa banyak nyawa yang mati di tangannya?"


"Pengedar narkoba! Persenjataan ilegal, perampok, penipu dan juga... Penjahat wanita!"


"Apa kau pikir, kau adalah satu-satunya wanita yang bertakhta di hatinya? Konyol sekali! Jangan banyak berharap tentang itu, hanya ada kesakitan jika kau masih ingin mencobanya."


"Kau tau kasus Ali Yarkan? Bolehkah jika kukatakan, suamimu adalah pembunuhnya, dia meretas sistem dan mengambil nama orang lain untuk identitasnya, hebat bukan, apa kau pikir dia akan menyelamatkanmu?"


"Astagah! Aku sudah mengatakannya? Jadi, apa aku menyakiti hatimu? Maafkan aku, aku tidak sengaja!"

__ADS_1


"Kau tidak akan percaya kan? Kau benar-benar mencintainya kan? Hahahaha!"


"Tidak ada kepedulian dalam diri suamimu, aku bisa pastikan itu! Ckckck, gadis yang malang!"


Air mata Yaren mengalir deras kala mendengar sebuah kenyataan itu, apa benar suaminya adalah yang dikatakan oleh orang yang menculiknya ini?


Ingin Yaren menyangkalnya, mengatakan tidak untuk semua pernyataan itu, tapi... Ia berpikir lagi bagaimana jika memang benar, bukankah selama ini Ayaz selalu mengatakan bahwa dia bukanlah orang baik, suaminya itu juga enggan memberitahukan bagaimana kisah hidupnya, apa memang seburuk itu jadi Ayaz merasa belum siap untuk memberitahunya.


Ke mana Ayaz pergi, pagi-pagi sekali tanpa pernah pamit padanya, kadang pulang tengah malam, jika ditanya mengapa pulang selarut itu, Ayaz selalu mengatakan kalau dirinya harus bekerja. Kerja apa? Mungkinkah benar, membunuh orang, merampok, melakukan hal-hal bejat yang tidak pernah terbayangkan oleh Yaren.


Bukan Brengsek sayang, lebih tepatnya 'Bajingan'!


Kakaknya Jovan, juga tidak bisa memberitahukan segala perihal tentang Ayaz, apa lagi menyangkut tentang pekerjaan, jadi... Apa benar, Ayaz melakukan semua yang disebutkan itu.


Tidak, aku harus percaya padanya, aku akan percaya padanya sampai akhir! Aku akan menunggu penjelasan darinya, kejujurannya, dia sudah berjanji padaku, dia sudah berjanji akan menceritakan semuanya saat waktunya tiba, aku hanya akan percaya apa yang keluar dari mulutnya. Bukan dari mulut si Brengsek ini, tidak, aku percaya pada Ayaz, harus, aku harus percaya padanya.


"Kau memikirkan apa?"


Yaren semakin terisak, sungguh dia tidak ingin percaya, tapi mengapa rasanya begitu sesak saat ia mencoba untuk tetap yakin dengan suaminya itu.


"Brakkk!"


Pintu itu didobrak dari luar, hingga terlepas dari engselnya, kedua anak buah Sian yang menjaga Yaren pun tercengang, melihat pintu itu hancur karena didobrak oleh seorang wanita.


"Apa kalian akan terus menatapku? Apa tidak ada niatan untuk menyerang duluan, apa itu artinya harus aku yang memulai? Aisshh, aku kecewa, ini tidak seperti di film-film!" Rymi berdecak kesal, cukup heran melihat tingkah kedua anak buah Sian yang seperti baru saja melihat hantu saat melihatnya.


"Rym!" Marco muncul dari balik pintu, bersikap sangat keberatan, anaknya ini selalu saja tidak pernah bersikap serius. Bukannya malah bagus jika dua orang itu terbengong, bisa-bisanya Rymi malah mengingatkan untuk menyerang, apa dirinya salah didikan? Marco rasa tidak, mengapa Ayaz begitu terlihat garang sementara anaknya ini malah lebih terlihat gila?


Kedua anak buah Sian itu langsung saja tersadar dan segera menyerang Rymi, Rymi tidak tinggal diam, dia sudah mempersiapkannya, sudah lama sekali kan dirinya tidak membantai orang.

__ADS_1


"Bugh bugh!"


Rymi membereskan kedua anak buah Sian itu tidak kalah brutalnya, ia cukup mahir menggunakan belati, maka salah satu anak buah Sian harus rela terkena sabetan senjata kesayangannya itu di perut.


Salah satunya lagi, sudah babak belur di tangan Rymi, sementara Marco, pria setengah baya itu melepaskan tali yang mengikat tubuh Yaren, ia membawa Yaren keluar dari ruangan pengap itu, lalu Rymi dengan sigap juga mengikuti keluar, tidak ada yang mengejar mereka, karena kedua orang itu bisa dipastikan sudah hampir sekarat.


...***...


"Dengar! Tuan kalian, berada di tanganku saat ini, jadi lebih baik kalian katakan saja di mana kalian menyembunyikan istriku?" ucap Ayaz lantang pada semua penjaga dan pengawal yang sudah babak belur dihabisinya.


Para orang-orang Sian yang berada di situ saling pandang, apa yang baru saja pria itu katakan pikir mereka, apa telah terjadi sesuatu dengan Tuan mereka?


Ayaz berjalan mendekat pada salah satu pengawal yang dikenalnya, ingin mengancam pengawal itu supaya bisa memberikan informasi mengenai Yaren, namun langkah Ayaz terhenti kala sebilah pedang harus menembus perutnya dari belakang, Ayaz menahan kesakitan itu, ia mencoba berbalik untuk melihat siapa pelakunya, matanya membulat kala melihat wajah yang ia rasa pernah dikenalinya.


Bersamaan dengan itu, Rymi awalnya dengan senang hati membawa Yaren untuk mendekat ke arahnya, teriakan Yaren menggema kala matanya melihat pedang itu sudah menusuk tembus di perut suaminya. "Ayaaaaazzzz..."


Ayaz terduduk, matanya masih bisa melihat Marco yang sudah bertindak menghabisi orang yang mencoba membunuhnya, memukuli dengan brutal pria itu. Kemudian, pandangan matanya benar-benar gelap, tidak terlihat apapun lagi selain cahaya hitam yang menenggelamkannya.


Rymi tak kalah panik, wanita itu melepaskan genggaman Yaren, dengan cepat ia berlari menuju Ayaz, mencoba mencabut pedang yang tertancap di perut sahabatnya itu dengan caranya, lalu meminta Yaren untuk membantunya membawa Ayaz ke mobil. Yaren, dengan tubuh gemetarnya harus ikut membawa tubuh suaminya, darah segar di perut Ayaz sudah berlumuran membasahi kemeja putih tulang yang dikenakannya, Yaren menangis melihat itu. Mulutnya terus saja memanggil-manggil nama suaminya.


"Ayaz..."


Ayaz, Ayaz, Ayaz, nama itu terus saja ia panggil. Berharap Ayaz akan mendengar seruannya lalu akan terbangun, Yaren sangat berharap untuk itu.


Amla tersenyum smirk melihat itu dari kejauhan, meski dirinya tidak bisa memiliki Ayaz, namun bisa dipastikan pria itu pasti tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama, tidak sia-sia ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengatasi Ayaz.


Dan untuk Sian, setelah kejadian ini pun ia tidak peduli akan suaminya itu, ia yakin sekali Ayaz pasti sudah membalas dendam dengan Sian, entah apa yang sudah tejadi dengan suaminya itu, namun meski pria itu mati pun setelah ini, bagi Amla dia tidak akan begitu rugi. Jadi, untuk apa memikirkan hal yang menurutnya tidak penting? Buang waktu saja!


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2