
"Dia sudah sadar?" tanya Rymi, Marco mengangguk, Rymi kesal, Marco menakutinya mengatakan telah terjadi sesuatu dengan Ayaz, padahal jika Ayaz sudah sadar begini tidak perlu membuatnya panik, cukup katakan saja, Rymi pasti akan begitu senang mendengar kabar itu.
Tidak taukah dirinya Rymi sudah menahan air matanya untuk tidak jatuh di sepanjang jalan.
Sementara Yaren, wanita itu sedang berada di dalam, menjenguk Ayaz dengan tangis harunya, Rymi dan Marco membiarkan itu, biarlah pasangan itu melepas rindu.
"Tapi, dia seperti orang linglung, aku sudah menyuruh Mike untuk memeriksanya, dan Mike bilang tidak terjadi sesuatu dengan Ayaz, dia cukup sehat, hanya saja tubuhnya memang seperti itu, lemas karena kekurangan darah? Bagaimana, kau dapat infonya?" ucap Marco.
"Linglung? Bagaimana bisa?"
"Aku juga menanyakan apa dia mengenalku? Dia masih mengangguk, hanya saja Ayaz menjadi pendiam, bahkan anak itu tidak menyapaku, dia belum mengetahui kalau aku ayah kandungnya kan?"
"Seharusnya sih belum, tapi aku tidak tahu juga kalau saja dia sudah tau, dari Sian misalnya!" sahut Rymi.
"Rym..." Marco tersentak, bagaimana dirinya bisa melupakan Sian, bisa saja kan pria itu mengetahui siapa ayah kandung Ayaz, dan membeberkan sebuah rahasia saat Ayaz menyiksanya, tapi kalau benar seperti itu, bukankah malam itu ia juga bertemu dengan Ayaz, dan Ayaz masih bersikap normal padanya. "Tapi, aku rasa tidak, malam itu dia masih normal!"
"Benar juga!" ucap Rymi.
"Tapi, apa Daddy takut jika Ayaz sampai mengetahuinya, apa Daddyku ini sedang takut dibunuh anak sendiri?" goda Rymi.
"Rym!" bentak Marco.
"Apa? Aku hanya bertanya, apa Daddy tersinggung, apa jantung Daddy berdebar membayangkannya? Oohhh, dramatis sekali!"
"Rym, memangnya ada yang aku takutkan di dunia ini?" tanya Marco, ia cukup kesal saat Rymi menggodanya.
"Hemmm, tidak juga..." Rymi menjeda ucapannya, "Tapi... Itu mungkin sebelum Daddy mengetahui kalau Ayaz..."
"Rym, kau benar-benar mau mati ya!" ancam Marco.
"Oooo, tensimu naik sepertinya, aku merasa bersalah sekali!"
"Rasanya aku sudah berusaha mendidikmu menjadi tangguh, namun mengapa kau malah menjadi gila?" gumam Marco.
__ADS_1
Sementara dua orang yang berada di ruang rawat,
"Maafkan aku..." Yaren memegang tangan itu, dikecupnya berapa kali, dirinya sungguh meminta pengampunan pada sang suami yang masih berbaring lemah di pembaringan.
"Sudahlah Yaren, aku tidak apa!" sahut Ayaz.
"Tidak apa bagaimana, aku bahkan melihat pria itu menusukkan pedangnya, hiks hiks, kau bisa bertahan sekuat ini, aku sangat bersyukur untuk ini, aku... Aku takut Ayaz, aku takut kehilanganmu!" ucap Yaren sembari terisak.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, tenanglah!" Ayaz membelai lembut puncak kepala istrinya, "Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terluka?"
Yaren menggeleng, matanya menangkap perut Ayaz yang tertutup piyama, "Apa sakit, ini pasti sakit sekali?" tanya Yaren lagi.
Ayaz tersenyum saat melihat gurat khawatir di wajah Yaren, dirinya merasa diperhatikan. Kemudian Ayaz mengangguk, "Ya, rasanya memang sakit sekali." jawabnya.
"Ayaz... Hiks hiks, aku minta maaf!" Yaren sangat menyesal, Ayaznya bahkan harus mengalami itu.
"Sudahlah sampai kapan kau akan meminta maaf, aku suamimu, sudah seharusnya aku menyelamatkanmu kan, bagiku luka ini bukan apa-apa, bukankah lebih baik jika aku bisa merasakan sakitnya, itu artinya aku tidak sedang sekarat kan!" sahut Ayaz santai.
"Jika aku tidak merasakan sakitnya, mungkin aku tidak lagi bisa menatapmu seperti ini!" lanjutnya lagi.
"Apa Tuan Marco dan Rymi ada di luar?" tanya Ayaz lagi.
Yaren menghapus air matanya dan mengangguk.
"Bisakah kau panggilkan mereka, ada yang ingin aku bicarakan, kau bisa istirahat di tempat yang sudah disediakan, ah ya... Apa Rymi memperlakukanmu dengan baik, maafkan dia jika berbicara tidak sopan, atau ketus padamu, dia memang seperti itu, terlalu apa adanya, tapi dia baik, kau bisa mempercayainya." ucap Ayaz.
Yaren tersentak, apa yang harus dirinya lakukan, suaminya begitu percaya dengan Rymi, entah dirinya harus cemburu atau lega saat mendengar itu, cemburu karena mengapa dilihatnya Ayaz tampak begitu dekat dengan wanita itu, dengan yakin memuji Rymi di hadapannya.
"Baiklah!" ucap Yaren. Dirinya bangkit untuk memanggil keduanya, namun langkahnya terhenti kala Ayaz memanggilnya, "Yaren..."
Yaren menoleh, "Ya!"
"Rymi... Dia adikku, meski kami tidak sedarah, tapi... dia adikku, dan akan tetap menjadi adikku! Aku mengatakan ini karena, aku butuh kepercayaan darimu."
__ADS_1
Yaren mengangguk, hanya itu yang bisa dirinya lakukan, ingin mengatakan hal lainnya pun ia tidak punya kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya. Jadi, ia terpaksa harus memberikan tanggapan seadanya.
"Kau, tidak berniat memberikan ciuman untukku?" tanya Ayaz lagi, sejurus membuat pipi Yaren bersemu merah.
Ayaz, pria itu tanpa merasa bersalah setelah mengatakan itu, bahkan terlukis senyum dengan memamerkan deret giginya.
"Cup!" Yaren dengan cepat mengecup singkat pipi Ayaz, sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Whhaaa, apa ini, dia masih saja malu!" gumam Ayaz sembari melihat punggung Yaren yang menjauh cepat. Tangannya memegang pipi yang baru saja dikecup oleh Yaren, sepetinya Ayaz juga merindukan itu.
"Ada apa?" tanya Marco, melihat Ayaz yang senyum-senyum sendiri membuatnya bertanya.
"Sudahlah, ini urusan orang yang sudah menikah, bujang tua seperti Tuan mana bisa mengerti!" seloroh Ayaz. Namun ekspresi yang dilayangkan Marco saat Ayaz mengatakan itu sungguh membingungkan. Pria setengah baya itu mengusap pelan dadanya, sembari menghembuskan napas.
"Ada apa?" tanya Ayaz lagi.
"Tidak apa, aku hanya merasa lebih baik." jawab Marco.
"Ada yang ingin ku katakan padamu? Mana Rym?" ucap Ayaz, dirinya juga menanyakan keberadaan Rymi karena melihat wanita itu tidak masuk bersama dengan Marco.
"Dia sedang mengurus sesuatu. Kenapa, apa ada masalah?" tanya Marco.
"Hemmm, kau tau, sepertinya aku mengenali orang yang menusukku malam itu, wajahnya seperti aku pernah melihatnya." ungkap Ayaz.
"Benarkah?" Marco menghela napasnya berat, masalah ini bagai saling bersangkutan, penuh misteri yang seakan meminta untuk dikuak, "Dia, Ayahnya Samudra!" ucap Marco membeberkan fakta.
Ayaz tercengang, Ayahnya Sam, bagaimana bisa?
"Tapi..." Seketika ingatan Ayaz tentang pria itu muncul, pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang berada di foto itu, foto yang pernah juga dirinya tunjukkan pada Sam. "Kau bercanda? Bahkan Sam tidak mengenali pria itu saat aku menunjukkan fotonya!" sangkal Ayaz.
"Tapi... Kenyataannya begitu!" ucap Marco, dirinya begitu yakin akan ucapannya. "Orang itu sendiri yang mengatakannya, namanya Romi, Ayahnya Samudra, coba saja kau tanyakan apa benar nama Ayah pria itu adalah Romi?"
"Benarkah? Jadi, apa Samudra...?"
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...