
Ayaz masih memainkan ponsel kala Yaren sudah tertidur lelap di pelukannya.
Pria itu membawa Yaren dalam pelukannya hingga Yaren terlihat begitu damai tidur berbantalkan lengannya.
"Kenapa dia cantik sekali kalau berantakan begini?" gumam Ayaz.
Pria itu melanjutkan mengecek ponselnya, sebuah pesan dari Marco membuatnya mulai menatap serius layar ponselnya.
📩 Besok, pagi-pagi sekali, datanglah ke rumah, aku punya tugas penting untukmu.
Ayaz mulai menebak, memikirkan sebenarnya tugas apa yang begitu penting hingga Marco menyuruhnya untuk datang pagi-pagi sekali.
Ayaz mematikan layar ponselnya, menyimpan benda itu di atas nakas, mulai membalikkan tubuhnya menghadap Yaren. Sejenak Ayaz mengagumi wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
Ayaz menggeleng pelan, bagaimana mungkin dirinya benar-benar jatuh cinta dengan Yaren. Yang sekali lagi dirinya tegaskan bahwa Yaren bukanlah sama sekali tipenya.
Saat melakukannya dengan Yaren tadi, seolah ada perasaan yang mulai mengetatkan hatinya, membuat dadanya bergemuruh hebat setiap kali membayangkan adegan panas mereka, bahkan dengan menatap wajah Yaren saja, Ayaz sudah seperti remaja yang mengalami puber, benar-benar menggemaskan.
Hingga Ayaz tanpa sadar terlelap dengan tangan masih memeluk tubuh Yaren.
...***...
Ayaz sedikit mempercepat langkahnya, Marco mengatakan bahwa ia harus menemui pria paruh baya itu pagi-pagi sekali, sedang hari sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, bagi Ayaz itu sungguh kurang pagi karena dirinya cukup paham hampir semua tentang Marco.
Ting Tong, ditekannya pada bel rumah Marco.
Ceklek,
"Masuklah!"
Benar saja, Marco memang sudah menunggu kehadirannya. Ayaz sedikit gugup, semoga saja mood Marco sedang baik pagi ini.
"Kau pergilah ke kediaman keluarga Donulai!" titah Marco.
"Hah? Apa maksudnya?" tanya Ayaz langsung.
"Kemarin Rymi ke sini, dia bercerita banyak mengenai informasi keluarga Donulai." Marco diam sejenak menjeda ucapannya.
"Lalu?" tanya Ayaz meminta kelanjutan.
__ADS_1
"Hari ini, Tuan Donulai berencana untuk pergi ke makam adik iparnya, kau cari informasi sebanyak mungkin mengenai keluarga Donulai, siapa nama adik iparnya, dan..."
"Dan apa?"
"Dia akan pergi ke makam keponakannya juga, kau cari tau juga tentang itu!" titah Marco.
"Oke!"
"Kau carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai Keluarga Donulai, ini sebuah kesempatan."
Ayaz mengangguk pasti, dirinya juga penasaran tentang keluarga yang begitu menjaga privasi itu.
"Ini alamat rumahnya, berhati-hatilah!" ucap Marco sembari tangannya memberikan secarik kertas berisikan alamat rumah mewah keluarga Donulai, alamat itu dirinya dapatkan tentulah dari Rymi kemarin.
Ayaz mengambil kertas itu, dibacanya dengan teliti, lalu dia mengangguk pelan.
Pria itu bergegas keluar dari rumah Marco menuju alamat yang tertera. Memasuki komplek perumahan mewah, meneliti setiap nomor rumah dan akhirnya Ayaz menemukan rumah yang dimaksud.
"Apa ini rumahnya, aku kira rumah mewahnya berdiri di satu tanah yang luas, namun ternyata di komplek seperti ini, meski terlihat mewah tapi bagiku tidak sesuai ekspestasi mengingat keluarga Donulai yang begitu mengedepankan privasi." gumam Ayaz.
Ayaz melirik rolexnya, jam tujuh pagi lewat seperempat, dilihatnya tidak ada tanda-tanda pergerakan pemilik rumah akan keluar, atau mungkin pemilik rumah memang sudah meninggalkan rumah sedari tadi. Ayaz hendak memastikan itu, dirinya mendekat dan mulai membobol pintu pagar yang terkunci, bagi Ayaz dirinya harus memastikan sesuatu.
"Mobilnya masih ada!" ucap Ayaz, melihat mobil mewah terparkir saja di halaman.
Ini keluarga Donulai, sekali lagi, Keluarga Donulai yang katanya sangat mengedepankan privasi, mengapa malah seolah menyepelekan keamanan rumah mereka.
Dari kejauhan, Ayaz melihat cctv yang yang mungkin saja akan mengawasi setiap pergerakannya, dengan gerakan cepat dirinya menuntaskan itu semua, cctv itu kini sudah berbalut sebuah kain yang akan menghalangi aktivitas perekaman.
"Apa aku harus menunggu di sini atau masuk ke dalam untuk memastikan?" gumamnya.
Ayaz menunggu sejenak, hingga sekitar lima belas menit berlalu muncullah seorang pria paruh baya lengkap dengan pengawal-pengawalnya. Ada juga seorang pria berkepala plontos menemani sosok pria tua itu, Ayaz tidak bisa melihat dengan jelas namun dirinya sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti jejak mereka.
Semua orang terlihat masuk ke dalam mobil, pria paruh baya dan pria berkepala plontos itu duduk dalam satu mobil bersama sopir pribadi mungkin, sementara keempat pengawal memasuki mobil satunya dan mengiringi dari belakang.
Ayaz segera keluar dari halaman rumah itu, dirinya dengan cepat memasuki mobilnya yang terparkir tidak begitu jauh, memasang kaca mata hitam, masker dan topi untuk melengkapi privasinya. Ayaz masih menunggu target incarannya keluar dari rumah.
...***...
"Sudah siap Yah?" tanya Sam pada Tuan Donulai.
__ADS_1
"Sudah! Haahhh." Tuan Donulai menghela napasnya berat. "Pada akhirnya, aku akan melakukan ini." lirihnya.
"Bibi akan segera sembuh Yah!" ucap Sam.
"Semoga saja!"
"Ayo jalan!"
"Kan, ayo!" perintah Sam pada sopirnya.
"Baik Pak!"
Mobil itu mulai melaju, menuju makam Frans Aryaan, almarhum suami dari adiknya Tuan Donulai, Daslah Donulai, dan rencananya juga sekalian akan mengunjungi makam anak mereka yaitu Nindi Rowans.
Sam mengatakan makam Tuan Frans masih satu tempat dengan makam Nona Nindi Rowans. Sehingga bagi Tuan Donulai tidak ada salahnya mengunjungi.
"Sam, setelah ini selesai, kau boleh saja mengunjungi orang tua kandungmu, tapi pastikan si keparat Sian itu sudah hancur!" ujar Tuan Donulai, rahangnya mengeras setiap kali menyebutkan nama itu.
Nindi Rowans, anak satu-satunya keluarga Donulai, harus menderita karena diperlakukan tidak baik oleh Sian Atlas dan bahkan dinyatakan sudah meninggal dunia, pria yang ternyata setelah Ahmad Donulai ketahui adalah suami dari keponakannya sendiri.
Tiga tahun lalu, Tuan Donulai mengetahui itu dari adiknya yang bertahun-tahun tidak pernah pulang ke Itali, Daslah mengatakan bahwa suaminya telah lama meninggal dunia, dan dirinya terlibat hutang yang cukup banyak setelah bertahun-tahun bertahan mengelola perusahaan, semenjak ditinggalkan oleh sang suami hidupnya bahkan terus saja semakin mengalami kesulitan karena sejatinya wanita itu tidak begitu pandai dalam mengelola perusahaan.
Sementara Nindi anaknya itu yang tidak bisa lepas dari cengkraman keluarga Sian Atlas akhirnya harus meninggal dunia tidak lama setelah kematian suaminya, dengan berderai air mata Daslah meminta maaf karena sudah meninggalkan rumah Donulai, keluarganya.
Daslah, terlihat begitu menyesali perbuatan masa lalunya yang hanya demi seorang pria dirinya rela untuk pergi jauh meninggalkan keluarganya di Itali, dan diam-diam menikah tanpa restu dari Ahmad Donulai kakaknya, yang sekarang terkenal dengan nama Donulai. Pria itu memakai nama ayahnya untuk memperluas kerajaan bisnis mereka.
Dan atas permintaan Daslah yang meminta untuk menyelamatkan cucu mereka, Tuan Donulai mengutus orang-orangnya untuk mencari dan sesegera mungkin menemukan cucu mereka.
Tuan Donulai tidak mengetahui siapa nama cucunya, karena setelah Nindi diketahui hamil hingga melahirkan, bahkan sampai sekarang pun Daslah tidak pernah diizinkan untuk menemui anak dan cucunya itu.
"Aku akan menemui mereka saat semuanya sudah beres Ayah, aku juga tidak akan tinggal diam, Ayaz harus segera ditemukan dan Sian harus membayar segala penyiksaan yang dilakukannya terhadap Ayaz. Ahhhh, entah di mana Ayaz berada sekarang?" ucap Sam, hatinya ikut sakit jika mengingat sepenggal kisah tentang sahabatnya itu.
...***...
Yaren menggeliat terbangun dari tidurnya, dilihatnya Ayaz tidak berada di sampingnya, entah ke mana perginya sang suami itu.
"Aw," rintih Yaren, saat dirinya hendak berjalan menuju kamar mandi, ia merasakan begitu sakit di area intinya. Tiba-tiba membuat wanita itu kembali mengingat kegiatan panasnya dan Ayaz semalam.
Yaren duduk kembali di ranjang, dilihatnya jam dinding di dekat televisi, mata Yaren membulat bagaimana mungkin dirinya bisa bangun sesiang ini.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...