
"Siapa?"
Rymi terkejut kala Marco sudah berdiri tepat dibelakangnya.
"Bukan siapa-siapa!" jawab Rymi, kemudian wanita itu berlalu menuju ruangan penyekapan ayah dan Ibunya Sam. Tidak seperti di sekap, Marco memberikan pasangan suami istri itu sebuah kamar yang nyaman, namun tetap saja terkunci dari luar.
Marco mengikutinya, Rymi memikirkan sesuatu tentang bagaimana Daddynya itu bisa berbaikan dengan Ayaz, meski tidak langsung menjadi seperti sedia kala namun setidaknya antara Ayaz dan Marco bisa saling menerima.
Daddynya pastilah lebih mudah, namun untuk Ayaz? Entah setelah ia memberikan sepatah dua patah kata pada pria itu, apakah kiranya hati pria itu akan tergerak?
"Daddy!" seru Rymi saat akan membuka pintu kamar orang tuanya Sam.
Marco menatap Rymi penuh selidik.
"Pergilah menemuinya!" ucap Rymi kemudian.
Marco membulat, ia tidak siap jika membahas tentang Ayaz lagi.
"Dad, kesempatan tidak datang dua kali!" ucap Rymi lagi.
Sam baru saja sampai dari membeli beberapa camilan, ia sedikit mendengar perkataan Rymi pada Marco, ia curiga ada apa lagi? Apakah yang mereka bicarakan tentang kejahatan lagi? Sam membatin.
Marco diam, ia juga ingin sekali menemui Ayaz, namun hatinya bagai selalu saja tidak siap. Saat mendengar nama Ayaz jantungnya berpacu lebih cepat, ada rasa bersalah yang tidak bisa terukur nilainya.
"Tidak akan lama!" lirih Rymi lagi, "Apapun keputusannya, apapun yang terjadi, setidaknya kau sudah berusaha Dad!" lanjutnya.
Marco mendekat ke arah Rymi, matanya sendu, lalu tangannya mengambil tangan Rymi dan menempelkan lembut ke wajahnya. "Berjanjilah padaku, kau... Apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkanku! Kau tetaplah anakku, ada atau tidak adanya Ayaz sebagai anak kandungku, kau tetaplah anakku!" lirih Marco.
Rymi mengangguk, ia juga sangat mengharapkan itu, Marco yang tidak akan pernah berubah menghadiahkan kasih dan sayang padanya meskipun Ayaz adalah anak kandung pria paruh baya itu, meskipun kenyataannya di sini Ayaz lah yang seorang anak kandung dan dirinya hanyalah anak angkat.
Namun lain lagi ekspresi yang dilayangkan oleh seseorang yang berada tidak jauh dari mereka, satu plastik besar penuh dengan camilan itu terlepas dari genggamannya, apa yang baru saja dirinya dengar sungguh benar-benar membuat dirinya terkejut.
"Tuan Marco dan Ayaz..." gumamnya hampir tidak terdengar.
...***...
__ADS_1
Yaren menangis terisak, kenyataannya kisah percintaannya ini malah menyakiti Jovan kakaknya, ia juga sangat menyayangkan itu, namun mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi.
"Aku hanya membutuhkan dia Kak!" ucap Yaren.
"Maaf... Jika rasa ini salah, jika rasa ini menyakitimu, tapi sekali lagi maaf, aku minta maaf, karena aku harus mengatakan aku mencintainya!"
"Maaf jika mencintai seseorang adalah kesalahan, tidak peduli orang semacam apa dia, jadi aku minta maaf karena telah mencintai bajingan itu."
Jovan menjambak rambutnya kasar, ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa, meredam emosinya sebisa mungkin.
"Katakan aku harus apa Yaren?" tanya Jovan lembut.
"Kakak..."
"Pada awalnya, aku menganggap hubungan kalian akan baik-baik saja, seiring berjalannya waktu Ayaz akan berubah, dia hanya perlu melakukan sesuatu dan aku menyetujuinya karena aku berharap Ayaz benar-benar akan menjagamu... Lalu, jika seperti ini, bahkan dia enggan mengakui kalau dirinya bersalah, aku tidak bisa lagi mempercayainya." ucap Jovan.
"Ayaz pasti punya alasan melakukan itu, salah satunya adalah aku, dia tidak akan meninggalkanku Kak."
"Kau percaya?" tanya Jovan, ia menatap kasihan pada Yaren.
"Kalian egois, benar-benar egois!"
"Kak, bukan seperti itu, tapi..."
"Seseorang tidak bersalah harus mendekam dipenjara demi cinta kalian, sungguh kau tidak merasa kau juga adalah orang yang sama seperti Ayaz."
"Kak..." Yaren tercekat, jika disinggung soal itu, Yaren benar mengakui kalau dirinya juga begitu egois di sini, bisa bernapas lega di atas penderitaan orang lain, mengabaikan kesalahan Ayaz hanya demi sesuatu yang dirinya sebut dengan cinta, Yaren juga tidak menyangka kalau dirinya akan setega itu.
"Dan aku... Dengan gilanya membantu bajingan itu! Hahahahaha!" tawa Jovan menggelegar, ada rasa sesak di suara tawanya, ia menyesal. Sungguh menyesal.
"Jadi... Bagaimana bisa kau masih mencintai orang seperti dia?"
"Kak..."
"Sudahlah Yaren, semuanya sudah terjadi, nanti... Mungkin tidak akan lama, aku juga akan pelan-pelan melupakan, dan bajingan itu bisa kembali dengan tenang di sisimu."
__ADS_1
Yaren, mendengar Jovan mengatakan itu, dirinya spontan saja langsung memeluk Jovan, "Semua akan baik-baik saja." lirihnya berbisik.
"Beri aku waktu." ucap Jovan.
...***...
Keluarga Harun Aji Suryono sudah datang tepat pada waktunya, Argantara dan Wana langsung saja menyambut calon menantu dan besan mereka itu dengan senang hati, apa lagi Wana ia merasa pengorbanannya tidak sia-sia.
Sebentar lagi, dirinya akan menjadi keluarga dengan keluarga besar Suryono.
Setelah acara penyambutan yang berlangsung santai itu, kini tibalah mereka di ruang makan kediaman Argantara. Berbagai hidangan mewah sudah tersaji, nampaknya Wana benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.
Argantara melirik istrinya dan memberikan senyuman sebagai arti dirinya begitu bangga.
Harun duduk berdekatan dengan orang tuanya, sebenarnya ia juga tidak terlalu peduli tentang pernikahan ini, baginya seorang istri hanya akan menyusahkannya saja.
Di dunia ini, tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika dengan uang, begitulah prinsipnya.
"Ini Tuan Harun?" tanya Argantara berbasa-basi, ia memang mengenal pengusaha kaya raya itu, namun hanya sekedar nama saja, Argantara memang belum pernah melihat bagaimana aslinya. "Tidak disangka, aslinya ternyata jauh lebih tampan!" lanjut Argantara, memuji dan menjilat mungkin adalah keahliannya.
Sudut bibir Harun terangkat, ia sudah biasa mendapatkan pujian seperti itu, ia hampir muak.
"Jangan memanggilnya begitu, panggil saja Harun, sebentar lagi kalian akan memiliki hubungan Ayah mertua dan menantu, jadi bisa bicara santai saja untuk mengurangi canggung." ucap Ayahnya Harun, orang tua itu memang sudah sangat menginginkan pernikahan anaknya, jadi saat Harun mengatakan akan melamar seorang wanita, ia dan sang istri serta seluruh keluarga besar begitu bahagia dan sangat antusias.
Harun diam saja, ini hanyalah pernikahan bisnis, yah anggap saja begitu.
"Ah iya, Nak Harun... Silakan di cicipi hidangannya, jangan sungkan." ucap Argantara lagi.
Lalu setelahnya, semua orang terlihat mulai menikmati hidangan makan malam sembari berbincang santai, mengenai bisnis dan juga seputar kedua calon pengantin.
Tak lupa Argantara yang seolah tiada henti mengangung-agungkan calon mantunya, beberapa hari ini, dirinya juga sudah mempersiapkan diri, menghapal informasi terkait Harun Aji Suryono, jangan sampai dirinya dianggap tidak mengetahui apapun tentang calon menantunya itu.
"Nak Harun..."
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...