
"Apa maksudmu Rym?" Marco melonggarkan pelukannya, ia menatap selidik Rymi. "Apa maksudnya bayi itu tidak seharusnya menempati rahimmu?"
"Daddy, aku... Aku tidak bisa menjadi seorang Ibu, aku tidak akan bisa!" ucap Rymi.
"Jadi, kau mau apa?" Marco membelai lembut pipi anak perempuannya itu.
"Aku tidak tau, tapi yang jelas aku tidak bisa menjadi seorang Ibu, aku tidak bisa, aku tidak siap."
Tangan Marco langsung saja menangkup kedua pipi Rymi, ia mulai mengerti apa yang sedang Rymi rasakan, putrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Jangan lakukan apapun, hargailah dia yang sudah hadir!" ucap Marco, lalu memeluk Rymi menenangkan anaknya itu, tangannya mengusap punggung yang tak lama sudah bergetar di pelukannya, Rymi terisak.
"Aku tidak bisa Dad..."
"Aku tidak bisa, aku bukan Ibu yang baik, dia... Tidak seharusnya dia hadir, aku... Hiks hiks, aku bukan Ibu yang baik, aku tidak pernah bermimpi kalau aku akan diberikan keturunan, aku tidak akan bisa mendidiknya dengan benar, aku tidak mau dia lahir dari ibu yang seorang pembunuh, ibu yang seorang penipu, aku tidak mau... Dia pantas mendapatkan Ibu yang lebih baik... Hiks hiks..."
"Aku tidak pantas menjadi Ibunya, mengapa dia harus hadir..."
Sakit, yang saat ini Marco rasakan sangat sakit, mengapa Rymi harus merasakan penyesalan itu, mengapa tidak dirinya saja, mengapa Rymoi tidak bisa berbahagia saja, mengapa Rymi tidak bisa mengharapkan sesuatu yang sudah hadir itu, mengapa harus membawa-bawa hidup mereka yang memang begitu kelam dan kotor ini, mengapa? Perkataan itu seakan membuat Marco merasa semakin jatuh semakin dalam dan lebih dalam lagi, bagaimanapun penjahat yang sebenarnya adalah dia, dia yang telah merubah anak perempuan kecil itu menjadi buas, menjadi tidak mengenal kata ampun, menjadi penjahat, dia yang mendidiknya untuk kepuasannya sendiri, dia yang membuat gadis kecil yang diadopsinya itu mengotori hidupnya sendiri, kalau bukan karena dia yang serakah ini, tidak akan Rymi merasakan hal semacam ini, tidak akan Rymi merasakan penyesalan yang begitu menyesakkan dadanya ini.
__ADS_1
"Tidak... Jangan pernah berpikiran seperti itu, jangan... Dia anakmu, dia calon buah hatimu, jangan lakukan apapun, terimalah dia Rym, kau akan menemukan kebahagiaan dengan memilikinya, jangan... Jangan katakan itu lagi, penyesalan ini tidak seharusnya kau tanggung, kau adalah putriku yang paling baik, yang paling cantik, akulah yang jahat sebagai Daddymu, akulah yang bersalah." ucap Marco, dua orang ayah dan anak itu saling berpelukan erat, mata Marco sudah memanas meski ia tidak bisa menjatuhkan air matanya namun percayalah hatinya benar-benar sakit.
"Kau tidak pernah melakukan kesalahan, aku lah yang melakukannya, akulah yang bersalah di sini."
"Daddy..."
"Aku tidak bisa Daddy, dia tidak bisa punya ibu sepertiku, dia berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik."
"Rym, dengar... Kita akan merawatnya bersama, aku berjanji, tidak akan membuat cucuku melakukan hal yang sama sepertimu, kita akan menjaganya dengan baik, aku, kau, Ayaz dan juga kakak iparmu itu, akan aku kerahkan untuk selalu bersikap baik padanya, dia tidak akan terjerumus sepertimu."
"Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, tidak..." Marco melepaskan pelukannya, ia mengambil jari kelingking Rymi kemudian mengaitkan dengan jari kelingkingnya. "Kau bisa berjanji, Daddy akan melakukan yang terbaik..."
Rymi melihat ke arah kelingkingnya, lalu ia melihat wajah Marco yang penuh harap, namun tiba-tiba kepalanya berdenyut, matanya terpejam seolah sedang mengingat sesuatu.
"Kau bisa berjanji... Anak Daddy, lakukan yang terbaik, lakukan yang terbaik sebisamu..."
"Kau bisa membunuhnya? Bunuh dia, gadis kecil... Berjanjilah kau akan membunuhnya..."
"Kau bisa melakukannya, kau sudah berjanji pada Daddy, kau akan memenangkan misi ini..."
__ADS_1
"Kurung dia, dan jangan beri dia makan sebelum dia menyelesaikan hukumannya, dasar menyusahkan!"
"Aku akan berjanji, aku adalah anak Daddy yang paling baik, aku yang terhebat, aku akan membawakan nyawanya untuk Daddy, aku berjanji."
"Jangan lakukan Daddy, jangan lagi menyambukku, aku berjanji akan melakukannya dengan lebih baik lagi, aku berjanji..."
"Pergi dan jangan kembali sebelum aku mendengar kabar Tuan Hamid terbunuh..."
"Hah hah hah..."
"Braakkk..." Rymi mendorong tubuh Marco keras, napasnya naik turun, tubuhnya gemetar dengan hebatnya, ia melihat Marco tak ubah seperti melihat hantu, "Daddy, aku adalah anak Daddy, aku akan melakukan yang terbaik, ampuni aku... Ampuni aku..."
"Ampuni aku... Tolong, hentikan, jangan lakukan, aku berjanji, aku berjanji akan membawakan nyawanya untukmu..."
"Rym, Rymi..." Marco begitu bingung apa yang telah terjadi pada putrinya, mengapa tiba-tiba Rymi bisa meracau seperti itu.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1