Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bagaimana jika bukan?


__ADS_3

"Ayah!"


"Sudahlah Samudra, tidak perlu memedulikan kami, semuanya sudah terlambat!" ucap lirih Romi.


Ingin sekali rasanya ia menghajar wajah putranya itu, namun apa daya ia juga menyadari jika saja apa yang dikatakan pria bernama Marco kemarin adalah benar, maka semuanya benar-benar sudah terlambat.


Saat ini, Romi berada dalam situasi dilema, antara siapa yang harus ia percayai.


Percaya pada Sian, namun kenyataannya mengapa istrinya Sian membohonginya, mengatakan kalau yang datang waktu itu adalah Samudra, sehingga ia harus menyerang orang yang salah.


Percaya pada Marco, namun rasanya tiga tahun hidup dalam belas kasih Sian, sungguh membuatnya sulit untuk mempercayai orang baru. Apa lagi, dilihatnya Marco juga bukan seperti orang baik.


Dan kali ini Samudra, haruskah ia percaya pada orang yang bertahun-tahun dirinya benci, orang yang pernah ia targetkan untuk dibunuh, orang yang sering kali ia mimpikan untuk dicekik, apa ia harus berbalik berpihak pada Samudra, namun mengapa rasanya hanya keputusan itu yang dirasainya paling tepat.


Mengapa rasanya sang hati malah mengisyaratkan supaya ia mempercayai Samudra anaknya. Bukankah selama ini Samudra telah menelantarkannya.


"Aku tidak pernah sengaja meninggalkan, aku juga tidak pernah membuang kalian, kalian adalah kedua orang tuaku, meski bagaimanapun keadaanku sekarang, kalian tetaplah kedua orangtuaku." ucap Sam tangannya terangkat ingin menyentuh tangan Romi.


"Seharusnya kau mengatakan ini tiga tahun lalu, sekarang meski kau berkata begitu, mengapa seolah tidak ada artinya lagi." sahut Romi.


"Ayah, kau bisa mempercayaiku! Aku juga sebenarnya tidak tau apa-apa mengenai ayah dan Ibu!"


"Tidak mengetahui apa-apa? Kau bahkan tidak memedulikan kami, jadi jelas saja jika kau tidak mengetahui apapun."


"Hei, kau sudah membuang waktu untuk bernostalgia, ingat tujuanku membawamu ke sini untuk apa!" pekik Rymi menyela, ia dari tadi menyaksikan drama antara ayah dan anak itu, menyedihkan sekali rasanya, namun bukannya ia mau merusak moment haru ini, tapi dia hanya ingin mendapatkan jawaban.

__ADS_1


"Kau tau, Samudra ini adalah anakmu, tidak peduli ia baik atau tidak padamu tapi dia benar-benar anakmu, jadi sebagai orang tua, apa iya kau harus membunuh darah dagingmu sendiri, kau mengatakan dia menelantarkanmu, meski begitu apa kau yakin kau bisa membunuh anak kandungmu ini?" lanjut Rymi.


"Dan kau, mengapa tidak kau jelaskan saja apa yang terjadi, buang-buang waktu saja." Rymi menatap garang pada Sam.


"Ayah, kau telah dipengaruhi oleh Sian, apa selama ini yang kau dapatkan dari Sian, apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Sam langsung. Benar kata Rymi, beradanya ia di sini tujuan utamanya adalah mengapa Ayahnya harus menyakiti Ayaz.


"Sian, entah apa yang harus kukatakan mengenai pria itu, yang jelas dia memperlakukanku cukup baik selama ini." jelas Romi.


"Cukup baik?" Sam merasa ada yang ganjal dari kata-kata itu. Tidak mungkin Sudah an memperlakukan Ayah dan Ibunya dengan cukup baik jika tidak mempunyai tujuan tertentu, namun apa sebenarnya tujuan Sian.


"Semenjak kau pergi menjadi orang kaya, kau tidak pernah sama sekali menengok keberadaan kami, tidak cukup sampai di situ mengapa kau harus mengurung kami, memenjarakan kami, Sian mengatakan kau malu memiliki orang tua seperti kami, tapi jika hanya itu mengapa kau harus memperlakukan kami sehina itu, tiga tahun aku bahkan tidak pernah melihat bagaimana dunia luar, kau mengurung kami di penjara bawah tanah, oh ya Tuhan entah bagaimana nasib istriku saat ini, terakhir kami berpisah dia mengatakan akan melepaskan istriku, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan istriku."


"Ibu? Ada apa dengan Ibu? Apa Sian melakukan sesuatu pada Ibu?" tanya Sam.


"Ayah dengar? Aku tidak pernah melakukan itu, kau telah diperdayai oleh Sian, Ayah apa kau ingat kau bahkan mendukung persahabatanku dengan Ayaz, kau yang dengan diam-diam memberikan Ayaz makanan yang layak meski hanya makanan untuk pembantu, kau juga adalah saksi betapa kejamnya Sian memperlakukan Ayaz, lalu mana mungkin Sian memperlakukanmu dengan baik?"


"Apa?" Sam cukup kaget, suatu pernyataan yang seolah langsung bisa dirinya mengerti.


"Kenapa? Kenapa kau kaget? Apa ini ekspresi keterkejutanmu? Hei ini hanya akting atau kau benar-benar terkejut? Bagaimana bisa kau melakukan itu padaku?" tanya Romi.


"Ayah, aku berani bersumpah, aku tidak pernah melakukan itu!" ucap Sam.


"Kau bersumpah, dan Sian juga bersumpah, sebenarnya aku harus percaya pada siapa?" Romi sungguh kacau, semakin ke sini ia semakin merasa ada yang aneh dalam hidupnya.


Rymi masih memperhatikan, apa yang sebenarnya terjadi, jika Sian selama tiga tahun ini hanya mempengaruhi orang ini dari perkataan yang terus dikatakan berulang-ulang, pengaruhnya tidak akan sebesar ini, paling tidak Romi pasti akan berpegang teguh bahwa ia menyayangi Samudra, namun apa ini? Ia tidak melihat tatapan yang penuh kasih sekalipun saat Romi menatap Samudra yang sebenarnya adalah anak kandungnya, sementara ia dan Marco saja yang hanya hubungan anak dan ayah angkat bisa saling menatap penuh kasih dan sayang bahkan meski saat bertengkar sekalipun.

__ADS_1


Percobaan pembunuhan yang sayangnya tidak tepat sasaran, lalu apa yang akan terjadi jika malam itu yang di bunuhnya benar-benar Samudra, apa orang tua ini akan benar-benar puas, atau... Ada sesuatu di balik semua ini? Tapi apa?


Rymi merasa, Romi melakukan semua itu bukan dasar benar-benar kehendaknya.


Apa yang Sian katakan untuk memengaruhi orang ini, dan yang dilihatnya rencana Sian benar-benar berhasil jika melihat Romi yang seperti itu.


"Siapa namanya?" tanya Rymi tiba-tiba. Matanya menatap Romi, namun yang ditatap masih sedikit bingung, "Iya kau! Siapa nama pria di hadapanmu itu?" tanya ulang Rymi.


"Samudra! Dia Samudra!" jawab Romi.


"Nama lengkapnya?"


"Samudra Rangga!" jawab Romi.


"Apa kau yakin itu namanya?" tanya Rymi wanita itu mendekati Romi dan Sam, ia meneliti setiap inci tubuh Romi, menyelidik apa kiranya ada yang patut dicurigai.


Sementara Sam, ia sedikit bingung mengapa Rymi menanyakan itu, sudah jelas Ayahnya pasti mengetahui siapa namanya, untuk apa mengatakan itu?


"Apa kau benar-benar percaya kalau dia Samudra?" tanya Rymi lagi, yang semakin membuat bingung Sam, Sam ingin menyela namun langsung saja mulutnya ditutup oleh Rymi dengan tangannya. "Kau terlalu lamban, aku sebenarnya malas ikut campur, tapi ini mengenai saudaraku, aku hanya melakukan demi Ayaz bukan dirimu!"


"Kau..."


"Jadi Tuan Romi, apa kau benar-benar percaya dia adalah Samudra Rangga, bagaimana jika bukan?" tanya Rymi lagi, nadanya sengaja ia buat meragu.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2