
“Istrimu masih menjadi tawanan Sian!” ucap Rymi pada Romi yang seperti begitu menunggu kabar darinya.
“Bukankah dia berjanji akan melepaskan istriku?”
“Apa menurutmu orang seperti dia bisa dipercaya?” Rymi tersenyum smirk.
“Di mana Ibuku?” tanya Sam langsung, apa Rymi sudah mengetahui di mana keberadaan ibunya itu?
“Dia di sebuah ruangan bawah tanah, tempat di mana Ayahmu di sekap waktu itu, jika ingin menyelamatkannya silakan saja!” jawab Rymi. Ia tidak peduli jika Sam berniat menyelamatkan Ibunya.
Sam nampak berpikir, ia harus segera menyusun rencana untuk membebaskan Ibunya. Namun, ia saja tidak mengetahui di mana tepatnya penjara bawah tanah itu.
“Merve, apa kau tau di mana ruangan penjara bawah tanah itu?” tanya Sam.
Romi yang mendengar Sam bertanya demikian semakin bingung, mungkinkah benar kalau anaknya itu memang tidak terlibat dalam penyekapannya selama bertahun-tahun lamanya ini, buktinya saja Sam tidak mengetahui di mana ruangan itu, apa pria yang dianggapnya sebagai Samudra ini sedang berlakon?
Pengaruh Sian masih ada, keyakinan bahwa Samudra adalah orang jahat masih membekas di ingatannya.
“Entahlah!” sahut Rymi acuh.
“Merve! Kau jangan main-main denganku!” berang Sam.
“Memangnya kau pikir bermain-main denganmu ada gunanya? Konyol!” Rymi masih tidak peduli.
Sam memberengut kesal, Rymi memang begitu acuh, sulit sekali menjalin hubungan baik dengan wanita itu.
Sam merasa dirinya tidak bisa seperti ini, kali ini ia tidak bisa mengalah dan bersikap hormat lagi pada Rymi, memberi wanita itu sedikit pelajaran mungkin akan menyadarkan Rymi bahwa saat ini ia sedang berhadapan dengan siapa!
Sam dengan sigap menarik paksa tangan Rymi, membawa wanita itu keluar, tidak peduli kalau Rymi menolaknya.
“Lepas!” berang Rymi.
“Kau sepertinya menganggapku hanya lelucon selama ini, benar-benar harus diberi pelajaran!” ucap Sam.
__ADS_1
Rymi meronta-ronta tidak terima, tangannya berusaha melepaskan cengkraman tangan Sam ditangannya, namun harus Rymi akui mungkin saat ini Sam benar-benar marah padanya, cengkraman itu begitu kuat dan sulit sekali terlepas.
“Masuk!” titah Sam.
...*** ...
“Ada yang ingin Mama bicarakan Pa!” ucap Wana. Saat ini Argantara, Wana dan juga Raisa baru saja selesai sarapan. Argantara akan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Sementara Raisa, putrinya itu memutuskan untuk mengambil cuti kuliah karena kondisi perutnya yang semakin hari tampak semakin membuncit.
“Dengan Raisa juga!” ucap Wana, seolah mencegah gerak Raisa yang baru saja ingin bangkit dari kursi makan, Wana tau putrinya itu selalu saja memilih menghindar jika akan diajak berdiskusi.
“Ada apa Ma?” tanya Argantara yang sudah siap menyimak dengan serius apa yang akan dikatakan istrinya kali ini.
“Beberapa hari yang lalu, saat rasanya hati ini sudah habis kesabaran, saat aku sudah putus asa mengenai apa yang terjadi pada Raisa, aku bertemu seseorang, kebetulan dulu lama sekali aku pernah berhubungan baik dengannya, Papa kenal Tuan Harun Aji Suryono?”
Argantara tampak berpikir, kemudian mengangguk tanda ia mengenalnya, “Tidak dekat, tapi aku rasa dia memang orang yang baik, kenapa?” tanyanya.
Raisa menatap Mamanya, pikirannya sudah menebak, mungkinkah sesuatu ini ada hubungan dengan kehamilannya.
“Kita sharing-sharing dan ya, seperti yang mungkin Papa sudah tau, dia adalah pria yang cukup umur untuk menikah!” jelas Wana.
“Mama mengatakan tentang Raisa!” Wana menatap Argantara dan Raisa bergantian, “Dan dia setuju untuk menikah, jadi Mama mengajak Papa dan Raisa bicara pagi ini, untuk menanyakan bagaimana kiranya?”
Raisa terkejut, ia langsung saja bangkit dan melayangkan protes, “Enggak Ma, Mama apa-apaan sih, apa aku seputus asa itu? Aku akan lahirin bayi ini sendirian, dan setelahnya terserah mau diapakan!” ucap Raisa tidak setuju.
“Raisa!” berang Argantara.
Wana mengelus dadanya pelan, Raisa ini memang keras kepala, bisa-bisa masih memikirkan perasaan sedang keluarganya mati-matian mencari cara untuk menghindari malu.
“Pa!” keluh Raisa.
“Dengarkan Mamamu dulu!” ucap Argantara, “Duduk!” titahnya.
Raisa memberengut kesal, dia sedikit banyaknya juga mengetahui siapa Tuan Harun Aji Suryono itu, tidak ada salahnya jika orang menggelari pria otu bujang tua, karena pria itu memang sudah berumur meski bersamaan dengan itu pria itu memang cukup kaya.
__ADS_1
Dengan malas Raisa kembali duduk, tidak berharap kalau Papanya akan setuju akan usul Mamanya, tapi entahlah yang terbaca saat ini wajah Papanya malah tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan.
“Dia akan menerima Raisa, ya... Sepenuhnya, hanya saja tidak untuk anak yang dikandung Raisa, jadi anak itu mungkin akan tinggal di sini setelah lahir, aku tidak keberatan menganggap anak yang padahal adalah cucuku sendiri, bagaimana menurut Papa?” tanya Wana.
Argantara tampak berpikir, hal itu lumayan logis menurutnya, dia bisa menghindari malu sekaligus mendapatkan keuntungan karena jika Raisa menikah dengan Tuan Harun maka dirinya juga bisa memperluas bisnisnya, kata untuk kebangkrutan pasti akan pergi jauh dari mereka.
Untuk kali ini, Argantara benar-benar harus memuji usul yang diajukan istrinya.
“Papa setuju Ma!” ucapnya bersemangat.
“Ma, Pa, kalian...” Raisa geram, benarkah ia harus menikah dengan bujangan tua itu, apa benar kedua orang tuanya setega itu terhadapnya, benar-benar tidak memikirkan perasaannya.
“Raisa!” berang Argantara lagi, “Apa kamu punya solusi yang lebih baik untuk masalahmu ini? Sementara ayah dari bayi itu saja sampai hari ini kau tidak mengatakannya! Kau bilang tidak tau, entah sudah berapa pria yang sudah tidur denganmu?” ucap Argantara ketus.
Wana menatap nyalang Raisa, mengisyaratkan Raisa untuk menuruti saja kemauannya.
Raisa berdiri, dia kecewa akan keputusan ini, benar-benar tidak memihak kepadanya, “Kalian jahat, kalian dengan tega mengorbankan perasaan anak kalian!” ucapnya lalu berlalu pergi meninggalkan ruang makan.
Wana ingin mencegah, namun Argantara mengatakan untuk membiarkannya, “Tidak usah dicegah, meski bagaimanapun dia tidak punya pilihan selain menurutinya, berhubung kau yang berteman baik dengan Tuan Harun, rasanya kita bisa mulai dengan menghubunginya hari ini, mengajaknya makan malam sebagai pertemuan pertama keluarga.” ucap Argantara, dia sama sekali tidak peduli akan penentangan Raisa, hal itu sungguh begitu sama saat di mana Yaren yang dipaksa menikah dengan Juragan Marli waktu itu, Yaren tidak diberikan pilihan, apa lagi sampai menolak keinginannya.
Wana menggenggam erat tangan suaminya, sungguh brilian ide yang diberikan Dandi padanya kali ini, “Papa tidak perlu khawatir, Mama akan memastikan semuanya pasti berjalan dengan lancar!” ucap Wana meyakinkan.
Argantara mengangguk, ia cukup tenang dan bisa bernapas lega kali ini, akhirnya masalah yang ditimbulkan Raisa yang bisa mengancam keselamatan keluarganya akhirnya bisa terselesaikan juga.
Sementara Raisa, wanita itu tampak menangis tersedu-sedu, ia mengusap perutnya pelan, dalam hatinya ia sungguh menyayangkan mengapa hari itu ia harus bertengkar hebat dengan Jovan dan berujung dengan putusnya hubungan, hingga ia yang habis kesabaran dan bisa-bisanya menerima tawaran sahabatnya untuk mengajaknya bersenang-senang di klub malam.
Andai anak yang dikandungnya ini adalah anak Jovan, meski tidak menikah namun ia pasti bisa menerima dengan lapang, dia akan merawat bayi ini dengan sepenuh hati dan menganggap janin ini adalah hadiah dari Jovan, namun sayangnya itu hanya andai belaka, Jovan bahkan seakan hilang ditelan bumi.
Tanpa dirinya sadari, segala yang terjadi padanya itu adalah Jovan sebagai biang masalahnya.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1