Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Tidak perlu takut jika Nyonya memang tidak pernah melakukan kejahatan apapun!


__ADS_3

Amla meneguk teh melatinya sembari pikirannya terus saja melayang pada kejadian kemarin.


Kemarin, bertemu dengan Musi dan lalu dirinya menuju ruang bawah tanah, melihat Romi dan Erra di penjara, apakah kejadian dirinya di cekik oleh Romi itu juga nyata?


"Tidak!"


"Jika aku terus memikirkannya maka aku benar-benar bisa gila!"


"Apa aku mengigau? Tidak! Aku harus memastikan sesuatu, karena jika Musi adalah nyata tentunya kejadian di penjara itu pastilah juga..."


"Haaahhhh, apa yang sebenarnya sudah terjadi?"


Amla langsung saja membalut seluruh tubuhnya dengan selimut, memikirkannya saja mampu membuat tubuhnya bergidik ngeri.


Malam berganti pagi, tanpa sepengetahuan Amla pihak penyidik malah sudah bertamu ke rumahnya. Amla yang baru saja bangun dari tidurnya dibuat terkejut saat Musi memberitahukan bahwa ada pihak kepolisian ingin bertemu dengannya.


"Ada apa ini?" tanya Amla heran.


"Nyonya Amla, kami meminta izin anda untuk melakukan penggeledahan kediaman anda sekali lagi!" jawab ketua penyidik.


"Apa? Tapi kenapa? Atas dasar apa anda berani melakukannya?"


"Kami menerima laporan kemarin malam, bahwa Erra dan Romi di sekap di salah satu ruangan di kediaman anda!" ungkap penyidik.


"Apa? Tidak mungkin!"


"Bukankah darah kotor harus segera di tusuk supaya tidak menyebabkan penyakit, dan sebuah kecurigaan harus segera dituntaskan supaya tidak menyebabkan masalah di kemudian hari!"


"Kurang ajar!" umpat Amla geram, para penyidik itu dianggapnya semakin berani, tidak memandang lagi siapa dirinya. "Silakan cari saja! Tidak akan ada apapun yang kalian temukan!" berang Amla dengan berani.

__ADS_1


Ia marah karena semua orang seakan mencurigainya. Dan juga perihal Romi dan Erra, dirinya benar-benar yakin kalau keduanya tidak berada di kediamannya, Romi sudah dibawa oleh orang suruhan Ayaz dan dirinya tidak tau bagaimana nasib pria paruh baya yang miskin itu, sementara Erra... Terakhir kalinya ia menyuruh Dale untuk mengasingkan wanita itu, meski rencananya tidak sesuai apa yang dirinya harapkan tapi tentu saja Amla juga yakin kalau tidak mungkin Erra bisa kembali ke rumahnya. Dengan keadaan yang setengah gila, kaki di pasung semacam itu, tidak mungkin mengantarkan nyawanya kembali ke rumah ini, pikirnya.


"Apa itu artinya anda menyetujui penggeledahan?" tanya penyidik itu memastikan.


"Bukannya aku juga tidak akan bisa mencegahnya, dan lagipula bukankah benar apa yang kau katakan, darah kotor memang harus ditusuk supaya tidak menyebabkan penyakit di kemudian hari!" yakin Amla.


"Baiklah Nyonya, kami memang hanya perlu persetujuan darimu, kami sudah menyiapkan segalanya, anda hanya perlu duduk tenang dan melihat prosesnya saja!"


"Heh!" Amla tersenyum remeh, entah siapa lagi yang melaporkan hal gila ini, tidak ada habis-habisnya masalah datang padanya.


Cari saja! Kalian pikir akan menemukannya? Aku bahkan tidak tau bagaimana nasib mereka berdua, entah masih hidup atau sudah mati membawa ketololannya!


Lalu ketua penyidik itu mulai memerintahkan tim-nya untuk mengeledah kediaman Amla. Sesuai yang dilaporkan kemarin malam, pelapor mengatakan Romi dan Erra di sekap di sebuah ruang bawah tanah, ada sebuah pintu rahasia yang terletak di antara dapur dan taman belakang, pintu itu adalah akses menuju ruang bawah tanah yang di dalamnya berisikan sebuah penjara.


Menurut pelapor, di sanalah Romi dan Erra mendekam, sudah lama, sudah hampir lima tahun lamanya.


"Pintu ini terkunci Komandan!" ucap salah satu tim.


"Dobrak!" perintah ketua.


Brakkkkk... Brakkkkk...


Pintu itu begitu kokoh, sudah berapa kali di dobrak namun sayangnya tidak mudah.


"Kami minta kuncinya!" pinta ketua penyidik pada Amla.


"Aku tidak punya!" jawab Amla pasti.


"Ruangan apa ini?" penyidik itu menatap Amla penuh selidik dan juga penekanan untuk Amla jangan pernah mencoba bermain-main dengan mereka.

__ADS_1


"Aku tidak tau, itu adalah ruangan suamiku, kuncinya juga hanya dia yang tau!" jawab Amla yang lebih memilih menjual nama Sian, suaminya.


Yah meskipun sebenarnya ruangan itu memang milik Sian secara pribadi, namun tentunya Amla mengetahui di mana kuncinya.


Tidak akan terbuka dengan mudah, pintu itu hanya terlihat biasa dari luarnya saja, di dalamnya menggunakan besi yang tidak akan bisa dihancurkan dengan mudah.


"Anda jangan berbohong!" ancam penyidik.


"Jangan terus saja seakan menuduhku, kalian tau... Jika yang kalian tuduhkan padaku ini tidak benar, maka siap-siap saja kehilangan pekerjaan kalian!" ancam Amla balik.


"Mengapa anda begitu yakin?"


"Karena aku memang tidak pernah melakukan kejahatan apapun!" berang Amla.


"Tim!" seru penyidik. "Geledah kamar Nyonya Amla dan temukan kuncinya!" perintahnya.


Amla melotot tidak percaya, memang semakin berani dan tidak menganggap lagi dirinya.


"Kau!"


"Tidak perlu takut jika Nyonya memang tidak pernah melakukan kejahatan apapun!" ucap ketua penyidik seolah membalikkan apa yang baru saja Amla ucapkan.


"Bukankah jika apa yang anda katakan adalah benar, maka kami tidak akan menemukan apapun!"


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....


 

__ADS_1


__ADS_2