
“Benarkah?” tanya Sam, ia begitu terkejut saat sampai di kediaman keluarga Donulai langsung saja mendengar berita duka bahwa Nyonya Daslah sudah tiada.
“Sekitar tiga jam yang lalu kami baru saja mendapatkan kabar itu, apa Tuan Rangga ingin berangkat ke Itali?” tanya salah satu penjaga di kediaman keluarga Donulai itu.
Sam tampak berpikir lalu beberapa detik kemudian ia menganggu, “Siapkan keberangkatanku sekitar tiga jam lagi, aku akan pergi sebentar!” perintah Sam.
“Tuan Rangga hendak ke mana?”
“Aku akan mencari Ayaz!”
Para penjaga pun mengangguk, mereka juga berharap, sebelum Nyonya Daslah dikuburkan setidaknya pewaris satu-satunya keluarga Donulai itu bisa melihat sang nenek untuk terakhir kalinya.
Sam berlari cepat, ia menghidupkan mesin mobilnya dan menuju markas Marco lagi, ia akan menemui Rymi dan meminta Rymi untuk segera menghubungi Ayaz, bodohnya ia yang sampai hari ini pun belum juga mempunyai nomor ponsel Ayaz.
Satu jam berlalu, Sam sudah sampai di markas Marco, ia melihat Rymi dari kejauhan, wanita itu sedang melamun dan Sam langsung saja menghampirinya.
“Merve!” seru Sam dengan nafas tersengal.
“Ada apa?" heran Rymi, ia tampak acuh namun dalam hatinya juga sedikit senang karena Sam telah kembali.
Tadinya ia sempat murung karena salah satu penjaga markas mengatakan kalau Sam harus pergi.
"Cepatlah kau hubungi Ayaz!" pinta Sam.
"Ada apa?" tanya Rymi lagi.
"Neneknya, bibi Daslah sudah tiada, setidaknya sebelum jasad Bibi Daslah di kebumikan, bukankah seharusnya Ayaz melihat wajah itu untuk terakhir kalinya." terang Sam.
Rymi mengangguk paham, lalu tangannya langsung saja menghubungi Ayaz.
^^^"Ya!"^^^
"Ada yang ingin bicara padamu!"
Rymi kemudian memberikan ponselnya pada sam.
"Ayaz!"
^^^"Sam!"^^^
"Aku mengabarkan kalau nenekmu, Bibi Daslah sudah tiada, jadi apa kau akan ikut denganku ke Itali?"
Hening,
^^^"Aku harus membicarakannya dulu pada Yaren, aku bisa menghubungimu jika aku akan pergi."^^^
"Ayaz!"
Namun panggilan telepon itu sudah terputus, Sam menatap nanar pada panggilan yang telah berakhir itu, apakah Ayaz benar-benar tidak peduli dengan keluarganya, keluarga donulai? Yang meski tidak pernah membesarkannya namun bukankah darah tetaplah darah.
"Apa kau mau ikut bersamaku ke Itali?" tanya sama menawari Rymi.
__ADS_1
"Aku?" tunjuk Rymi pada dirinya sendiri, ia tidak percaya Sam akan menawarinya hal semacam itu.
"Kenapa aku?" tanyanya lagi.
"Itupun jika kau mau!" ucap Sam santai.
Rymi menggeleng pelan, "Ada-ada saja!" gumamnya pelan.
"Rymi!" seru Sam.
"Ya!"
"Apa kau bisa menjaga mereka untukku selama kepergianku ke Itali? Aku hanya bisa berharap padamu!" tanya Sam.
Rymi mengangkat kedua bahunya, ia menghela napas, "Kau dan Ayaz sama saja, selalu menyusahkanku!" gerutunya.
"Pergilah dengan tenang, tidak usah mengkhawatirkan mereka!" lanjutnya lagi.
Sam tersenyum hangat, lagi-lagi ia benar tentang Rymi, wanita itu hanya terlihat keras dari luarnya saja namun hatinya begitu lembut dan tidak akan pernah tega akan kesusahan orang lain.
"Buang senyummu itu dan langsung pergi! Kau pikir aku akan tertarik?" gerutu Rymi.
Padahal yang sebenarnya, ia memang sudah terbuai akan senyum manis seorang Samudra Rangga Donulai.
Sam masuk ke dalam markas, ia ingin menemui kedua orang tuanya, dirinya akan berpamitan sebentar, meski bagaimanapun kepergiannya kali ini ia tidak bisa langsung pergi begitu saja, ia bukannya tidak bisa berpamitan seperti tiga tahun yang lalu.
...***...
Lalu kakinya melangkah sendiri keluar, tujuannya entah mengapa hanya menemui Marco.
Marco sedang menata berbagai miniatur barang-barang mewahnya, ia terkejut saat menyadari Ayaz sudah berada tepat di dekatnya, "Ada apa?" tanyanya.
"Aku..." gugup Ayaz.
"Katakanlah!" pinta Marco.
"Daslah Donulai sudah tiada!" ucap Ayaz mengabarkan.
Marco sedikit terkejut, ia tahu Daslah adalah ibu dari wanita yang pernah dicintainya, dan hari ini ia mendengar Wanita itu sudah berpulang.
"Lalu?" tanya Marco.
"Aku tidak tahu harus apa!" ucap Ayaz dari raut wajahnya tergambar kebingungan.
"Pergilah!" ucap Marco.
Ayas mendongak, "Apa aku harus pergi?" tanya Ayaz sekali lagi.
"Lalu kau akan berdiam diri di sini saja?" tanya balik Marco.
"Sungguh aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa? Apa yang akan aku perbuat di sana? Harus menangis kah, harus merasa tidak terima atau aku malah senang akan kematian ini?" Ayaz jujur saja tentang apa yang dirinya rasakan, bolehkah ia berbagi pada seseorang yang katanya adalah Ayahnya itu.
__ADS_1
"Ajaklah Yaren bersamamu, katakan pada Jovan bahwa kau ingin mengajaknya ke Itali, untuk pertemuan terakhir pada jasad nenekmu." Marco memberikan saran.
Ayaz tampak semakin bingung lalu ia memejamkan matanya, dengan berat hati ia mengatakan, "Apa kau tidak akan ikut?" tanyanya pada Marco.
"Kau berharap aku menemanimu?" tanya balik Marco.
Pertanyaan selalu dijawab dengan pertanyaan lainnya, kekonyolan itu sudah tertanam sejak lama antaranya dan Marco, setiap kali berbincang dengan Marco pastilah selalu seperti ini.
"Aku tidak memaksa!" Ayaz tanpa acuh.
Marco menghentikan kegiatannya, "Baiklah jika kau sangat menginginkannya!" bibir itu terangkat, tersenyum pada Ayaz.
Marco mengerti, saat ini putranya itu sedang sangat membutuhkan dukungan bagaimana untuk menghadapi keluarga Donulai nantinya, karena mungkin jika dibandingkan dirinya Ayaz malah lebih membenci Donulai yang seakan tidak mau ambil tahu bagaimana kehidupannya dan Ibunya dulu.
Di samping itu Marco juga ingin mencari tahu mengapa Nindinya tidak bisa terselamatkan? apakah tidak ada kemampuan untuk orang-orang kaya seperti Nyonya Daslah untuk menyelamatkan Nindinya, meski tanpa bantuan Donulai.
Keduanya berkemas, Marco menyuruh Ayaz untuk menjemput Yaren di kediaman Jovan dan Ayaz pun setuju.
Di perjalanan Ayaz juga menghubungi Rymi meminta wanita itu untuk mengirimkan nomor Sam.
Satu jam berlalu Ayaz sudah sampai di kediaman Jovan untuk menjemput Yaren, namun kedatangannya langsung dicegah oleh pengawal di rumah Jovan. Ayaz dengan sabar dan mengatakan bahwa ada hal yang begitu penting yang harus dirinya sampaikan pada Yaren.
Salah satu penjaga itu mengangguk mengerti, namun ia tidak bisa langsung saja menuruti keinginan Ayaz, jadi iya berinisiatif untuk menghadap pada Jovan terlebih dahulu.
Ayaz harus menunggu setidaknya beberapa menit sebelum akhirnya penjaga itu kembali.
Ayaz dipersilakan masuk, dirinya langsung saja menuju pintu utama kediaman Jovan Dirga.
Cemir menyambutnya, Cemir mengatakan bahwa Yaren sedang berada di dapur, wanita itu langsung saja mengantarkan pria yang adalah kakak iparnya itu pada Yaren.
"Yaren!" seru Ayaz, saat melihat punggung wanita yang sangat dicintainya itu. Sepertinya Yaren sedang memasak sesuatu.
Yaren menoleh dan betapa terkejutnya ia melihat Ayaz sudah berada tidak jauh darinya.
"Ayas!" ucapnya gugup.
Yaren langsung saja menghampiri suaminya itu, ia mengatakan ada apa, Ayaz lalu menjawab bahwa kedatangannya kali ini adalah untuk menemui Jovan, meminta izin pada kakaknya Yaren itu untuk supaya bisa mengizinkannya bisa membawa Yaren pergi bersamanya.
"Apa kau yakin?" tanya Yaren meragu.
"Seharusnya!"
Lalu keduanya pergi menemui Jovan yang saat ini sedang berada di ruang kerja.
"Tok tok tok!" pintu diketuk.
Bersambung...
...Like, koment and Vote!!!...
__ADS_1