Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Amla.


__ADS_3

Yaren perlahan membuka matanya, ia merasakan begitu sakit di kepalanya, ia sadar kalau saat ini kondisinya tidak baik-baik saja.


Yaren menyesal karena tidak sengaja melupakan apa yang Ayaz pesankan padanya, dia terlalu ceroboh hingga berakhir seperti ini.


Terakhir kalinya, Ayaz masih tidak mengangkat panggilan telepon darinya, lalu jika ia diculik seperti ini, apa Ayaz akan mengetahui keberadaannya, apa Ayaz akan menyelamatkannya.


Yaren menangis terisak saat memikirkan itu, ia berpikir mungkin hidupnya akan berakhir sampai di sini saja.


Isakannya menyadarkan anak buah Sian yang menungguinya, pria itu menatap nyalang Yaren karena dinilai terlalu mengganggu.


"Mengapa? Apa kau menyesalinya?" tanya seseorang itu.


Yaren ingin berteriak, atau paling tidak memaki pria di hadapannya ini, namun mulutnya tersumpal kain, Yaren benar-benar hanya bisa menangis.


"Kau menunggu suamimu? Sama, kami juga sedang menunggunya, dia benar-benar mengantarkan nyawa jika sampai berani menginjakkan kakinya di sini. Hahahaha!" tawa anak buah Sian itu menggelegar memenuhi ruangan.


Yaren menggeleng cepat, ia tidak akan sanggup jika sampai harus kehilangan Ayaz, namun jika bukan Ayaz yang akan menyelamatkannya nanti, maka ia harus berharap pada siapa?


Apa hubungan orang-orang ini dengan Ayaz, sehingga bisa berkata seperti itu, seolah menginginkan nyawa Ayaz. Tidak, jangan, Yaren tidak akan bisa kehilangan Ayaz yang sebenarnya tanpa Yaren sadari, ia sudah jatuh cinta dengan suaminya itu.


Yaren semakin mengeraskan isakannya, dalam hatinya terus saja berdoa, semoga saja Tuhan menunjukkan kuasanya, semoga ada keajaiban yang bisa menyelamatkannya.


Sementara itu, bukannya mundur atau mencari aman saat seorang pengawal meneriakinya, Ayaz semakin melangkah maju, tangannya dengan pasti mengayunkan tinju ke rahang pria itu, menyerang dengan brutal hingga memicu keributan.


"Bugh, bugh,"


Satu persatu pengawal di rumah Sian mendekat, menyerang dan mengeroyok dirinya, namun Ayaz yang kini sedang mereka hadapi bukanlah Ayaz di empat tahun lalu, setidaknya ada belasan orang yang menyerang dirinya dan sayang sekali semua berhasil tumbang di tangan Ayaz.


Luka berat serta patah tulang setidaknya harus mereka dapatkan, sebagian pengawal yang mengenal dirinya begitu terperangah, tidak percaya bahwa seseorang yang mereka serang saat ini adalah orang yang sama, yang pernah mereka anggap tidak berharga dulunya.

__ADS_1


"Di mana kalian sembunyikan istriku?" teriak Ayaz.


Semuanya bungkam, entah karena masih setia pada Sian atau karena semua pengawal itu seakan tidak mampu lagi untuk bicara, darah segar tumpah dari hampir semua mulut mereka, Ayaz benar-benar memukuli mereka secara brutal tidak kenal ampun.


"Kau mencari istrimu?"


Suara langkah kaki menuruni tangga terdengar di telinga Ayaz, dilihatnya wanita berpakaian glamor dengan riasan tebal berjalan mendekat ke arahnya.


"Long time no see, Tampan!" ucap istrinya Sian menyapa, wanita itu juga masuk dalam daftar seseorang yang harus di bunuh bagi Ayaz.


"Cuih!" Ayaz meludah tepat di hadapan wanita itu, membuat wanita itu seketika menjadi murka atas perlakuan Ayaz.


"Aku menyambutmu cukup senang, namun beginikah balasanmu?" sindir wanita itu. Memakai dress selutut berwarna pink terang dengan pita di sampingnya, cahaya lampu semakin menyilaukan gemerlap swarovski yang menghiasi dressnya. Dari penampilan dan kelakuannya, Ayaz yakin, wanita ini masih sama, menjijikan!


"Di mana istriku?" tanya Ayaz sinis.


"Kau tau, aku selalu menyukaimu!" ucap wanita itu lagi. Namanya Amla, dibanding Sian, sebenarnya wanita itu masih cukup muda, dulu saat Ayaz masih tinggal di kediaman Sian, tidak jarang wanita itu ingin bertindak melecehkan Ayaz, beruntung saja tidak pernah terealisasikan.


Berkat mulut manisnya yang pandai bersilat lidah, Sian sungguh begitu mempercayainya, wanita itu serasa di atas angin karena perasaannya pada Ayaz tidak pernah diketahui oleh Sian.


Apa lagi saat ini, melihat perubahan Ayaz yang tumbuh dengan begitu gagahnya, ia juga sudah menyaksikan sendiri bagaimana Ayaz berkelahi hingga membuat tumbang orang-orang kepercayaan suaminya, sungguh demi apapun Amla menjadi semakin ingin memiliki Ayaz, matanya sudah tersihir akan ketampanan anak tirinya itu, baginya Ayaz yang dilihatnya sedang bermandi peluh saat ini sungguh begitu menggairahkan.


"Aku tanya, DI MANA ISTRIKU?" teriak Ayaz, ia sungguh geram jika hanya akan bercakap-cakap seperti ini, ingin sekali mencekik leher wanita ular di hadapannya ini sampai mati. Tapi, ia masih berharap istri dari musuhnya ini akan memberitahukan di mana keberadaan Yaren.


"Ow ow ow, kau menakutiku Ayaz, dulunya kau tidak sekeras ini, tapi lihatlah perubahanmu selama empat tahun, bisakah aku memegangnya?" tanya Amla, matanya mengerling nakal. Ia ingin sekali menyentuh dada bidang Ayaz, yang ditaksirnya pasti begitu sangat nyaman untuk dipeluk.


"Persetan!" umpat Ayaz, "Plakkk!" Ayaz menampar pipi Amla dengan keras, hingga bekas telapak tangannya terbentuk memerah di pipi wanita itu, Ayaz berharap wanita ular itu bisa segera bangun dari ketidaksadarannya. "Dasar ja*ang!" dengus Ayaz kesal.


"Sial, beraninya kau!" pekik Amla.

__ADS_1


"Aku bukan hanya berani menamparmu, membunuhmu dengan tanganku ini pun, akan aku lakukan, aku tidak punya banyak stok kesabaran, jadi... Aku tanya, di mana istriku?" ucap Ayaz,. masih sinis, matanya jelas saja selalu dipenuhi kebencian.


"Hahahahahaha!" Amla tertawa keras, bagai orang gila ia malah mengusap lembut bekas tamparan Ayaz di pipinya.


"Aku akan menghargai setiap sentuhanmu ini!" wanita itu tersenyum miris, "Kau selalu membuatku penasaran, hahahahaha!" pekiknya makin keras.


Ayaz menggeleng pelan, baginya percuma mengorek informasi dari wanita gila ini, ia mulai melangkah menyusuri ruangan lainnya, tidak peduli akan Amla yang baginya sudah setengah gila itu.


Namun, sebuah tangan menghentikannya, tangan itu bahkan kini sudah melingkar di perutnya. Ayaz memejamkan matanya sebelum membanting tubuh pemilik tangan itu.


"Aahhh!" teriak Amla kesakitan, saat Ayaz membanting tubuhnya dengan garang.


"Kau menyakitiku Ayaz!" ucap Amla lirih. Berharap Ayaz punya belas kasih dan sedikit memperhatikannya.


"Beraninya kau menyentuhku!" teriak Ayaz.


"Ayaz..."


Ayaz rasa dirinya harus mandi kembang tujuh rupa nanti setelah pulang dari sini, di sentuh oleh wanita semacam Amla, dirinya benar-benar tidak sudi.


Amla merasakan tulang punggungnya patah, bantingan Ayaz tadi memang cukup keras, Ayaz benar-benar tidak memandang dirinya yang seorang wanita, dengan tega memukulnya seperti ini.


Ayaz melangkah pergi, pria itu terus saja mencari keberadaan Yaren, merusak cctv yang bila mana ditemuinya untuk meminimalisir barang bukti. Meski ia pun tau, setelah ini, pasti dirinya tidak akan aman-aman saja.


Langkahnya sering kali terhenti kala beberapa pengawal yang ditemuinya pasti akan selalu siap untuk menyerangnya, Ayaz benar-benar melatih otot-otot tubuhnya malam ini dengan puas berkelahi.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2