
Ayaz menatap wajah istrinya dalam, mengapa yang ia rasakan begitu sakit saat Yaren mengatakan itu?
Ia cukup sakit saat Yaren memintanya untuk membangun sebuah rumah tangga yang bahagia, dulu di awal pernikahan, tujuannya ia menikah dengan wanita di hadapannya ini adalah hanya sebagai pemuas ranjang belaka, ia yang saat itu pernah berpikir akan melepaskan Yaren suatu hari nanti saat ia sudah tidak membutuhkannya, ia juga yang saat itu pernah berpikir untuk meninggalkan Yaren dengan mudah, nyatanya ia juga yang sangat tidak mampu melepaskan.
Yaren masih menatapnya penuh harap, jika Ayaz kali ini mengangguk, maka tidak ada lagi suatu hubungan yang harus diragukan, baik dari Ayaz ataupun Yaren.
Pelan Ayaz mengangguk, tubuhnya sedikit bergetar kala menyetujuinya, baginya di suatu pagi ini, bahkan lebih berat dari pada saat ia dan Yaren memutuskan untuk mengikat hubungan mereka dengan sebuah kata ijab dan qobul di hadapan penghulu dan para saksi yang datang saat itu. Pernikahan sederhana itu nyatanya sama sekali tidak menggetarkan hati Ayaz, namun saat ini hatinya, harus Ayaz akui, hatinya, seluruh hidupnya sudah benar-benar ia serahkan pada Yaren. Ayaz tidak akan pernah melupakan pagi ini, pagi di mana Yaren memintanya untuk mempertahankan hubungan ini dan hidup bahagia suatu hari nanti.
Aku akan membahagiakanmu, bagaimanapun caranya...
“Aku mencintaimu!” ucap Ayaz.
Yaren tersenyum, pagi ini juga, ia semakin yakin kalau ia dan Ayaz benar-benar saling mencintai.
Keduanya saling berpelukan lagi, masalah yang mereka hadapi ini, sebenarnya tanpa sadar malah semakin membuat keduanya menjadi lebih dewasa.
...***...
Rymi sungguh mengantuk, subuh tadi ia baru saja sampai di markas, Sam mempertemukan Ibu dan Ayahnya. Erra, wanita itu sepetinya cukup kaget dan seolah tidak menyangka kalau hari ini ia masih bisa dipertemukan kembali dengan sang suami. Dan semua itu berkat Sam, mungkin mereka benar-benar tidak percaya.
Namun karena sudah mengantuk berat, Rymi tidak memedulikan lagi, ia bergegas menuju sebuah kamar yang berada di Markas, ia hanya ingin mengistirahatkan otak dan tubuhnya, Rymi benar-benar lelah.
Sam pun sama, setelah mempertemukan kedua orang tuanya, ia juga mencoba memejamkan matanya, tertidur di kursi tidak jauh dari kamar yang tersedia untuk ayahnya itu.
Marco datang untuk melihat Romi, ia cukup kaget kala melihat Sam yang sedang tertidur di kursi, mengapa Sam bisa berada di sini pikirnya.
Lalu tangannya terulur membuka pintu kamar, ia melihat anak gadisnya tengah tertidur pulas, Marco mulai menebak mungkinkah semalam Rymi bersama Samudra? Pikirnya.
Mengatakan tidak mau, tapi geraknya cepat sekali? Dasar wanita!
“Rym...” serunya lembut.
Rymi tidak terganggu, ia terlalu lelah dan tidurnya benar-benar pulas.
Marco mendekat, ia memberikan tamparan lembut di pipi anak angkatnya itu.
“Hei, bangun!” ucapnya.
__ADS_1
Rymi menggeliat, wanita itu mengerjapkan matanya, dan mendapati ayah angkatnya itu dengan senyuman.
“Dad!” seru Rymi parau.
“Kenapa? Kau tidak pernah cerita! Kalau aku tidak ke sini pagi-pagi sekali, aku tidak akan mendapati kejutan ini!” sindir Marco.
Rymi menyeringit heran, tiba-tiba ia mengakui menjadi orang bodoh, ia tidak mengerti apa maksud perkataan Marco.
“Hemmm, ada something yang ingin kau akui mungkin?”
“Aku?” Rymi masih belum mengerti, kepalanya sedikit pusing karena tidur yang tidak cukup.
“ Ada apa?” tanya Marco lagi.
Rymi berpikir keras, ada apa? Apanya yang ada apa?
“Kau dan Rangga!” ucap Marco memberikan clue, atau mungkin lebih tepatnya untuk menyadarkan Rymi.
“Aaahhh!” Rymi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jadi karena itu. Pikirnya.
“Kau berkencan?” selidik Marco.
“Lalu? Apa dia punya nyali untuk menemui Ayahnya?” tanya Marco.
“Aku membantu menyelamatkan Ibunya, tidak lebih!” jelas Rymi. Dengan malas ia mengambil bantal dan memeluknya erat, ia masih ingin berlama-lama di tempat tidur, seharunya pekan ini dirinya bisa menikmati libur, namun berbagai masalah bahkan tak henti-hentinya menyambang, memaksanya harus ikut campur dan alhasil ia melewatkan lagi pekan liburnya.
“Hemmm!” Marco mengangguk teratur, tiba-tiba hatinya begitu tergelitik kala mendengar Rymi yang tidak mau mengakui.
“Bau darah?” tanya Marco, ia mengendus menajamkan indra penciumannya, memang benar bau darah, ia tidak salah lagi.
“Rymi terpaksa membuka lagi matanya, mendengar Marco mengatakan ‘darah’, Rymi jadi ingat bahwa ada sesuatu yang seharusnya ia urus sedari tadi, namun ia abaikan karena terlalu lelah.
Rymi menghembuskan napasnya berat, benar sekali masalah tidak hentinya menyambang. Membuat ia bahkan tidak bisa menikmati hidup, bahkan untuk waktu tidurnya yang berharga.
“Aku harus pergi untuk sesuatu!” ucap Rymi, ia mengambil jaket yang ia taruh di kursi, lalu memakainya, tak lupa pistol dan perlengkapan lainnya untuk ia selalu berjaga-jaga.
“Kau mau ke mana?” tanya Marco curiga.
“Aku membunuh orang lagi!” jawab Rymi tanpa bersalah.
__ADS_1
Marco memutuskan untuk ikut dengan putrinya itu, mau tidak mau jika sudah begini ia juga harus bertanggung jawab.
Rymi membangunkan Sam yang masih tertidur di kursi, Sam mendongak, ia kaget dan langsung terbangun kala merasakan sentuhan yang tidak lembut sama sekali itu.
“Aku harus mengurus sesuatu!” ucap Rymi, “Kau harus ikut, ini adalah tanggung jawabmu!” ucap Rymi.
Marco mengulum senyum tepat di belakangnya. Rymi tampak berbeda, kepedulian yang putrinya itu berikan pada Sam ia rasa benar sedikit berbeda.
Sam mengangguk, ia tidak berani melawan, mendengar suara tembakan semalam, ia tidak tau apa yang terjadi, namun yang pasti jika Rymi masih hidup dan masih sanggup berdiri tegak di hadapannya ini, maka pasti penjaga itulah yang tamat riwayatnya.
Lagi pun Sam belum melihat pria yang menjadi orang kepercayaan Amla itu semenjak ia turun dari mobil semalam.
“Daddy? Kau benar-benar banyak berubah sepertinya!” Rymi menyindir Marco karena Daddynya itu benarkah ingin ikut dengannya mengurus mayat.
“Aku ingin menjaga anakku ini, siapa tau ada yang ingin berbuat sesuatu padanya!” jawab Marco sembari matanya menatap garang Sam.
Mata Sam melotot, apa ia tidak salah dengar, yang benar saja!
Hei Pak, yang harus dikhawatirkan di sini adalah aku, aku tidak akan berbuat apapun, tapi jika anakmu ini, entahlah!
“Kenapa?” tanya Marco sinis.
“Ah, tidak! Tidak apa!” jawab Sam canggung. Sungguh, keluarga Rymi adalah keluarga yang mengerikan menurutnya.
Rymi melihat interaksi antara Marco dan Sam, sungguh perkenalan yang tidak terlalu baik.
“Ikut aku!” ucap Rymi pada Sam.
Namun saat ia melangkah, tiba-tiba Rymi juga teringat akan sesuatu. “Daddy!” serunya pada Marco.
“Hemmm!” sahut Marco acuh.
“Mobilku!” ucap Rymi, wanita itu nyengir kuda, dan Marco seketika sudah mengetahui apa maksud anaknya itu.
“Aku tidak mau!” tolak Marco.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...