
Sudah dua bulan lamanya Ayaz hidup di rumah hutan itu bersama Yaren, dia menjadi pengangguran kaya raya, kerjanya setiap hari hanya menemani sang istri, kadang menengok si bayi di dalam perut Yaren dengan alasan klasik, katanya supaya bayinya itu bisa lebih mengenalinya sebagai sang Daddy.
Kebutuhan hidupnya sudah tanggung oleh Marco. Ah ya, Daddynya itu pun sama pengangguran, mereka memang sudah terlalu banyak uang, jika Ayaz melebarkan sayapnya pada bisnis perhotelan, sementara Marco dia lebih tertarik untuk mengembangkan bisnis kulinernya.
Marco sebenarnya juga sudah mempunyai banyak bisnis untuk menunjang hidupnya, jadi tentu saja jatuh miskin adalah hal yang mustahil bagi pria paruh baya itu, sementara Rymi...
Wanita itu sedang bermalas-malasan, dia memang tinggal di rumah Marco, Marco kadang juga tidak mengerti mengapa ada wanita hamil yang benar-benar santai seperti putrinya itu.
Sam dan Rymi sudah menikah secara sirih, setelah mengantar Ayaz dan Yaren ke rumah hutan waktu itu, pulangnya Rymi langsung merengek pada Samudra untuk mereka segera menikah, Samudra setuju saja, namun karena ternyata Rymi tidak mempunyai identitas yang pasti alias penduduk gelap, jadilah Sam harus menikahi Rymi secara sirih dulu. Baru setelahnya nanti saat urus-urusan kewarganegaraan Rymi selesai, Sam berencana akan mendaftarkan pernikahannya dan Rymi secara hukum.
__ADS_1
Sudah berapa kali Marco menyarankan Rymi untuk melakukan yoga, atau olahraga ringan supaya nanti barang kali bisa sedikit membantu jika akan melahirkan, karena semenjak Rymi dan Yaren hamil, Marco memang sedikit banyaknya membaca beberapa artikel tentang parenting, dan olahraga itu sebenarnya penting untuk Ibu hamil. Namun Ibu hamil yang tengah mengungsi di rumahnya ini benar-benar ajaib, lain dari pada yang lain.
"Rym, kamu kalau tidak ada kegiatan, ya paling tidak ikut kelas senam ibu hamil, udah buncit seperti itu, biar nanti enteng lahirannya!" ujar Marco di suatu hari, dia sudah bagai emak-emak yang rempong mengurus anaknya yang akan melahirkan calon cucunya.
"Tidak mau!" sahut Rymi pasti, "Aku juga tiap malam olahraga, itu udah cukup aku capek!" tambahannya ambigu sembari terus mengunyah popcorn yang baru saja dibuatkan oleh Marco untuknya.
"Olahraga? Kamu sudah olahraga?" tanya Marco. Kok dirinya tidak tau, perasaan dia benar-benar tidak pernah sekalipun semenjak Rymi hamil melihat putrinya itu masuk ke ruangan olahraga di rumahnya ini.
"Olahraga apa?" tanya Marco penasaran. "Jangan olahraga yang berat-berat Rym, lakukan senam Ibu hamil saja!" usul Marco.
__ADS_1
"Tidak berat, malahan enak!" lanjutnya lagi.
"Ya sudah kalau enak, tapi ingat jangan yang berat-berat, dan juga Samudra ngawasin kamu kan kalau olahraga, kalau Sam tidak bisa mengawasi kamu, kasih tau Daddy, Daddy bisa bantu!" ujar Marco lagi, yang benar-benar tidak peka dengan olahraga yang Rymi maksudkan.
"Daddy ini!" dengus Rymi kesal, "Makanya cepat punya istri biar bisa diajak olahraga juga, gimana bisa diawasin Daddy kalau aku sama Sam olahraganya di ranjang!" sahut Rymi tanpa dosa dan kemudian dengan santainya berlalu.
Marco membulat kala sudah mengerti apa yang dimaksudkan Rymi, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengapa juga dia bisa tidak peka pikirnya.
Bak pukulan telak saat Rymi mengatainya begitu, Marco dengan helaan napas berat akhirnya berkata, "Sepertinya memang benar, ini efek aku yang begitu lama menjomblo!"
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....