Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ayo kita bicara!


__ADS_3

"DN Company." Vina memberikan secarik kertas undangan dengan sampul mewah nan elegan itu pada atasannya.


"DN Company?" heran Sian saat membaca undangannya, perusahaan baru itu? Sian memang pernah mendengar tentang perusahaan baru yang sudah berhasil menjarah di Negaranya beberapa pekan ini. Perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan itu mengundangnya untuk makan malam, ada apa ini?


Sebuah kesempatan langka, namun apa ada sesuatu dibalik ini semua?


"Kau boleh keluar!" ucap Sian pada Vina.


"Iya Pak!"


Sian kembali menatap undangan bersampul warna gold dipadukan merah terang itu, meneliti setiap detil kata-katanya, siapa selain perusahaannya yang beruntung mendapat kesempatan langka seperti ini?


"Kau!" tunjuk Sian pada orang suruhannya.


"Ya Tuan!"


"Selidiki undangan ini, perusahaan siapa saja selain perusahaanku yang mendapatkannya." titah Sian.


"Baik Tuan!"


...***...


"Jadwal Bapak hari ini, janji temu di cafe Green dengan Kepala Dinas Kesehatan jam sepuluh, setelahnya jam setengah dua belas siang, makan siang di Restauran Aldy's sekaligus pertemuan bisnis dengan pemiliknya, jam dua siang menghadiri undangan perayaan dua tahun berdirinya Rumah Sembuh di salah satu desa di pinggiran kota, lalu jam lima sore Bapak diminta menemui Tuan Donulai di Hotel Angkasa." ucap Rymi menyampaikan jadwal Bosnya itu, meski malas sekali rasanya karena misi yang sedang diambang kehancuran, namun Rymi harus tetap melakukannya sebelum semuanya diputuskan oleh Marco.


"Kau sepertinya tidak bersemangat! Masih niat bekerja?" sindir Sam.


"Maaf Pak, masih." jawab Rymi, sebisa mungkin menunjukkan semangatnya.


"Apa kau sedang ada masalah?" tanya Sam lagi.


"Tidak Pak!" jawab Rymi.


Sam mengedarkan pandangannya, tidak ada siapapun di ruangannya kecuali dirinya dan sang sekretaris itu.


"Katakanlah!" ucap Sam.


"Apa?" heran Rymi.


"Jika kau punya masalah, katakanlah! Jangan sampai mengganggu kinerjamu!"

__ADS_1


"Saya tidak apa Pak." sahut Rymi.


"Jika memang benar tidak apa, maka semangatlah dalam bekerja." tegas Sam.


"Baik Pak, sekali lagi saya minta maaf, saya tidak akan menunjukkan wajah tidak bersemangat saya lagi." ucap Rymi.


Semakin bertambah kesal saja dirinya, mengapa juga dirinya harus terjebak di suasana kantor macam ini, lebih baik menjadi pengeksekusi saja menurutnya, tidak harus dituntut peran semacam ini. Menyusahkan!


"Baiklah, persiapkan semua berkasnya, nanti kau juga harus ikut!" titah Sam.


"Baik Pak!"


Rymi berusaha tetap profesional meski dirinya sudah tidak niat lagi untuk bekerja.


Rymi keluar dari ruangan Bosnya, nama Rangga Donulai, targetnya itu sudah dilepaskan Ayaz, yang ada dipikirannya apa Marco tetap akan melanjutkan atau memilih berhenti juga. Sejak pulang dari rumah Ayahnya semalam Rymi belum juga mengetahui kabar terkini dari Marco, karena Ayahnya itu sama sekali belum menghubunginya.


Rymi duduk di kursinya, bayangan Ayaz yang tidak akan lagi mengikuti jalan mereka terus saja terputar ulang, tiga tahun bersama rasanya begitu sulit jika salah satunya terpisah. Apa Ayaz akan merasakan hal yang sama jika yang memilih berhenti adalah dirinya, Rymi tersenyum hangat untuk itu.


"Rangga Donulai, Rangga Donulai! Hemmm, pria itu pastinya mengetahui sesuatu." gumam Rymi.


Diambilnya sebuah foto dari laci meja kerjanya. Rangga Donulai, jika Marco berniat untuk melanjutkan semua ini, bisa saja dirinyalah yang diharuskan membunuh Rangga Donulai.


Foto Ayaz dan dirinya disimpan rapi kembali olehnya. Sungguh suatu yang berat jika dirinya sampai kehilangan Ayaz.


Mungkin, waktu kemarin ditinggalkan Ayaz menikah dirinya masih bisa berlapang dada menerima, namun jika Ayaz memutuskan pergi dari hidupnya mengapa rasanya dunia bagai mau berhenti saat itu juga.


"Hidupnya terlalu rumit, aku hanya bisa membantu untuk selalu mendukung keputusannya, pergilah Ayaz, jangan lagi melihat ke belakang, karena nyatanya hanya ada keraguan di belakangmu, maka jika sudah memutuskan untuk melangkah pergi, maka kau tidak boleh mundur, aku akan mendukung apapun keputusanmu." gumam Rymi.


Air matanya menetes kala mengucapkan itu, tiga tahun dirinya lalui bersama Ayaz, Ayaz yang mungkin hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat atau paling khusus seperti adik sendiri, namun bagi Rymi, Ayaz adalah separuh hidupnya.


Entah itu bisa dikatakan cinta atau tidak, tapi bagi Rymi, Ayaz harus bahagia, karena Rymi tidak bisa melihat kesedihan di mata lelaki itu.


Saat Ayaz memutuskan untuk menikah, Rymi menggantungkan harapan pada Yaren, berharap wanita itu bisa menjaga Ayaz, merawat Ayaz dengan baik, dan bisa mengurangi sedikit keras kepala sahabatnya itu.


Lamunan Rymi terbuyarkan saat suara dering telepon berbunyi, Rymi langsung saja mengangkatnya. Mengusap air matanya kemudian berbicara seolah tidak pernah terjadi apapun padanya.


"Iya Pak!"


^^^"Apa semuanya sudah siap?"^^^

__ADS_1


"Sudah Pak!"


^^^"Baiklah, sebentar lagi kita berangkat."^^^


"Baik Pak!"


Seseorang di seberang sana mematikan teleponnya, Rymi menghela napas berat. Kadang dunia hitamnya ini ada kala membuatnya ketakutan.


"Aku mohon, aku tidak pernah takut dalam melakukan kejahatan selama ini, tapi jika Rangga adalah seseorang yang begitu berarti dalam hidup Ayaz, maka akupun tidak bisa melukainya." gumam Rymi.


"Aku mohon, semoga Daddy mempertimbangkan misi kali ini, karena sepertinya aku juga harus menyerah." ucapnya lirih.


Kemudian wanita itu mempersiapkan berkas yang akan dirinya bawa untuk pertemuan-pertemuan penting yang akan disambangi Bosnya.


Sam masih bergelut dengan pekerjaannya, semalam dirinya sudah memutuskan untuk mengundang perusahaan Sian dalam silaturahmi hubungan kerja, dia ingin Sian berbangga hati bisa diistimewakan oleh perusahaan besar seperti DN Company. Sam yakin berita tentang suksesnya kerajaan bisnis Donulai pasti sudah Sian dengar, manusia gila harta seperti Sian pasti selalu tertarik dengan pembahasan bisnis yang begitu maju semacam itu.


Dan Sam tinggal membuat Sian tercengang saja kala mengetahui DN Company adalah salah satu anak perusahaan Donulai yang berpusat di Itali. Sehingga dengan begitu, Sam tidak perlu repot untuk mengajukan kerja sama dengan perusahaannya, Sam sungguh yakin apa yang akan dilakukan Sian setelah mengetahui kenyataan itu.


Sam sudah menjalankan pionnya, semakin mendekat ke arah raja, tinggal menunggu sang raja keluar dari jalurnya, maka selanjutnya dia bisa menyerang kapan saja.


"Pembalasan dendam dariku sudah dimulai Sian, kau akan membayarnya, itu pasti." gumam Sam.


Kini dirinya harus mencari keberadaan Ayaz, dan membujuk Ayaz untuk bisa berpihak pada Donulai, mereka pernah berjanji untuk membalaskan dendam bersama, dendam Ayaz yang secara senang hati Sam balaskan.


Drettt drettt,


Satu pesan diterima, sayangnya dari nomor yang tidak dikenal, dan Sam selalu saja malas untuk membukanya.


Sam melanjutkan pekerjaannya sembari menunggu waktu untuknya berangkat meninggalkan kantor. Namun beberapa menit berlalu sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal tadi ternyata menghubunginya.


Sam mencoba mengangkatnya, mungkin saja benar-benar penting.


"Hallo!"


^^^"Ayo kita bicara!"^^^


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2