Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
RH- AB


__ADS_3

"Keluarga?" gumam Yaren, siapa sebenarnya yang memberikan ini padanya, bahkan Yaren meski mengintip namun ia bisa dengan jelas melihat wajah itu tadi, dan seingatnya ia tidak pernah bertemu pria itu sebelumnya.


Dengan penasaran Yaren membuka kotak hadiah berwarna merah itu, ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang si pemberi.


Sebuah ponsel, yah... Sebuah ponsel yang cukup mahal pria itu hadiahkan untuk Yaren. bahkan ketika dihidupkan ponsel itu ternyata sudah lengkap dan siap pakai.


Yaren sedikit bingung, apa benar orang tadi mengenal dirinya?


Dilihatnya lagi kotak itu, Yaren menemukan sebuah amplop dan lalu membukanya.


Ternyata amplop itu berisikan sejumlah uang tidak kurang dari sepuluh juta. Yaren sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apa ada orang yang sepeduli ini padanya.


Yaren merasa tidak berhak menerima uang ataupun semua hadiah itu sedang dirinya saja tidak mengetahui siapa pemberinya.


Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu.


Sebuah surat terjatuh saat Yaren ingin menaruh kembali sejumlah uang itu di kotak.


Yaren memungutnya, namun ada yang menempel di surat itu, sebuah foto. Dan Yaren sungguh mengenali siapa orang yang berada di foto tersebut.


"Mama..." lirihnya.


...***...


Dokter keluar dari ruangan operasi, dengan pasti memangil, "Keluarga Tuan Marco Arash?" tanyanya.


"Saya Dok!" jawab Rymi cepat.


Ayaz ikut berdiri, Sam juga.


"Seperti yang kita ketahui, pasien saat ini dalam kondisi kritis, kecelakaan itu mengakibatkan cidera parah di kepalanya." jelas dokter yang menangani Marco.


"Lakukan Dok, lakukan apapun, selamatkan Daddyku." mohon Rymi. Ayaz kembali memeluk wanita yang nampak rapuh itu untuk membuatnya tenang.


"Tuan Marco, kehilangan banyak darah. Sedang ternyata darah beliau termasuk darah yang sangat langka, apa diantara kalian ada yang memiliki darah yang sama?" tanya Dokter itu.


"RH- AB!" ucap Rymi sembari menggeleng pelan, di mana ia akan mendapatkan darah langka itu.

__ADS_1


Wanita itu lemas dan terjatuh, itu berarti nyawa Daddynya benar-benar diujung tanduk.


"Iya, RH- AB, di rumah sakit ini juga tidak ada stok darah langka tersebut, jadi mohon diskusikan dengan keluarga terlebih dahulu, dan diharapkan secepatnya." ucap Dokter itu lagi.


"RH- AB?" tanya heran Ayaz sembari memapah Rymi kembali duduk, Ayaz seolah tidak percaya bahwa darahnya yang juga langka ternyata sama dengan darah Marco.


"Ayaz, bagaimana ini?" tanya Rymi, wanita itu benar-benar kalut.


Rangga juga tidak bisa berbuat apa-apa, seandainya saja ia memiliki darah yang sama, atau paling tidak RH-, mungkin akan ia coba untuk mencocokkan, meski belum tentu bisa melakukan transfusi darah.


"Rym..." seru Ayaz.


"Kenapa?" tanya Rymi.


"Darahku sama." aku Ayaz, Rymi mendongak tidak percaya, matanya menatap Ayaz dalam.


"Benarkah?" tanya Rymi memastikan.


"Iya!" sahut Ayaz.


Rymi langsung saja menarik tangan Ayaz menuju ruang untuk donor darah, ia tidak bisa menunggu lama.


...***...


"Ini gila, jadi... Anak siapa itu?" tanya Argantara, pria paruh baya itu tidak percaya akan apa yang baru saja disaksikannya.


"Lebih baik Tuan tanyakan secara pribadi dengan Raisa." pinta Dokter Amri.


"Menanyakannya, heh!" Argantara tersenyum miris, entah bagaimana dirinya harus menanyakan hal semacam itu pada putri bungsunya. Saat ditanya soal kehamilannya saja, Raisa menjadi sangat pendiam, tidak ada yang bisa bicara dengannya untuk saat ini, tak terkecuali Wana istrinya.


"Anak-anak sudah dewasa, kadang ada kala mereka bertindak diluar batasnya, saya tidak mengatakan bahwa anda kurang mengawasinya namun jika sudah terjadi seperti ini ada baiknya jika anda bersikap tegas." ucap Dokter Amri, ia sebenarnya cukup puas akan kehamilan Raisa, secara tidak langsung apa yang diperbuat oleh Argantara pada Yaren benar-benar terbalaskan.


"Apa kau yakin itu bukan anak pria itu?" tanya Argantara.


"Pak Jovan?" tanya Dokter Amri memastikan.


"Iya, Jovan!"

__ADS_1


Dokter Amri menggeleng pelan, lalu mengambil sebuah map dari laci meja kerjanya.


"Pak Jovan sudah mendatangi saya beberapa hari yang lalu, setelah tuduhan Tuan yang mendatanginya di kantor waktu itu, Pak Jovan sudah berinisiatif untuk membuktikan bahwa janin yang dikandung Raisa benar-benar bukan anaknya." jelas Dokter Amri sembari memberikan map yang berisikan hasil tes DNA.


"Ini bisa saja direkayasa kan?" tanya Argantara, pria paruh baya itu benar-benar bingung akan situasi saat ini, apa iya Raisa seburuk itu hingga bahkan putrinya itu sendiri tidak tau siapa yang menghamilinya.


Lagi-lagi Dokter Amri menggeleng, "Bisa anda cek sendiri keaslian data ini, di rumah sakit ternama seperti ini seharusnya merekayasa suatu laporan itu sudah termasuk tindak kejahatan bukan, dan saya rasa... Seumur hidup saya akan menghindari hal semacam itu." jawab Dokter Amri tenang.


"Ini gila, benar-benar gila!" berang Argantara. Pria paruh baya itu kemudian keluar dari ruangan dokter Amri tanpa permisi, ia hanya ingin cepat pulang ke rumahnya, dan menanyai Raisa tentang bayi itu, ia akan memaksa Raisa mengaku, mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya.


Dokter Amri tersenyum penuh arti, di sisi lain ia puas akan apa yang dilihatnya, melihat Argantara sungguh kalut karena perbuatan anak bungsunya, namun di sisi lainnya, ia masih belum bisa bertemu Yaren. Mengingat wanita itu, Dokter Amri kembali merindu.


Bagaimana kabar Yaren, apa wanita itu baik-baik saja, sungguh Dokter Amri benar-benar ingin tau.


Sementara Argantara, selang beberapa menit ia sudah sampai di rumah mewahnya. Melangkah cepat menuju kamar Raisa. Dilihatnya ada Wana yang setia menunggui anak bungsunya itu.


Beberapa hari ini Raisa memang tidak mau makan, bahkan Raisa enggan bicara pada siapapun, putri bungsunya itu sepertinya benar-benar tidak terima akan kehamilannya.


"Sayang... Kamu dari pagi tadi belum makan apapun lho." bujuk Wana, di atas nakas sudah ada makanan kesukaan Raisa yang bahkan ia buat sendiri.


Tidak ada jawaban, Raisa lebih memilih termenung, arah pandang matanya menatap pantulan dirinya di kaca.


"Biarkan saja Ma, biarkan dia tidak usah makan." ucap Argantara garang. Dengan geram pria paruh baya itu menarik tangan Raisa dan menghempaskan tubuh putrinya itu ke ranjang.


"Papa!" pekik Wana. "Jangan kasar-kasar, udah tau Raisa lagi hamil." bela Wana.


Selalu saja begitu, Wana selalu saja membela putrinya, hal itu jualah yang membuat Argantara semakin geram.


"Papa tanya sekali lagi Raisa, anak siapa itu?" tanya Argantara dengan nada keras.


"Papa... Udah tau ini anaknya Jovan, seharusnya kita itu pergi ke rumah Jovan untuk minta pertanggungjawaban, Papa gimana sih?" protes Wana, wanita itu sungguh percaya kalau Raisa benar-benar hamil anaknya Jovan, bahkan wanita itu bagai mendapat rezeki nomplok dengan kehamilan Raisa.


"Mama sungguh percaya kalau itu anaknya Jovan? Coba Mama tanya dia, apa dia berani mengakui kalau itu anaknya Jovan, ayo tanya..." geram Argantara, ia tau Raisa tidak akan pernah mengatakan kalau bayi itu adalah anak Jovan, karena itu memang bukan.


"Papa..."


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2