
"Dia sudah tiada Rym... Aku selalu mencintainya, aku tidak bisa kehilangan dia Rym..." adu Yaren pada Rymi, hanya Rymi lah yang bisa dia ajak bicara saat ini, berharap adik dari suaminya itu bisa mengerti perasaannya.
"Yaren..."
"Mengapa dia pergi secepat itu? Katakan mengapa Rym..."
"Yaren..."
Air mata itu kembali meluncur bebas, hati Yaren benar-benar sakit, kepalanya sudah pening karena sedari tadi dia tidak bisa berhenti untuk menangis, dan lagi pula tidak ada makanan yang masuk ke mulutnya, jadi dia benar-benar seperti orang yang sangat menderita.
"Yaren, kau harus makan?" pinta Rymi sedari tadi menyuruh Yaren makan, bahkan tangannya sudah terulur untuk menyuapi Yaren, namun Yaren enggan menanggapi bantuannya.
"Tidak ada alasan lagi untukku hidup Rym, mengapa Ayaz tidak membawaku juga, aku juga ingin mati!" ratap Yaren. Benar-benar seolah dunia milik berdua, serasa dirinya memang mau mati karena kepergian Ayaz yang tiba-tiba itu, Yaren benar-benar merasa lebih baik dirinya pergi ikut bersama Ayaz menemui kematian dari pada harus menanggung hidup dalam kesendirian, padahal jika disuruh mati menyusul Ayaz mungkin juga raganya tidak akan berani. Budak cinta memang suka keterlaluan mengenai tingkat kebodohan.
"Sekarang aku sudah tidak bisa lagi menyentuhnya, dia sudah pergi!"
"Mengapa, mengapa Ayaz membuatku mencintainya sedalam ini, mencintainya hingga mau menggila?"
Dasar Ayaz, mengapa kisah cintamu harus ada drama semacam ini? Aku kan jadi ikut sedih!
"Yaren, tapi kau harus tetap makan, hari akan berganti dan kau akan tetap menjalani hidupmu, untuk itu kau butuh makan!" ucap Rymi.
__ADS_1
Yaren menggeleng lagi, "Tidak Rym, aku tidak mau makan?"
"Yaren, tapi kau harus makan!"
"Tidak Rym, aku benar-benar tidak lapar!"
Rymi menggerutu kesal dalam hatinya, mengapa dia harus menghadapi orang keras kepala seperti Yaren, kalau bukan karena Ayaz jangan harap dia mau berada di posisi serba salah semacam ini.
"Yaren..."
"Rymi... Tolong jangan memaksaku, aku benar-benar tidak bisa makan apapun!" tegas Yaren.
Percayalah, saat ini hal yang paling ingin Rymi lakukan adalah mengumpat, namun sebisa mungkin ia tahan karena mengingat Yaren menderita seperti itu juga karena dirinya, Ayaz dan juga Marco.
"Aisshhh, aku benar-benar sakit kepala, rasanya menghadapi orang bodoh ini serasa kepalaku mau pecah!" gumam Rymi menggeram, dia duduk di sofa menjauh dari Yaren, hanya dengan melihat wajah menyedihkan Yaren saja dia sudah kesal sepenuh jiwa dan raga.
"Baiklah baiklah, ini tidak akan lama Rym!" Rymi mencoba menghibur diri.
"Aisshhh! Si gila itu kenapa juga tidak muncul di hadapan istrinya tadi,menyusahkan saja! Aku benar-benar ingin sekali mencekik lehernya itu hingga tewas, beraninya dia datang di acara pemakamannya sendiri!" gerutu Rymi sangat pelan, ia kesal dengan Ayaz dan juga Yaren.
"Cukup satu saja aku punya saudara gila sepertinya, jangan lagi ada! Semoga anak Yaren dan si gila itu tidak menyusahkanku nanti!" gerutunya lagi tak habis-habis.
__ADS_1
Rymi melihat Yaren yang kembali termenung, rasanya ada kesal bercampur dengan kasihan, namun karena Ayaz yang tadinya terlihat di pemakaman sementara setelahnya Yaren pingsan karena memikirkan pria yang dikatainya gila itu, ia lebih banyak kesalnya pada Ayaz.
"Yaren, kau benar ingin mati?" tanya Rymi tiba-tiba.
"Apa?" tanya balik Yaren, ia cukup heran dengan pertanyaan Rymi.
"Aku tanya, memangnya kau benar ingin mati ya? Mau menyusul Ayaz, kau baru saja bilang begitu tadi?" tanyanya lagi memperjelas.
"Kalau bisa!" jawab Yaren sembari menyeka air matanya.
"Kalau begitu mati saja!" sahut enteng Rymi.
"Apa?" tanya Yaren memastikan, adik iparnya ini bukannya menghiburnya malah membuat hati dan perasaannya semakin sengsara.
"Iya mati saja! Tapi itu juga kalau kau berani!" lanjut Rymi, ia hanya main-main sih, karena cukup tergelitik karena pernyataan Yaren yang ingin mati menyusul Ayaz, apa sebegitu cintanya?
Dasar budak cinta!
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1