
Hari ini Amla diberikan kabar bahwa pihak penyidik akan memeriksa kediamannya. Menanyakan pada beberapa pengawal, bagaimana keseharian hidup Dale Adrie.
Amla sedikit gugup, namun ia begitu yakin, apa lagi pagi-pagi sekali ia sudah melakukan briefing terlebih dahulu pada semua pengawal di rumahnya. Menyuruh semuanya untuk bungkam jika ditanyai tentang Dale Adrie.
Para pengawal itu menurut, do hadapan Amla mereka akan menjadi seekor kelinci yang sangat jinak, tapi lihat saja nanti, ketua mereka juga sudah melakukan briefing, bahwa mereka akan membeberkan fakta yabg sebenarnya.
Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan tugas ini, tunggu Ayah pulang nak... Istriku... Setelah ini, aku akan berhenti dan memulai hidup baru dengan kalian. Rekan-rekanku... Tunggu aku, sebentar lagi kalian akan bebas, aku berjanji...
Ilham meneteskan air mata saat melihat beberapa penyidik mulai memasuki kediaman Amla, orang-orang yang dirinya anggap bisa memudahkan langkahnya itu tampak begitu tegas dan berwibawa.
"Ham, apa kau yakin?" tanya ketua pengawal yang biasanya mereka panggil dengan sebutan 'Dan'.
"Harus!" jawabnya, "Yang sedang kita perjuangkan ini adalah keadilan!" ucapnya berapi.
"Yah kau benar, aku juga ingin Tuan kita kembali dengan tenang."
Tak lama, terdengar pengumuman kalau semua pengawal harus berkumpul di aula.
"Semuanya, siap?" tanya ketua pengawal.
"SIAP!!!" jawab semuanya serentak.
"Dengar, wanita itu adalah pembunuh Tuan yang sebenarnya, maka untuk mengungkapkannya kita butuh kerja sama tim yang baik, setelah ini... Kita benar-benar akan menyatakan perang, apa kalian siap?"
"Siap!"
"Masing-masing dari kalian memiliki hak untuk bicara, jadi kematian Tuan dan juga kematian Dale, tidak bisa kita biarkan begitu saja."
Semuanya setuju, mereka akan mengikuti skenario dari Amla, namun di tengah jalan siapa yang akan tau kejutan apa yang akan mereka berikan pada Amla.
Semua pengawal bergegas untuk menuju aula, Amla juga sudah berada di sana bersama dengan rombongan pihak penyidik, sedang berbincang-bincang mungkin sedang mencoba menyakinkan kalau dirinya benar-benar tidak terlibat.
Dari raut wajahnya Ilham bisa membayangkan itu. Ilham tersenyum miris. Meski ia juga terpaksa berpihak pada Rymi namun baginya apa yang ia lakukan ini juga tidak terlalu buruk, anggap saja membalaskan semua dendamnya dan rekan-rekannya pada Amla.
Mereka semua dikumpulkan, diberi tahu bahwa mereka akan diselidiki terkait kasus pembunuhan berencana yang menimpa rekan mereka Dale Adrie, sebagian pengawal berusaha untuk menampilkan ekspresi terkejut seakan tidak mengetahui kabar itu, mengikuti apa yang diperintahkan oleh Amla.
Penyidik meminta izin supaya Amla bisa meminjamkan mereka tiga ruangan untuk mereka melakukan introgasi.
Amla mengangguk setuju, dan dengan senang hati menyediakan ruangan yang diminta.
__ADS_1
"Apa kami bisa memulainya?" tanya pihak penyidik meminta izin.
"Silakan Pak!" sahut Alma.
Ia tidak termasuk orang yang akan dilakukan introgasi, Amla tersenyum miring menganggap dirinya benar-benar hebat.
Untuk bertahan hidup, kadang memang harus memerlukan sesuatu untuk dikorbankan, bukankah nyawaku ini terlalu berharga...
Amla tersenyum senang, ia menikmati setiap prosesnya. Satu persatu pengawal dipanggil, dan Amla menyaksikan itu tanpa rasa curiga sedikitpun.
...***...
"Hahahahaha!!!"
Rymi tertawa terbahak-bahak di Markas, ia sedang menonton live acara penyidikan itu, Ilham memang sudah merancang semuanya, untuk membuktikan bahwa ia benar-benar bekerja.
Satu kamera tersembunyi Ilham pasangkan di dekat Amla, sementara tiga lainnya ia pasangkan di tiap-tiap ruangan yang menjadi ruangan introgasi. Rymi kali ini harus memuji cara kerja Ilham.
Lihatlah nanti apa yang akan mereka lakukan pada Amla, paduan kerja sama antara Rymi dan Ilham nyatanya benar-benar efektif.
Sam juga berada di Markas, entahlah menjadikan kedua orang tuanya sebagai alasan namun yang lebih tepat mungkin dirinya belum bisa berpisah dari wanita pujaannya ini.
"Kau senang sekali?" tanya Sam, ia memberikan satu gelas kopi untuk Rymi, kemudian duduk tak jauh dari wanita itu.
"Yah, kau bisa lihat sendiri kan wajah percaya dirinya itu?" tunjuk Rymi pada layar televisi yang menampilkan rekaman kegiatan Amla saat ini.
"Aku juga senang, tidak sabar melihat kehancurannya." sahut Sam.
Ia mengamati rekaman itu, dan beberapa detik kemudian matanya membulat karena menangkap sesuatu. "Rym... Kau..."
"Kenapa?"
"Apa kau sedang siaran langsung?" tanya Sam, ia benar-benar tidak percaya Rymi akan melakukan itu. Kali ini jika Ilham dan Rymi berhasil maka Amla akan mengalami kehancuran sehancur-hancurnya.
Wanita itu tanpa ragu dan senang hati saja mengangguk, "Bukankah itu lebih efektif dari pada menunggu pihak kepolisian yang mengungkapnya? Reaksi yang akan didapatkan Amla bisa lebih memuaskanku." ucap Rymi.
Sam menggeleng, cara kerja wanita itu, memang benar-benar tepat sasaran.
Lalu keduanya benar-benar menonton acara penyidikan itu dengan khidmat, Rymi akan terus mengawasi kerja Ilham.
__ADS_1
Namun, beberapa menit berlalu Rymi merasakan hal lain pada tubuhnya. Ia merasakan perutnya bermasalah, seperti berputar lalu putaran itu tak lama berpindah menyesakkan dadanya.
Rasanya tidak nyaman sekali, air liurnya seketika menjadi pahit, dan beberapa detik kemudian "Hueekkk..." Rymi ingin muntah.
"Rym... Ada apa?" tanya Sam panik.
Ia bingung dengan apa yang terjadi pada Rymi, dan yang lebih parahnya lagi Rymi baru saja meminum kopi yang dirinya berikan, ia takut Rymi tidak bisa minum sembarangan hingga menyebabkan rasa sesak dan muntah, namun seingatnya ia pernah melihat Rymi minum kopi beberapa kali dan tidak pernah mengalami hal semacam ini.
Dengan rasa ingin muntahnya Rymi bangkit, dengan cepat ia menuju kamar mandi, dan benar saja sesampainya di sana ia langsung saja memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Huweekkk..."
"Huweekkk..."
Sam menyusul, ia benar-benar kalut, takut terjadi sesuatu dengan wanitanya.
"Rymi..." panggilnya dari luar sembari mengetuk pintu.
"Rym..."
"Huweekkk..."
"Rym, kau kenapa?" tanya Sam.
"Rym..."
Di dalam, mungkin sampai seluruh isi perutnya habis karena tidak ada lagi yang bisa Rymi muntahkan, barulah Rymi bisa berhenti. Perutnya benar-benar sakit dan badannya pun melemas.
Dengan gontai ia membuka pintu, dan dilihatnya ada Sam yang langsung saja memapahnya.
"Kau kenapa?" tanya Sam. Ia mengusap peluh di kening Rymi, sepetinya muntah-muntah tadi benar-benar menguras tenaga.
"Tidak tau..." ucap lirih Rymi, namun seperdetik kemudian ia tersadar, dan langsung melepaskan diri dari Sam. "Samudra... Apa yang kau berikan di minumanku?" Rymi menatap Sam curiga, ia benar-benar tidak habis pikir kalau benar Sam yang melakukannya.
Apa mungkin dia memiliki dendam padaku, jadi dia melakukan ini?
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1